{"id":116,"date":"2026-01-25T10:05:15","date_gmt":"2026-01-25T10:05:15","guid":{"rendered":"https:\/\/yulizalyunus.com\/?p=116"},"modified":"2026-01-26T04:18:19","modified_gmt":"2026-01-26T04:18:19","slug":"masjid-sebagai-basis-akidah-dan-ideologi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/2026\/01\/25\/masjid-sebagai-basis-akidah-dan-ideologi\/","title":{"rendered":"Masjid sebagai Basis Akidah dan\u00a0Ideologi"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Oleh: Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo (Pengajar di IAIN-IB dan Mantan Pengurus DMI Sumbar)<br>Dimuat Harian Haluan,Jumat, 04 May 2012 <a href=\"https:\/\/wawasanislam.wordpress.com\/2012\/05\/07\/masjid-sebagai-basis-akidah-dan-ideologi\/\">https:\/\/wawasanislam.wordpress.com\/2012\/05\/07\/masjid-sebagai-basis-akidah-dan-ideologi\/<\/a> <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Eksistensi masjid dipan\u00addang sebagai basis akidah, dibenarkan karena tempat bersujud\/beribadat kepada Allah SWT. Tetapi masjid juga dipandang sebagai basis ideo\u00adlogi, dibetulkan pula, karena efektif difungsikan masyarakat menjadi pusat kebudayaan. Namun secara fenomenalogis, terdapat pe\u00adrilaku, menjadikan masjid basis radikalis, bagai\u00admana pula kedudukannya itu? Se\u00adpertinya ada jawaban dalam sambutan Wakil Presiden Boediono saat membuka Muk\u00adtamar VI Dewan Masjid Indo\u00adnesia (DMI) dihadiri 1000 peserta DMI se-Indonesia, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 27 April 2012 lalu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wapres, mematri fungsi masjid dari pespektif akidah disebutnya sebagai basis spiritual umat Islam, terkandung maksud sebagai pusat ibadah. Dari perspektif ideologi, disebutnya masjid sebagai institusi sentral dalam per\u00adadaban Islam dan wahana untuk memfasilitasi berbagai pemberdayaan dan penguatan kapasitas umat. Justru yang menarik dan me\u00adn\u00adjadi icon pemberitaan nasional adalah harapannya masjid harus dijaga agar tidak jatuh ke tangan radikalis yang me\u00adnye\u00adbarkan per\u00admu\u00adsuhan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kalimat \u201cmasjid jangan jatuh ke tangan radikalis\u201d, meng\u00adingatkan bangsa kepada bebe\u00adrapa peristiwa, di an\u00adtaranya peristiwa naas yang terjadi di sebuah masjid kawasan Cirebon, Jawa Barat. Masjid yang berada di areal Markas Kepolisian Resor Cirebon itu, secara ideal berada di bawah pengawasan ketat dan aman, justru di situ meledak bom, saat \u201cAllahu Akbar\u201d ber\u00adgema memulai rakaat pertama ibadat shalat Jumat, 15 April 2011 lalu. Banyak jemaah terluka, bah\u00adkan Kapolres Cirebon sendiri turut menjadi korban. Ini satu fenomena radikalis yang teroris dilansir media massa secara luas yang membuat pembaca berucap \u201cmasya Allah\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam perspektif akidah yang santun di dalam mem\u00adfungsikan masjid, dimung\u00adkinkan fenomenanya seperti ungkapan Ketua Umum Pe\u00adngurus Pusat DMI Goodwill Zubir, masjid harus berfungsi sebagaimana mestinya, sesuai ajaran agama. Namun se\u00adbaliknya di pihak aliran keras tadi, apakah fenomena pele\u00addakan ini, termasuk akidah dan ideology juga? Banyak komentar, itu satu bentuk paham, yang prilakunya ra\u00addikal dan tindakannya mem\u00adperlihatkan fenomena te\u00adrorisme.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Masjid sebagai basis akidah dan ideologi masya\u00adrakat banyak ditentukan paham keagamaan yang di\u00adanut. Paham itu sub\u00adstansinya adalah pemikiran mendasar yang dipegang. Justru ideologi merupakan pemikiran paling mendasar. Pemikiran itu ada di dalam hubungan dengan kehidupan, manusia dan alam, dan tidak dibangun dari pe\u00admikiran pemilik paham lain, selain dalam basis kelompok sendiri. Dalam aspek lain disebut juga ideologi itu dengan akidah rasional (\u2018aqidah \u2018aq\u00adliyah). Sedangkan aqidah juga pemikiran men\u00addasar, lahir dari sebuah proses berpikir, namun di dalam Islam, aqidah mem\u00adberikan pemahaman bahwa di balik semuanya ini (kehi\u00addupan , manusia dan alam) ada wujud Allah swt. Allah tempat kembali semua urusan sebagai tindakan tawakkal (penyerahan total) sesudah ada upaya manusia.