{"id":254,"date":"2026-02-21T06:51:42","date_gmt":"2026-02-21T06:51:42","guid":{"rendered":"https:\/\/yulizalyunus.com\/?p=254"},"modified":"2026-02-21T06:57:13","modified_gmt":"2026-02-21T06:57:13","slug":"sinergi-nagari-dan-smart-surau-di-kota-padangpenguatan-ciri-minangkabau-di-kota-padang-refleksi-satu-tahun-wako-fadly-dan-wawako-maigus-memimpin-kota-padang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/2026\/02\/21\/sinergi-nagari-dan-smart-surau-di-kota-padangpenguatan-ciri-minangkabau-di-kota-padang-refleksi-satu-tahun-wako-fadly-dan-wawako-maigus-memimpin-kota-padang\/","title":{"rendered":"Sinergi\u00a0Nagari dan Smart Surau di Kota PadangPenguatan Ciri Minangkabau di Kota Padang"},"content":{"rendered":"\n<h2 id=\"refleksi-satu-tahun-wako-fadly-dan-wawako-maigus-memimpin-kota-padang\" class=\"wp-block-heading\">(Refleksi Satu Tahun Wako Fadly dan Wawako Maigus\u00a0Memimpin Kota Padang)<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"768\" src=\"https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-1024x768.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-255\" srcset=\"https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-1024x768.png 1024w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-300x225.png 300w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-768x576.png 768w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-1536x1152.png 1536w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-370x278.png 370w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-533x400.png 533w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-1290x968.png 1290w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-1080x810.png 1080w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-865x649.png 865w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10-642x482.png 642w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/02\/gambar-10.png 1600w\" sizes=\"(max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>\/\/ <\/strong><strong>Yulizal Yunus<\/strong><strong><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di Mana diletakkan Ciri Minangkabau di Kota Padang? Jawaban singkat: nagari eksis sebagai wilayah inti kultur Minangkabau. Dialog singkat, seperti banyak didengar dari lisan warga kota, menjelang 100 hari capaian awal duet pemimpin muda Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota Maigus Nasir dalam menakhodai Kota Padang periode 2025\u20132030.<\/p>\n\n\n\n<p>Pertanyaan ini mendasar bagi Kota Padang\u2014bahkan bagi kota-kota lain di Sumatera Barat\u2014adalah: <em>di mana diletakkan ciri Minangkabau dalam tata kelola kota modern?<\/em>\u00a0Apakah Minangkabau hanya menjadi ornamen budaya, sloganistik, simbol seremoni, atau benar-benar menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan publik?<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai ibu kota Provinsi Sumatera Barat, Padang memikul tanggung jawab simbolik dan substantif. Jika Minangkabau hendak ditegaskan dalam ruang kota, maka Padang harus menjadi model: <em>\u201cNagari Minang di Tengah Kota\u201d atau \u201cKota dalam Nagari.\u201d<\/em><em>&nbsp;<\/em>Dikuatkan dengan regulasi berbentuk Perdako tentang SinergiNagari &#8211; Pemerintah dan Pemajuan Kebudayaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam satu tahun pemerintahan Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota Maigus Nasir, ikhtiar ke arah itu mulai terlihat melalui dua program unggulan: <strong>S<\/strong><strong>inergi<\/strong><strong>&nbsp;Nagari (Sinergi Nagari)<\/strong>&nbsp;dan <strong>Smart Surau<\/strong>. Keduanya bukan sekadar program administratif, tetapi tawaran konseptual untuk menegaskan identitas Minangkabau dalam tata kelola kota modern.