{"id":141,"date":"2026-01-26T03:43:58","date_gmt":"2026-01-26T03:43:58","guid":{"rendered":"https:\/\/yulizalyunus.com\/?p=141"},"modified":"2026-01-26T03:47:57","modified_gmt":"2026-01-26T03:47:57","slug":"penguatan-wawasan-kebangsaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/2026\/01\/26\/penguatan-wawasan-kebangsaan\/","title":{"rendered":"Penguatan Wawasan Kebangsaan"},"content":{"rendered":"\n<h2 id=\"rasa-ber-sumatera-barat\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Rasa Ber-Sumatera Barat<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">\/\/ Yulizal Yunus<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Menarik pandangan M.Shadiq Pasadigoe dalam hal penguataan wawasan kebangsaan. Ia menyebut sebagai sangat penting dengan langkah nyata. Kepentingannya dirasakan untuk menangkal paham-paham ekstrim, intoleransi, radikalisme, terorisme dan ideologi lainnya yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Pandangan itu ditegaskannya dalam banyak event \u201cDialog Kebangsaan\u201d tingkat Nasional dan di Daerah. Terakhir ditegaskan dalam \u201cDialog Kebangsaan\u201d dihadiri Ormas Keagamaan, di Asrama Haji, 8 Oktober 2025.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Wawasan kebangsaan merupakan&nbsp;cara pandang setiap warga negara setidaknya yang secara substansial meliputi&nbsp;nilai aspek sumpah pemuda: <em>pertama <\/em>cara pandang \u201cbertanah air satu tanah air Indonesia\u201d, <em>kedua,<\/em>&nbsp;cara pandang \u201cberbangsa satu bangsa Indonesia\u201d&nbsp;dan <em>ketiga, <\/em>cara pandang \u201cberbahasa satu berbahasa Indonesia\u201d. Cara pandang sebagai konsepsi \u201cKetahanan Nasional (TANNAS)\u201d itu dibangun di atas nilai-nilai dasar kebangsaan yang sudah final,&nbsp;bersumber dari \u201cEmpat Konsesus Dasar Bangsa\u201d dan atau 4 Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika. Nilai kebangsaan ini dalam penerapannya perlu disosialisasikan terus menerus untuk membentuk \u201cbudaya hukum\u201d dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam konteks penerapan nilai-nilai kebangsaan tadi, <strong>M. <\/strong><strong>Shadiq Pasadi<\/strong><strong>goe<\/strong>&nbsp;Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi NasDem&nbsp;yang membidangi \u201chukum, HAM, Keimigrasian, pemasyarakatan serta penaggulangan terorisme\u201d, pernah bertegas-tegas. Ketegasannya itu pernah diungkapnya&nbsp;dalam event \u201cSosialisasi 4 Pilar Kebangsaan\u201d&nbsp;di UIN Imam Bonjol 26 Februari 2025. Ketegasanya ini, secara faktual berbekal pengalaman kebangsaannya dan pengalaman&nbsp;empiriknya pernah dua kali periode menjadi Bupati Kabupaten Tanah Datar \u201cyang lakek tangannya\u201d nyata melakukan perubahan dan pembaharuan di kawasan itu. Pandangan empiriknya itu menekankan bahwa \u201cperinsip-perinsip nilai kebangsaan tak dapat diragukan lagi, efektif&nbsp;menjadi pedoman utama dalam pengambilan kebijakan untuk menata kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Justru penguatan&nbsp;kesadaran bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dengan menerapkan nilai-nilai 4 Pilar Kebangsaan itu,<strong>&nbsp;<\/strong>kenyataannya seperti yang disinggung <strong>M. <\/strong><strong>Shadiq Pasadi<\/strong><strong>goe <\/strong>senantiasa mendapat tantangan dari&nbsp;derasnya arus budaya luar dan populer sebagai dampak era globalisasi&nbsp;dan kemajuan ilmu&nbsp;pengetahuan dan&nbsp;teknologi&nbsp;informasi&nbsp;yang&nbsp;sekarang&nbsp;sudah memasuki \u201cawal metaverse\u201d periode \u201ckecerdasan buatan &#8211; <em>Artificial Intellegence<\/em>&nbsp;(AI)\u201d. Bahkan dampaknya itu terkesan pada perkembangan dan perubahan dalam masyarakat warga, yakni memudarnya rasa kebangsaan, rasa kebersamaan, rasa kekeluargaan, rasa persatuan dan kesatuan wilayah,&nbsp;terutama di kalangan generasi muda.