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Radikal<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Secara sederhana, sikap radikalis di masjid, secara sederahana sering merona, saat pembicaraan dan pema\u00adhaman agama lepas dari praktek kendali iman yang santun dan damai. Baru mulai berbicara nada keras, dari awal sudah memasang kuda-kuda, siapkan peluru kendali untuk membidik dan menembak jitu kiri kanan. Jamaah akhirnya sakit kepala. Apalagi dalam khotbah, tak dapat bertanya. Tepaksa diam tapi di dada berkata-kata. Kalau berlebihan sakit kepala, adakalanya sembahyang Jum\u00adatnya diulang dengan salat Zuhor, lantaran kutbah pan\u00adjang, komentar lepas dan nada keras, tak nyaman seba\u00adgai bagian dari ibadat salat Jumat.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sesungguhnya yang dapat menyulut paham radikal, secara tersembunyi (ada yang menyebut syirik khafi), se\u00admuanya harus diselesaikan manusia. Ada pendapat, sikap itu secara sadar tidak meya\u00adkini wujud Allah di balik semuanya itu, dan tidak meyakini Allah sebagai tem\u00adpat kembali semua urusan, setelah habis upaya. Karena itu dapat dicatat faktor pe\u00adnyulut paham radikalisme agama setidaknya: Pertama, faktor paham keagamaan. Ada aspek pemikiran dalam pa\u00adham ini, \u201csenantiasa berpikir agama saja, umat Islam akan mundur\u201d. \u201cKalau ingin maju, unggul dan punya daya saing, keluar dari ikatan agama\u201d. Paham ini akan melahirkan paham sekularisme, me\u00admisahkan agama dari seluruh aspek kehidupan. Sebaliknya ada paham, kalau ingin maju harus serba agama, siapa yang longgar memegang agama apa\u00adlagi melanggar dibabat saja. Pemikiran ini me\u00adlahir\u00adkan sikap fun\u00adda\u00admentalisme. Kedua paham ini (sekularisme dan fun\u00addamen\u00adtalisme) bila subur dalam masyarakat dapat memu\u00adnculkan sikap keras dan budaya fasad (kon\u00adtra produktif).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua faktor pendidikan. Biasanya akibat dari pen\u00addidikan tidak dapat mela\u00adhirkan karakter yang santun. Pendidikan agama dan penge\u00adtahuan kenegaraan (Pancasila dan UUD-45) atau sekarang 4 pilar kehidupan berbangsa, belum membentuk karakter. Ketiga faktor politik kotor. Fenomena politik sekarang, apakah pilcaleg, pilpres, pilkada atau pertarungan partai politik di pemerintahan, bukan membela yang benar, tetapi membela beruang. Hukum berpihak kepada yang bermodal, demokrasi corak kekuatan-kekuatan asing. Isu HAM dan lingkungan dan politik pembodohan rakyat berjadi-jadi. Fenomena ini membuat masyarakat skeptik. Semakin terjepit, akan mela\u00adhirkan sikap radikal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keempat faktor ekonomi. Sisi kecenderungan praktek leiberalisme ekonomi, modal dan investasi berputar pada kelompok kaya. Owner basis ekonomi itu pun tidak pula pemiliknya anak bangsa, tetapi kekuatan asing yang bekolaborasi dengan oknum orang di politik dan peme\u00adrintah. Rakyat kehilangan kesempatan, hak sharing modal dan keuntungan ber\u00adbagi, baik dalam bentuk uang maupun lahan (Minang: tanah ulayat). Kelima faktor sosial. Masyarakat di mana pun pasti ada konflik. Konflik terjadi karena ada tabrakan kepentingan pribadi atau kelompok sosial di satu pintu. Mungkin juga karena pendis\u00adtribusian hak tidak seimbang dengan kewajiban sosial.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keenam faktor psikologis. Timbul gejala kejiwaan pri\u00adbadi atau kelompok, seder\u00adhanya saja karena gagal mendapat kepentingan. Orang atau kelompok orang yang gagal dalam hidup dan kehi\u00addupannya, lalu sempat ditarik dan mendapat tunggangan kuda tarik politik berhaluan keras, akan mudah terhasut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Keenam faktor yang menye\u00adbabkan lahirnya paham radi\u00adkalis yang berpotensi mela\u00adhirkan teror tak kecuali di masjid, semestinya mendapat perhatian dalam pem\u00adber\u00addayaan masya\u00adrakat. Masjid dapat difungsikan sebagai basis \u201cpenjernihan akidah\u201d (di samping pusat ibadah) dan \u201cpenyehatan mental ideologi\u201d (di samping pusat kebudayaan dan peradaban). Upaya ini, melahirkan kehidupan ber\u00adbangsa dan beragama mem\u00adperlihatkan suasana santuan dan damai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Santun dan Damai<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Islam itu substansinya damai. Prioritas Nabi Saw, diutus untuk menyempur\u00adnakan akhlak mulia (dalam esensi adat: sopan- santun, berbudi baik dan berbaso