<\/p>\n\n\n\n<h3 id=\"tali-tigo-sapilin-fondasi-hukum-dan-nilai\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Tali Tigo Sapilin: Fondasi Hukum dan Nilai<\/strong><strong><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Di Minangkabau berlaku tiga sistem hukum yang normanya dirumuskan&nbsp;hirarchi hukum adat&nbsp;<strong>\u201ctali tigo sapilin\u201d<\/strong>:&nbsp;(1) <strong>Hukum Syara\u2019<\/strong>&nbsp;\u2013 <em>badasar ka anggo tanggo<\/em><em>, (2) <\/em><strong>Hukum Adat<\/strong>&nbsp;\u2013 <em>bahukum ka raso jo pareso<\/em><em>, dan (3) <\/em><strong>Hukum Negara<\/strong>&nbsp;\u2013 <em>baundang ka alua jo patuik<\/em><em>.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Tiga tali itu adalah hukum yang saling mengikat, bukan saling meniadakan. Dalam konteks Kota Padang, penguatan ciri Minangkabau harus berjalan dalam ketiganya sekaligus: syara\u2019 sebagai nilai spiritual, adat sebagai kearifan sosial, dan negara sebagai kerangka legal formal.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara hukum negara, penguatan nagari dan adat memiliki dasar yang kuat, antara lain:&nbsp;(1) Pasal 18 ayat (6) UUD 1945;&nbsp;(2) UU No. 17 Tahun 2022 tentang Provinsi Sumatera Barat (menegaskan karakter \u201cAdat Basandi Syara\u2019 \u2013 Syara\u2019 Basandi Kitabullah\u201d dan \u201cAdat Salingka Nagari\u201d);&nbsp;(3) UU No. 55 Tahun 2024 tentang Kota Padang;&nbsp;(4) UU No. 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah beserta perubahannya;&nbsp;(5) UU No. 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan;&nbsp;(6) Permendagri No. 52 Tahun 2007;&nbsp;(7) Perda Provinsi Sumatera Barat No. 6 Tahun 2014 tentang Penguatan Lembaga Adat;&nbsp;(8) Perda Provinsi Sumatera Barat No. 7 Tahun 2018 tentang Nagari;&nbsp;(9) Perdaprov No. 5 Tahun 2024 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah.<\/p>\n\n\n\n<p>Artinya, <strong>S<\/strong><strong>inergi<\/strong><strong>&nbsp;Nagari bukan romantisme adat<\/strong>, tetapi memiliki legitimasi konstitusional dan yuridis.<\/p>\n\n\n\n<h3 id=\"sinergi-nagari-nagari-eksis-di-tengah-kota\" class=\"wp-block-heading\"><strong>S<\/strong><strong>inergi<\/strong><strong>&nbsp;<\/strong><strong>Nagari: Nagari Eksis di Tengah Kota<\/strong><strong><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Yang dimaksud nagari dalam wilayah Kota Padang bukanlah membentuk pemerintahan nagari seperti di kabupaten. Di kota, tidak ada wali nagari. Yang ada adalah lurah &#8211; kelurahan sebagai satuan pemerintahan formal&nbsp;terdepan dalam sistem pemerintahan NKRI.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, <strong>nagari sebagai kesatuan masyarakat hukum adat tetap eksis<\/strong>&nbsp;secara genealogis dan historis. Ia memiliki:&nbsp;(1) Batas wilayah adat&nbsp;ditandai dengan sebelah menyebelah ada kerabat dan atau keluarga. Batas secara adat didasarkan pada pelaksanaan nilai-nilai kekeluargaan, bukan semata papan nama yang sering mengundang konflik batas. (2) Harta kekayaan adat secara hak asal-usul),&nbsp;(3) kelembagaan (a) Limbago Penghulu Nagari\/ Rajo sebagai pucuk adat di nagari, sebagai pemilik \u201csako pusako salingka kaum\u201d, dan \u201cadat salingka nagari\u201d selaras dengan \u201cadat sebatang panjang\u201d yakni ABS SBK; (b) Kerapatan Adat Nagari (KAN) sebagai organisasi adat dan forum penghulu, menggantikan status Wali Nagari yang tidak ada di Kota Padang,&nbsp;sebagai penguatan fungsi nagari di tengah kota, dan (c ) Peradilan adat sebagai mekanisme penyelesaian sengketa berbasis musyawarah, yang dilaksanakan secara bertingkat \u201cberjenjang naik bertangga turun\u201d sesuai adat salingka nagari.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam konsep SinergiNagari, Pemerintah Kota tidak mengambil alih fungsi adat. Hubungan yang dibangun adalah <strong>konsultatif dan koordinatif<\/strong>, bukan subordinatif. Limbago Penghulu&nbsp;Nagari dan Organisasi Adat yakni&nbsp;KAN, serta&nbsp;pemerintah kecamatan\/&nbsp;kelurahan berjalan sesuai fungsi masing-masing&nbsp;seperti amanat regulasi yang ada.<\/p>\n\n\n\n<p>Inilah yang disebut sebagai model <strong>\u201cNagari di Tengah Kota.\u201d<\/strong>&nbsp;Nagari tetap hidup sebagai kesatuan Masyarakat Hukum Adat&nbsp;(MHA), sementara kota berjalan sebagai entitas terdepan administratif NKRI.