{"id":193,"date":"2026-01-29T07:53:07","date_gmt":"2026-01-29T07:53:07","guid":{"rendered":"https:\/\/yulizalyunus.com\/?p=193"},"modified":"2026-01-29T08:07:38","modified_gmt":"2026-01-29T08:07:38","slug":"rahmat-dalam-perbedaan-8","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/2026\/01\/29\/rahmat-dalam-perbedaan-8\/","title":{"rendered":"Rahmat dalam Perbedaan (8)"},"content":{"rendered":"\n<p>Surat Kabar Harian Singgalang, 10-19 September 2009, Hikmah Ramadhan (10 Artikel <em>Beersambung<\/em>)<\/p>\n\n\n\n<p>\/<strong>\/ Yulizal Yunus<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Indahnya kebersamaan, lain pula enaknya dalam perbedaan. Puasa mengajarkan kebersamaan (<em>ta\u2019awun<\/em>) tanpa memandang kaya miskin. Yang kaya bantu miskin. Yang beriman bantu <em>mu\u2019alaf<\/em>&nbsp;(baru beriman). <em>Laa tafarraqu<\/em>&nbsp;(jangang kamu pecah). Tidak boleh <em>iftiraq<\/em>&nbsp;(berselisih\/ pecah belah) tapi<em>&nbsp;Ittifaq <\/em>(menyamakan pendapat\/ sependapat). Namun Islam juga tidak melarang berbeda pendapat (<em>al-ikhtilaf<\/em>). Bahkan <em>ikhtilaf <\/em>itu dinyatakan sebagai <em>rahmat <\/em>(kasih sayang). <em>Mu\u2019allaf <\/em>pun disayangi.<\/p>\n\n\n\n<p>Tentang berbeda pendapat sebagai kasih sayang dikatakan Islam, dipakai dalam adat Minang (<em>syara\u2019 mangato adat mamakai<\/em>). Kata orang arif Minang: <em>basilang kayu dalam tungku\/ di situ api mako iduik <\/em>(bersilang kayu dalam tungku, saat itu api menjadi hidup). Ulama besar Minang seperti Syeikh Muhammad Dalil bin Muhammad Fatawi, pimpinan ulama tua yang moderat dalam rapat 1000 ulama di Padang 19 Juli 1919, bermakam di mihrab Masjid Raya Ganting Padang, memposisikan \u201c<em>perbedaan<\/em>&nbsp;(<em>al-ikhtilaf<\/em>)\u201d dan \u201ckesamaan pandang\u201d (<em>ittifaq<\/em>). Katanya: \u201c<em>umat Islam boleh berbeda ke dalam (internal) sa\u2019at memecahkan persoal-persoalan agama, tetapi keluar (eksternal) menghadapi penjajah diperlukan ittifaq\/ bersatu)<\/em>\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Rapat 1000 ulama di Padang 19 Juli 1919 yang dipandu Dr. Schrieke itu mengagendakan 40 masalah agama yang tak pernah reda-redanya menjadi wacana perdebatan umat (<em>khilafiyah<\/em>). Termasuk soal \u201cmasalah <em>ru\u2019yat<\/em>&nbsp;(melihat bulan) dan <em>hisab<\/em>&nbsp;(melakukan penghitungan dengan ilmunya) &nbsp;dalam kerangka <em>isbat<\/em>\/ penetapan awal puasa dan hari raya <em>\u2018id al-fithri<\/em>\u201d. Sejak dulu perbedaan itu tetap ada. Tetapi tidak secanggih sekarang media (cetak dan elektronik) mengekspose perbedaan paham dalam penentuan <em>hilal<\/em>&nbsp;awal puasa Ramadhan dan penentuan <em>\u2018id al-fithri<\/em>. Ulama memahami paham-paham dan madzhab yang dianut umat. Dipahami, ada perbedaan dan ada persamaan. Tidak boleh dipaksakan menyamakan pendapat dalam paham berbeda. Tidak boleh menghembuskan perbedaan yang dapat jadi meicu konflik dan membuat bingung orang yang tidak berilmu tentang yang diperdebatkan. Di dalam perbedaan itu dirasakan ada <em>rahmat<\/em>\/ kasih sayang.<\/p>\n\n\n\n<p>Perbedaan yang sama masih dirasakan sekarang. Ada empat kelompok paham yang terkesan berbeda, yang dalam pikiran awam (<em>common sence<\/em>): \u201cmana yang mau diikut\u201d dalam hal penentuan puasa awal Ramadhan dan <em>\u2018id al-fitri<\/em>&nbsp;secara <em>hisab<\/em>&nbsp;dan <em>ruk\u2019yah<\/em>. <em>Pertama<\/em>&nbsp;<em>tarekat naqsyabandiyah <\/em>disebut berpaham puasa dan berbuka (berlebaran\/ <em>\u2018id al-fitri<\/em>) lebih awal (dahulu dari orang banyak), <em>Kedua <\/em>&nbsp;<em>tarekat &nbsp;sattariyah <\/em>disebut berpaham puasa dan lebaran <em>kudian<\/em>&nbsp;(sesudah orang banyak). Dua paham ini tahun 2009, diberitakan media masih begitu, <em>naqsyabandiyah <\/em>lebaran 1 Syawal 1430 H Sabtu, 19 Spet 2009, dan <em>sattariyah <\/em>Minggu baru menilik bulan. Sementara <em>ketiga, <\/em>Muhammadiyah terkesan kekuatannya pada hisab dan <em>Keempat, <\/em>NU terkesan kekuatannya pada ru\u2019yat menjadi kelompok paham tengah dalam melaksanakan puasa dan lebaran. Ada kalanya bersamaan dan adakalanya berbeda waktu awal puasa dan lebaran. Suatu ketika pemerintah sepaham dengan Muhammadiyah dan kadang dengan NU. Tahun ini dilansir berita, pemerintah ikuti Muhammadiyah dan Menag RI pastikan lebaran Minggu, 20 Sept 2009, meski harus menunggu hasil sidang <em>isbat<\/em>&nbsp;(penetapan) 1 Syawal 1430 H.Masyarakat banyak, tidak harus mempersoalkan perbedaan itu dan tidak harus bingung. Yang lebih penting ketetapan hati dan pilih yang mana yang diyakini. Sebab yang agama adalah keyakinan itu dan <em>istiqamah<\/em>&nbsp;(punya ketetapan hati)<em>.<\/em>&nbsp;Untuk memilih dapat menggunakan bantuan guru dalam kelompok pahamnya, melihat orang banyak, atau dalami ilmunya.***<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Surat Kabar Harian Singgalang, 10-19 September 2009, Hikmah Ramadhan (10 Artikel Beersambung) \/\/ Yulizal Yunus Indahnya kebersamaan, lain pula enaknya dalam perbedaan. Puasa mengajarkan kebersamaan (ta\u2019awun) tanpa memandang kaya miskin. Yang kaya bantu miskin. Yang beriman bantu mu\u2019alaf&nbsp;(baru beriman). Laa tafarraqu&nbsp;(jangang kamu pecah). Tidak boleh iftiraq&nbsp;(berselisih\/ pecah belah) tapi&nbsp;Ittifaq (menyamakan pendapat\/ sependapat). Namun Islam juga&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-193","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-wawasan-islam-aqidah-syariah"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=193"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":201,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/193\/revisions\/201"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=193"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=193"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=193"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}