{"id":274,"date":"2026-04-03T07:36:52","date_gmt":"2026-04-03T07:36:52","guid":{"rendered":"https:\/\/yulizalyunus.com\/?p=274"},"modified":"2026-04-03T07:38:38","modified_gmt":"2026-04-03T07:38:38","slug":"kasih-surga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/2026\/04\/03\/kasih-surga\/","title":{"rendered":"Kasih Surga"},"content":{"rendered":"\n<h2 id=\"cerbung-no-251-ku-tanya-merapi-singgalang\" class=\"wp-block-heading\">Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang<\/h2>\n\n\n\n<p><strong>\/\/ Yulizal Yunus<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pagi itu mentari seperti enggan memperlihatkan wajahnya. Langit pucat, jalan tol lengang. Rest area ini\u2026 masih sama. Tapi tidak dengan hatiku\u2014ia jauh lebih sepi dari jalan mana pun yang pernah kulalui.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sini dulu kita bercerita. Tentang hal-hal kecil yang terasa besar. Tentang masa depan yang kita susun pelan-pelan, seolah waktu akan selalu memberi ruang.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku duduk di bangku yang sama. Mengusap permukaannya, seakan sisa hangatmu masih tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<p>Malam sebelumnya aku bermimpi.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku berdiri di suatu tempat yang asing tapi terasa akrab. Kabut tipis menyelimuti, dan di kejauhan\u2026 dua gunung berdiri berdampingan berselendang kabut.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cGunung Marapi\u2026 mana Singgalang?\u201d tanyaku dalam mimpi itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Kau di sampingku. Diam. Lalu menjawab pelan,<br>\u201cEntahlah\u2026 aku harus pergi.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menoleh cepat. \u201cPergi? Ke mana?\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi kau\u2026 menghilang. Begitu saja. Tanpa jejak.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menangis. Dalam mimpi itu, tangisku terasa nyata. Kehilangan yang begitu dalam sampai dadaku sesak.<\/p>\n\n\n\n<p>Bayangan kita yang berdampingan\u2014orang-orang menyebutnya seperti Marapi dan Singgalang. Selalu bersama. Selalu saling menguatkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku terisak.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun\u2026 tiba-tiba nuraniku membantah.<\/p>\n\n\n\n<p>Tak pantas merasa kehilangan.<br>Tak boleh ada kata kehilangan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukankah\u2026 kita ini hanya dipinjami?<\/p>\n\n\n\n<p>Jika yang punya memanggil kembali\u2026 apakah pantas kita menyebutnya kehilangan?<\/p>\n\n\n\n<p>Aku terdiam dalam mimpi itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu entah bagaimana, bayangan berubah. Aku melihat seorang tukang parkir. Ia berdiri santai, menerima mobil-mobil mewah yang datang silih berganti. Ia menjaga, merapikan\u2026 lalu saat pemiliknya kembali dan membawa pergi mobil itu, ia malah tersenyum.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan menangis.<br>Bukan merasa kehilangan.<br>Karena ia tahu\u2014itu bukan miliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ayam berkokok.<br>Fajar menyingsing.<br>Aku tersentak bangun.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kau\u2026 juga tersentak di sampingku.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita saling pandang, lalu tanpa kata berjalan keluar. Di hadapan kita\u2014dua gunung itu. Marapi dan Singgalang. Berdiri berdampingan, kokoh, seolah menjadi saksi sesuatu yang belum sempat kita pahami.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menggosok mata. Sedikit uring-uringan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMimpi\u2026 ada-ada saja,\u201d kataku, mencoba menepis perasaan aneh yang tertinggal.<\/p>\n\n\n\n<p>Kau tersenyum kecil. Senyum yang kini\u2026 paling kurindukan.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cWail\u2026!\u201d<br>Esok harinya, semua berubah.<br>Kita duduk di ruang dokter. Sunyi, dingin, dan terlalu terang. Seorang dokter spesialis\u2014dokter nuklir onkologi. Kata-katanya pelan, tapi menghantam keras.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cHarus operasi.\u201d<br>Aku terenyuh. Dunia seperti berhenti sesaat.<\/p>\n\n\n\n<p>Kau\u2026 terlihat risau. Tapi hanya sebentar. Semangatmu menutupinya. Kau bahkan menggenggam tanganku lebih erat.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKita jalani,\u201d katamu.<\/p>\n\n\n\n<p>Ya Allah\u2026 Engkaulah yang tahu takwil mimpi.<\/p>\n\n\n\n<p>Hari-hari berlalu. Rumah sakit menjadi dunia kecil kita. Bau obat, suara alat medis, doa-doa lirih di malam hari.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan kini\u2026 aku kembali melintas di jalan ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Rest area itu. Gunung itu. Marapi dan Singgalang masih berdiri seperti dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Nyata.<br>Tapi juga seperti mimpi.<\/p>\n\n\n\n<p>Kadang aku tak mampu membedakan keduanya. Mana yang pernah benar-benar terjadi, mana yang hanya bayangan yang terlalu ingin kupercaya.<\/p>\n\n\n\n<p>Kita ini sering tak pandai membaca tanda. Walaupun Nabi SAW menyuruh, bacala!<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal\u2026 Engkau sudah memberi isyarat.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menatap kedua gunung itu lama.<\/p>\n\n\n\n<p>Air mata kembali jatuh, tapi kali ini lebih tenang. Lebih menerima.<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya satu yang bisa kusisipkan di setiap hela napas hidupku kini\u2014<\/p>\n\n\n\n<p>seuntai, setangkai doa.<br>\u201cKasihi kami\u2026 ya Rabb\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Karena kini aku mengerti\u2014<br>aku bukan kehilanganmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku\u2026 hanya sedang belajar merelakan titipan yang paling kucintai\u2026 kembali kepada Pemilik-Nya.<\/p>\n\n\n\n<p>(Bersambung ke Bagian 251: Hari Operasi\u2014Saat Doa dan Takdir Bertemu, dengan akhir yang akan benar-benar mengoyak hati.)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang \/\/ Yulizal Yunus Pagi itu mentari seperti enggan memperlihatkan wajahnya. Langit pucat, jalan tol lengang. Rest area ini\u2026 masih sama. Tapi tidak dengan hatiku\u2014ia jauh lebih sepi dari jalan mana pun yang pernah kulalui. Di sini dulu kita bercerita. Tentang hal-hal kecil yang terasa besar. Tentang masa depan&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-274","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-novel"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=274"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":275,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/274\/revisions\/275"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=274"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=274"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=274"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}