<\/p>\n\n\n\n<h3 id=\"integrasi-pimpinan-dan-simbol-tungku-tigo-sajarangan\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Integrasi Pimpinan dan Simbol Tungku Tigo Sajarangan<\/strong><strong><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Menariknya, pada 100 hari pertama (20 Februari \u2013 30 Mei 2025), kepemimpinan Fadly\u2013Maigus telah memperlihatkan sentuhan yang saya sebut sebagai <strong>servant leadership<\/strong>\u2014kepemimpinan melayani, dan sempat viral dalam berbagai situs dimuat awalnya di Pikir.Id.<\/p>\n\n\n\n<p>Secara simbolik, pucuk pimpinan Kota Padang merepresentasikan fungsionaris&nbsp;tiga tuanku dirumuskan dalam limbago \u201c<strong>Tungku Tigo Sajarangan<\/strong><strong>\u201d<\/strong>:&nbsp;(1) Fadly Amran (Datuak Panduko Malano) sebagai simbol <em>penghulu<\/em>;&nbsp;(2) Maigus Nasir (Rajo Mangkuto) sebagai simbol <em>ulama<\/em>;&nbsp;dan (3) Ketua DPRD Muharlion sebagai representasi <em>cadiak pandai<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p>Sinergi ini memberi ruang optimalisasi peran tiga tuanku fungsionaris: penghulu, ulama, dan cendekiawan dalam pemberdayaan masyarakat&nbsp;dan eksistensi nagari Minangkabau di Tengah Kota. Program <strong>Sinergi Nagari<\/strong>&nbsp;bahkan membuka ruang perumusan regulasi \u201cNagari dalam Kota\u201d sebagai payung norma hukum penguatan kelembagaan adat: Limbago Adat Pangulu Nagari, Organisasi Adat &#8211; 10 KAN&nbsp;di Padang&nbsp;dan Peradilan Adat Nagari.&nbsp;Sebaiknya dikuatkan dengan Perdako \u201cSinergi Nagari, Pemerintahan dan Pemajuan Adat Kota Padang\u201d.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika terwujud, Perda ini dapat menjadi model bagi kota-kota lain di Sumatera Barat dalam membangun <strong>Kota Cerdas Berbasis Adat Minangkabau<\/strong>.<\/p>\n\n\n\n<h3 id=\"smart-surau-spiritualitas-dalam-kota-pintar\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Smart Surau: Spiritualitas dalam Kota Pintar<\/strong><strong><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Jika Sinergi&nbsp;Nagari menegaskan struktur sosial masyarakat adat&nbsp;dan hubungan konsultatif dengan pemerintah, maka <strong>Smart Surau<\/strong>&nbsp;menegaskan dimensi spiritual dan kultural.&nbsp;Justru di dalam \u201cUndang-Undang (Berdirinya) Nagari\u201d di Minangkabau, surau menjadi syarat berdirinya nagari. Sekaligus amanat Undang-Undang Dalam Nagari menciotakan kondisi dinamis hubungan masyarakat nagari satu dengan nagari lainnya dan hubungan antar masyarakat dengan pemerintah Kota Padang.<\/p>\n\n\n\n<p><em>Sebelumnya dalam tul<\/em><em>i<\/em><em>san saya 23 Jan 2026, Pikir.id : \u201c<\/em><em>Surau dalam tradisi Minangkabau bukan sekadar tempat ibadah, tetapi <\/em><em>juga <\/em><em>pusat <\/em><em>kebudayaan: <\/em><em>pendidikan, kaderisasi, dan pembentukan karakter<\/em><em>&nbsp;dirumuskan dalam trilogi ajaran surau: mengaji &#8211; belajar syari\u2019at, belajar adat dan belajar silat.<\/em><em>&nbsp;<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Lebih jauh nagari memiliki&nbsp;surau yang dalam hukum adat yang normanya bersumber dari \u201cUndang-Undang Nagari\u201d di Minangkabau, diamanahkan sayarat berdirinya nagari ada surau dan masjid. Sejatinya surau itu dalam catatan Emeraldy <\/em><em>(2026) <\/em><em>merupakan universitas orang Minang.<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Diplomasi surau nagari luar biasa. Bagi orang Minang surau itu itu universitas. Universitas bagi mereka tak hanya dengan gedung mewah dan dosen-dosen yang terakreditasi, sentuh Emeraldy. Tapi ditunjukan kecerdasan tawaran dan daya saing disiplin ilmu yang berguna bagi masyarakat bangsa dan negara. Itu bagian olah pikir industri otak. Karena itu dari surau lahir banyak karya ilmiah dalam berbagai disiplin ilmu yang tak memisahkan agama dan umum. Betapa banyak warisan maha karya dalam bentuk manuskrip dan lektur (bahan bacaan, literasi) dalam bentuk naskah klasik dari peninggalan