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dampak global dan budaya populer di antaranya dirasakan memudarnya nilai-nilai kebangsaan, khusus dapat dilihat pada feneomena Sumatera Barat dalam perspektif apresiasi kesatuan wilayah daerah provinsi Sumatera Barat sebagai bagian kesatuan wilayah NKRI. Faktanya,&nbsp;tampak berkurangnya apresiasi terhadap kesataun wilayah dan nilai-nilai budaya daerah,&nbsp;asal usul, semangat gotong royong dan solidaritas sosial keluarga antar hubungan daerah. Dulu rasa ber-Sumatera Barat itu tinggi, sekarang terasa,&nbsp;justru rasa kedaerahan kabupaten kota melebihi&nbsp;rasa ber-Sumatera Barat, sehingga&nbsp;rasa sepayung ber-Sumatera Barat&nbsp;itu melemah. Seperti tercerabut karakternya dari akar&nbsp;kearifan lokal yang sejak dulu menerapkan nilai kekeluargaan dan kerabat dan nilai gotong royong. Semua nilai ini bersumber dari adat budaya Minangkabau \u201cAdat Basandi Syara\u2019 &#8211; Syara\u2019 Basandi Kitabullah (ABS-SBK)\u201d dan karakter etnis lainnya dalam masyarakat. Kalau terjadi bencara alam di salah satu kabupaten, bersama-sama \u201cberhambauan\u201d saling membantu, namun sekarang direspon kabupaten dan kota lainnya, tergambar dalam ungkapan sepontan : \u201citu bendana bukan di kabupaten dan kota kami\u2026\u201d, terkesan hilang spirit rasa saling bantu dan semangat gotong royong itu dalam konteks satu kesatuan wilayah Provinsi&nbsp;Sumatera Barat. Bahkan berdamak pada kesatuan wilayah Masyarakat Hukum Adat (MHA) seperti kesatuan wilayah Luhak&nbsp;Nan Tigo dengan Rantaunya \u201cNagari-nagari yang ada\u201d sebagai satu kesatuan wilayah kultur Kelarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago. Justru integritas wilayah kultur dalam Tambo Adat Minangkabau, bahwa \u201cluhak dan rantau tidak terpisah&nbsp;satu sama lain\u201d, namun sekarang seperti kebanyakan pandangan \u201ckekinian\u201d banyak pihak, bahwa luhak ya luhak dan rantau ya rantau, terpisah dan jalan sendiri-sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tak dapat dimungkiri Sumatera Barat memiliki kekayaan nilai-nilai <strong>kearifan lokal Minangkabau<\/strong><strong>&nbsp;<\/strong>yang sarat nilai-nilai luhur&nbsp;bersumber dari ABS-SBK dilaksanakan dengan \u201c<em>A<\/em><em>d<\/em><em>at<\/em><em>&nbsp;Salingka Nagari\u201d <\/em>(ASN)&nbsp;dan \u201cSako Pusako Salingka Kaum\u201d 4 suku di nagari, serta kekayaan nilai-nilai kekeluargaan,&nbsp;kebersamaan dan semangat gotong-royong: \u201c<em>barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang<\/em><em>\u201d <\/em>lainnya. Nilai ABS-SBK ini menjadi sumber hukum adat \u201cUndang Dalam Nagari\u201d&nbsp;dalam kerangka \u201cUndang Nan-4 di Minangkabau\u201d. Nilai-nilai ini sudah menjadi fondasi jauh sebelum kemerdekaan dan merupakan penguatan nilai-nilai&nbsp;wawasan kebangsaan&nbsp;mengisi kemerdekaan, dari perspektif cara pandang&nbsp;satu kesatuan wilayah, bangsa dan bahasa&nbsp;sebagai esensi Wawasan Nusantara.