indah) adalah untuk keda\u00admaian umat dan rahmatan lil\u2019alamin. Masjid didirikan pertama dalam hijrah\u00adnya Nabi SAW, sebagai basis akidah dan pusat per\u00adadaban (bagian dari ideologi). Kare\u00adnanya kembali kepada sam\u00adbutan Wapres dalam Muk\u00adtamar VI DMI tadi, semakin menarik. Ia juga mengharap: \u201ckita berke\u00adpentingan mesjid terpelihara, dan dalam pemak\u00admurannya (ta\u2019mir al-masjid) terus dijaga jangan jatuh kepada penyebar gagasan yang tidak Islami seperti radika\u00adlisme, fanatisme dan sectarian yang sesukanya menghem\u00adbuskan permusuhan dalam intern paham keagamaan dan antar paham umat yang punya kepercayaan berbeda, juga sering memicu kegiatan provo\u00adkatif yang bisa berujung pada tindak radikal dan berbuat teror serta fasad.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Islam mengajarakan keru\u00adkunan dan sangat toleran. Sebaliknya dari masjid di Indonesia hampir mencapai satu juta teramasuk mushal\u00adla, masyarakat Islam ditan\u00adtang memperlihatkan Islam dengan karakter damai serta penuh rahmat Allah berasis di masjid. Karena dulu dalam kejayaan peradaban misalnya di Minangkabau, surau (mas\u00adjid\u2013mushalla) efektif menjadi simbol budi luhur, diprakarsai ninik mamak dan ulama serta dikontrol cadiak pandai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun Indonesia yang sangat majemuk: banyak agama, suku dan etnik bahkan banyak paham Islam sendiri, menafsirkan Islam dengan karakter damai itu pun ber\u00adbeda seperti berbedanya me\u00adman\u00addang sikap radikal dan moderat termasuk pemaknaan jihad tanpa memanggul sen\u00adjata dan atau langsung meng\u00adusung dan membidik senjata. Dalam mengungkap pan\u00addangan itu, melahirkan komen\u00adtar-komentar\/pendapat ber\u00adbeda. Di antaranya, lahir pandangan seperti dari pa\u00adham penegak khilafat, mema\u00adn\u00addang anjuran seperti tadi sebagai fenomena sikap Islam phobia. Dapat dituduh keras pula menyingkirkan yang dipandang keras. Mereka khawatir pemimpin tidak memahami dalam tanda dua petik \u201cberjihad\u201d, dan dipo\u00adsisikan sebagai radikal dan terrorism, yang menurut pa\u00adham ini tak harus dia\u00adlamat\u00adkan kepada kelompoknya. Justru sebaliknya memahami \u201cjihad\u201d mulai dari gerakan sederhana, misalnya dalam ta\u2019mir masjid, di sampang dulu sebagai basis perjuangan menumpas penjajah, juga dimulai dari merendahkan suara dan pengeras suara dalam mengumandangkan ceramah, khotbah, dzikir, bacaan Alquran anak TPA, doa dan sebagainya, agar tetangga yang non muslim dan atau muslim dengan paham agama yang berbeda tenteram pula di rumahnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu satu di antara karakter Islam santun dan damai. Suara seperti ini dalam Muk\u00adtamar DMI pun Wapres menuai protes dari organisasi Islam, DPR, organisasi pemu\u00adda dan sebagainya (Haluan, 28 April 2012). Ini sebenarnya juga berakar dari ideologi dan akidah yang santun dan damai dikumandangkan dari masjid. Tentu saja semua harapan dan gerakan ini di garda terdepan adalah Dewan Mas\u00adjid Indonesia. Semoga Allah bersama kita.***<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Oleh: Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo (Pengajar di IAIN-IB dan Mantan Pengurus DMI Sumbar)Dimuat Harian Haluan,Jumat, 04 May 2012 https:\/\/wawasanislam.wordpress.com\/2012\/05\/07\/masjid-sebagai-basis-akidah-dan-ideologi\/ Eksistensi masjid dipan\u00addang sebagai basis akidah, dibenarkan karena tempat bersujud\/beribadat kepada Allah SWT. Tetapi masjid juga dipandang sebagai basis ideo\u00adlogi, dibetulkan pula, karena efektif difungsikan masyarakat menjadi pusat kebudayaan. Namun secara fenomenalogis, terdapat pe\u00adrilaku, menjadikan masjid&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[12,13],"tags":[],"class_list":["post-116","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ideologi-politik-kerajaan","category-wawasan-islam-aqidah-syariah"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=116"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":119,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/116\/revisions\/119"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=116"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=116"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=116"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}