surau. <\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Kata Emeraldy, sekarang kita tak banyak tahu konsep surau ornang Minang. Terkesan pun, pemerintah pun tak paham kosnep surau dan fungsinya di Minangkabau. Karenanya nomenklatur surau sebagai konsep dan sarana pendidikan itu, hilang dalam kebijakan pendidikan &#8211; Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional. Kita pun banyak keliru mencitrakan surau sebagai konsep dan sarana pendidikan seperti juga hilang konsep lapau sebagai pusat komunikasi tradisional strategis, amat terbatas. <\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Banyak kita mencitrakan surau sebagai hanya tempat ngaji dan tempat ibadah.&nbsp; Surau bukan sekadar tempat ibadah. Ia merupakan pusat pendidikan formal dan informal. Secara informal surau menawarkan ilmu dalam \u201ctrilogi disiplin\u201d:&nbsp;syariat (belajar &#8211; kaji Islam), adat (kaji adat), dan silat (belajar beladiri sebagai kekuatan diplomasi penyadaran masyarakat budaya). Ketiganya terintegrasi agama, adat dan ilmu umum. <\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Surau sebagai sarana pendidikan formal, amat cerdas belajarnya mulai dari sistim halaqah (belajar duduk melingkar) sampai klasikal (duduk di kursi menghadap ke depan). Juga surau secara cerdas mengintegrasi Islam dan Umum &#8211; apalagi fans Islamisasi. Karenanya surau banyak melahirkan ulama, intelektual cendekiawan, budayawan sastrawan, politikus negarawan lainnya. Mereka tidak saja secara praktisi berperan dalam masyarakatnya tetapi lebih jauh mereka meninggalkan karya tulis ilmiah sebagai maha karya. Sekarang betapa banyak ditemukan karya mereka dan dengan karya mereka sudah melahirkan banyak doktor. Rekaman seberapa banyak manuskrip dan naskah klasik yang diwariskan dari surau, tanyalah kepada Prof Pramono di Lembaga SURI-nya dengan tim seniornya Yusuf&nbsp;dan para yuniornya spesialis naskah klasik dan manuskrip. Kecintaan dan ketekunannya mengumpul, mendigialisasi dan menganalisis manuskrip dan naskah klasik surau dan kerajaan-kerajaan di Minang, terakhir 300-san naskah &nbsp;manuskrip Raja Tarusan, mengantarkan Pramono dihargai dengan anugerah kebudayaan di Sumatera Barat beberapa tahun lalu.&nbsp;<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Hebatnya karya tulis dari surau universitas orang Minang ini ternyata berguna bagi masyarakat bahkan mengantarkan banyak ilmuwan ke tingkat kualifikasi akademik doktor. Sebaliknya hal yang ironis justru karya tulis yang lahir dari perguruan tinggi banyak tak berguna bagi masyarakat sebut emeraldy. Malah tak jarang menjadi buku sampah ditempatkan pada \u201csudut buku sampah\u201d di perpustakaan, penulis menggarisbawahi Emeraldy.<\/em><em><\/em><\/p>\n\n\n\n<p><em>Ke depan, Emeraldy berpesan agar generasi muda <\/em><em>dapat memanfaatkan perkembangan<\/em><em>&nbsp;surau seiring era \u201cdigital &#8211; artificial intellegence\u201d kuasa komputer &#8211; internet. Dengan kepiawaian mereka yang gemar tech savvy, diharapkan generasi muda dapat menawarkan kembali budaya storytelling yang mulai menghilang sebagai bagian diplomasi surau cerita menarik bagi anak cucu. Budaya storytellig ini justru dulu bagian diplomasi budaya yang dapat membentuk karakter anak bangsa dari surau. Justru pula sekarang generasi kini tertarik pada konten yang bercerita sebagai color dan daya pikat tayang konten video mereka.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>Program Smart Surau menghidupkan kembali fungsi surau sebagai uniersitas orang Minangkabau yang tidak menawarkan gedung cantik besar, tetapi menawarkan konten. Padang menawarkan dalam bentuk progul \u201cSmart Surau\u201d. Dimulai dari pendidikan anak, remaka dam orang tua, yakni melalui&nbsp;aktivitas:&nbsp;(1) Subuh Mubarak;&nbsp;(2) Remaja Masjid Reborn;&nbsp;(3) Fasilitas WiFi gratis;&nbsp;(4) Ruang belajar digital berbasis masjid;&nbsp;(5) Penguatan Madrasah Diniyah Wustha (MDW);&nbsp;dan (6) Integrasi nilai agama dalam pembangunan kota.