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mencermati fenomena berkaitan penguatan wawaan kebangsaan (wawasan nusantara), benar kata M. Shadiq Pasidgoe bahwa \u201cDialog Kebangsaan\u201d memiliki fungsi strategis, menyadarkan masyarakat penting didukung kearifan lokal bersumber adat budaya. Secara konkrit dalam penguatan wawasan kebangsaan, khusus&nbsp;kembali&nbsp;penguatan <strong>rasa ber-Sumatera Barat<\/strong>&nbsp;(s<em>ense of belonging<\/em>&nbsp;terhadap daerah&nbsp;sebagai kesatuan wilayah NKRI) dan <strong>rasa ber-Keminangkabauan<\/strong>&nbsp;(<em>sense of <\/em><em>Minangkabau <\/em><em>identity<\/em><em>, <\/em>banyak unsur masyarakat meminta khusus diadakan \u201cDialog Kebangsaan\u201d memecahkan persoalan \u201c<strong>Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Rasa Ber-Sumatera Barat<\/strong>\u201d itu, dengan arah penguatan pelaksanaan nilai-nilai adat&nbsp;budaya lokal, untuk mengembangkan wawasan kebangsaan dalam hal cara pandang penguatan kesatuan rasa berwilayah bertanah air satu, kesatuan&nbsp;budaya dan bahasa yang Bhinneka Tunggal Ika. Langkah ini bagian strategi&nbsp;membangun wawasan kebangsaan yang kokoh dan bermartabat.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Merespon aspirasi masyarakat tadi, penting ada forum spasifik \u201cDialog Kebangsaan\u201d tentang \u201c<strong>Penguatan Wawasan Kebangsaan dan Rasa Ber-Sumatera Barat<\/strong>\u201d. Justru untuk tema ini,&nbsp;banyak permintaan dari unsur strategis: unsur datuk penghulu, unsur ulama dan cadiak pandai\/ generasi muda parik paga di nagari&nbsp;(Tungku Tigo Sajarangan),&nbsp;di luhak dan di rantau &#8211; nagari-nagari. Tentu saja forum dialog itu sekaligus mengisi dan merekrut aspirasi masarakat dalam gerakan \u201cSosialisasi 4 Pilar Kebangsaan\u201d. Dalam pelaksanaan forum dialog ini spesifik ini &nbsp;tertumpang harapan kepada&nbsp;bapak M. Shaidq Pasodique Anggota Komisi XIII DPR RI Fraksi NasDem, untuk memfasilitasinya. Alternatif tempatnya&nbsp;di Padang Ibu Kota Provinsi Sumatera Barat, dihadiri unsur generasi muda &#8211; cadiak pandai, pemangku adat dan unsur ulama dari luak nan tigo, yakni Tanah Datar, Agam dan 50 Kota serta Rantaunya \u201cNagari-Nagari\u201d dan mewakili unsur diaspora lainnya.**<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasa Ber-Sumatera Barat \/\/ Yulizal Yunus Menarik pandangan M.Shadiq Pasadigoe dalam hal penguataan wawasan kebangsaan. Ia menyebut sebagai sangat penting dengan langkah nyata. Kepentingannya dirasakan untuk menangkal paham-paham ekstrim, intoleransi, radikalisme, terorisme dan ideologi lainnya yang dapat mengancam keutuhan NKRI. Pandangan itu ditegaskannya dalam banyak event \u201cDialog Kebangsaan\u201d tingkat Nasional dan di Daerah. Terakhir ditegaskan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[12],"tags":[],"class_list":["post-141","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-ideologi-politik-kerajaan"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=141"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":142,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/141\/revisions\/142"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=141"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=141"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=141"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}