{"id":195,"date":"2026-01-29T07:57:31","date_gmt":"2026-01-29T07:57:31","guid":{"rendered":"https:\/\/yulizalyunus.com\/?p=195"},"modified":"2026-01-29T08:06:54","modified_gmt":"2026-01-29T08:06:54","slug":"budaya-memberi-maaf-9","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/2026\/01\/29\/budaya-memberi-maaf-9\/","title":{"rendered":"Budaya Memberi Maaf (9)"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Surat Kabar Harian Singgalang, 10-19 September 2009, Hikmah Ramadhan (10 Artikel <em>Beersambung<\/em>)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>\/\/ Yulizal Yunus <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong><\/strong>Memberi maaf, budayakan (jadikan prilaku). Itu budaya (perilaku) Islami. Memberi maaf, sebelum orang lain susah dan tergopoh-gopoh meminta maaf. Prilaku \u201cyang banyak\u201d membiasakan meminta maaf atau menunggu orang minta maaf. Bahkan ada orang, mempunyai kamus \u201c<em>tiada maaf bagimu\u201d.<\/em>&nbsp;Hebat betul orangnya. Allah swt saja suka memberi maaf. Disebut dalam Al-Qur\u2019an, di antaranya (1) <em>\u2018afa \u2018ankum <\/em>(QS 2:187), Allah memberi maaf dalam konteks penyadaran manusia, sulit menahan nafsu, (2) <em>\u2018af Allah \u2018anhum<\/em>&nbsp;(QS 3:155), Allah memberi maaf dalam konteks penyadaran manusia mudah digoda setan, (3) <em>ya\u2019fu \u2018an katsiirin <\/em>(QS 42:34), sebagian besar Allah memberinya maaf, dalam konteks penyadaran manusia sering tersalah, bahkan (4) <em>la ta\u2019tadziru <\/em>(QS 9:66), Allah memfirmankan tak usah minta maaf, dalam konteks penyadaran agar sadar dari kekakafiran (engkar) setelah beriman. Kuncinya, setelah sadar dari rayuan dan memperturutkan nafsu, tergoda setan dan sering salah, \u201c<strong>taubat<\/strong>\u201d dan \u201c<strong>istighfar<\/strong>\u201d kepada-Nya. Nanti di akhirat, Allah swt, si kafir (engkar) tidak diberi lagi kesempatan minta maaf (QS 16:84).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Allah saja amat pemberi maaf, kenapa manusia punya kamus \u201ctiada maaf bagimu\u201d?. Allah menyadarkan, memberi maaf labih baik, di antaranya: (1) \u2026<em>hum yaghfiruun <\/em>(QS 42:39), Allah menyadarkan, mereka memberi maaf, karena pernah marah, (2) <em>\u2018Ufia lahu min akhiihi\/ <\/em>mendapat maaf dari saudaranya<em>&nbsp;<\/em>(QS 2:187), Allah dalam konteks \u201c<em>qishash<\/em>\u201d (hukum kriminal pembunuhan) menyadarkan, memberi maaf kepada pembunuh lebih baik dari pada membalas membunuh. Bersabar dan memberi maaf lebih baik dari pada membalas (QS 42:39). Yang memberi maaf dan yang mendapat maaf sama-sama bersikap baik dan saling menghormati.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prof. Dr. Sirajuddin Zar, MA (2009) menganalisis \u201cmemberi maaf\u201d lebih mudah dari \u201cminta maaf\u201d. Katanya: \u201cAl-Qur\u2019an menyebut lebih baik memberi maaf, berarti Al-Qur\u2019an memotivasi mengambil cara yang lebih mudah. Kalau ada yang lebih mudah, kenapa mencari cara yang sulit\u201d. Disadari memberi maaf, dipastikan tidak akan ada lagi kesalahan yang tersisa. Tetapi meminta maaf, sulit mencari-cari orang untuk meminta maaf, tidak bertemu, pasti kesalahan belum mendapat maaf, kesalah masih\/ akan tersisa. Karenanya budayakan (jadikan prilaku) suka memberi maaf, jangan biarkan orang susah minta maaf, apalagi memakai kamus \u201ctiada maaf bagimu\u201d, <em>naudzubillah<\/em>!.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amat mulia orang yang selalu mencari kemaafan baik dengan cara mudah \u201cmemberi maaf\u201d atau \u201cmeminta maaf\u201d meskipun susah. Apakah berjumpa langsung memberi dan meminta maaf dengan berjabatan tangan, atau dengan cara tidak langsung melalui kartu lebaran atau pesan singkan seperti melalui SMS pada HP\/ Fax, E-mail\/ Face Book dsb. Setidaknya menjelang lebaran ini, pesan singkatnya: \u201c<em>min al-\u2018aidil wa l-fai\u2019izin, selamat lebaran 1 Syawal 1430 H\/ 20 Sept 2009,(mohon atau kami senang memberi) maaf lahir bathin<\/em>\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yang menjadi persoalan adalah cara memberi\/ minta maaf, baik tata kalimat, sikap dan alat alamat pemberian\/ permintaan maaf. Tata kalimat yang terbaik \u201cmemberi maaf\u201d. Sikap yang terbaik pemberi maaf dan yang menerima maaf, menujukkan sikap terbaik. Misalnya sikap tak baik, sudah memberi maaf, \u201c<em>gambuang<\/em>\/ merasa tak enak\u201d juga. Memberi maaf langsung, pemuda menjabat tangan gadis, lama dan erat, sampai \u201c<em>tapakiak paja<\/em>\/ terpekik si gadis\u201d baru dilepas, itu satu sikap yang tidak Islami. Demikian alamat, kartu lebaran, SMS, Fax, E-mail\/ Face Book sudah sampai pada kawan di seberang lautan, orang tua\/ orang dekat\/ yang paling berjasa dalam hidup &nbsp;belum memberi\/ minta maaf, satu lagi sikap yang tak Islami. Dahulukan orang tua sebelum kepada yang lain. Bersimpuh\/ sungkem pada kedua orang tua. Itu bagian budaya (perilaku) Islami.**<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Surat Kabar Harian Singgalang, 10-19 September 2009, Hikmah Ramadhan (10 Artikel Beersambung) \/\/ Yulizal Yunus Memberi maaf, budayakan (jadikan prilaku). Itu budaya (perilaku) Islami. Memberi maaf, sebelum orang lain susah dan tergopoh-gopoh meminta maaf. Prilaku \u201cyang banyak\u201d membiasakan meminta maaf atau menunggu orang minta maaf. Bahkan ada orang, mempunyai kamus \u201ctiada maaf bagimu\u201d.&nbsp;Hebat betul orangnya.&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[13],"tags":[],"class_list":["post-195","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-wawasan-islam-aqidah-syariah"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/195","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=195"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/195\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":200,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/195\/revisions\/200"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=195"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=195"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=195"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}