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sinilah visi \u201cSmart City berlandaskan agama dan budayadi Kota Padang \u201d menemukan bentuknya. Kota tidak hanya pintar secara teknologi&nbsp;dan kaya ekonomi, tetapi juga cerdas secara moral&nbsp;dan kaya spiritual.<\/p>\n\n\n\n<h3 id=\"padang-sebagai-service-centre-market-town-dan-regional-centre\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Padang sebagai Service Centre, Market Town dan Regional Centre<\/strong><strong><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Dalam satu tahun perjalanan, program unggulan Wako Fadly dan Wawako Maigus lainnya&nbsp;juga memperkuat fondasi kota, di antaranya: (1) <strong>Padang Amanah &amp; Padang Melayani<\/strong>: optimalisasi layanan publik berbasis teknologi;&nbsp;(2) <strong>Padang Sigap<\/strong>: Dubalang Kota dan sistem respons cepat;&nbsp;(3) <strong>UMKM Naik Kelas<\/strong>: revitalisasi Pasar Raya dan pasar satelit;&nbsp;(4) <strong>Jelajah Padang<\/strong>: aktivasi wisata religi dan heritage (Masjid Ganting, ulama-ulama besar Padang, kawasan Pondok dan Pasar Gadang);&nbsp;(5) <strong>Padang Rancak<\/strong>: perbaikan jalan, drainase, pengendalian banjir, penataan kawasan pantai&nbsp;lainnya.&nbsp;Semua ini menunjukkan bahwa pencirian Minangkabau tidak menghambat modernisasi. Justru menjadi ruh yang memberi kepastian arah.<\/p>\n\n\n\n<h3 id=\"kota-dalam-nagari-sebuah-model\" class=\"wp-block-heading\"><strong>Kota dalam Nagari: Sebuah Model<\/strong><strong><\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p>Pada akhirnya, pertanyaan \u201cdi mana diletakkan ciri Minangkabau di Kota Padang?\u201d dapat dijawab demikian:&nbsp;(1) Dalam kelembagaan adat yang hidup dan difasilitasi negara; (2) Dalam kebijakan publik yang berbasis nilai ABS-SBK; (3) Dalam sinergi Tungku Tigo Sajarangan; (4) Dalam surau universitas orang Minangkabau yang kembali menjadi pusat peradaban, yang pernah banyak melahirkan tokoh: ulama, pangulu, sastrawan budayawan, politisi dan negarawan lainnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika&nbsp;semua hal tadi&nbsp;konsisten dijalankan, maka Padang bukan hanya ibu kota administratif&nbsp;Provinsi Sumatera Barat, tetapi <strong>ibu kota kebudayaan Minangkabau modern<\/strong>\u2014kota yang pintar, sehat, maju, tetapi tetap berakar&nbsp;tunggang pada Minangkabau genius (Kecerdasan Minangkabau).<\/p>\n\n\n\n<p>Satu tahun pertama kepemimpinan Fadly Amran dan Maigus Nasir menunjukkan arah itu. Intensitas kepuasan publik tentu akan diuji dalam perjalanan lima tahun ke depan. Namun fondasi partisipasi masyarakat dan sentuhan kepemimpinan melayani telah menumbuhkan harapan.<\/p>\n\n\n\n<p>Saya boleh katakan, Padang dapat menjadi contoh: <strong>kota modern yang tidak tercerabut dari nagarinya<\/strong><strong>&nbsp;adat Minangkabau<\/strong><strong>.<\/strong><strong>**<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Padang, 20 Febr 2026<\/p>\n\n\n\n<p><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Refleksi Satu Tahun Wako Fadly dan Wawako Maigus\u00a0Memimpin Kota Padang) \/\/ Yulizal Yunus Di Mana diletakkan Ciri Minangkabau di Kota Padang? Jawaban singkat: nagari eksis sebagai wilayah inti kultur Minangkabau. Dialog singkat, seperti banyak didengar dari lisan warga kota, menjelang 100 hari capaian awal duet pemimpin muda Wali Kota Fadly Amran dan Wakil Wali Kota&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[6,10],"tags":[],"class_list":["post-254","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-nagari-minang-enterpreneur-kultur","category-sejarah-history-story"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=254"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":258,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/254\/revisions\/258"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=254"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=254"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=254"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}