{"id":276,"date":"2026-04-03T07:47:06","date_gmt":"2026-04-03T07:47:06","guid":{"rendered":"https:\/\/yulizalyunus.com\/?p=276"},"modified":"2026-04-03T07:51:37","modified_gmt":"2026-04-03T07:51:37","slug":"surat-ke-surga","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/2026\/04\/03\/surat-ke-surga\/","title":{"rendered":"Surat ke Surga"},"content":{"rendered":"\n<h2 id=\"cerbung-no-252\" class=\"wp-block-heading\">Cerbung no. 252<\/h2>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" width=\"720\" height=\"335\" src=\"https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/gambar-2.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-279\" srcset=\"https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/gambar-2.png 720w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/gambar-2-300x140.png 300w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/gambar-2-370x172.png 370w, https:\/\/yulizalyunus.com\/wp-content\/uploads\/2026\/04\/gambar-2-642x299.png 642w\" sizes=\"(max-width: 720px) 100vw, 720px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p><br><strong>\/\/ Yulizal Yunus<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan, kadang air mata menetes juga ke layar hendset. Surat dengan setangkai doa bukan untuk siapa-siapa di bumi. Hanya untukmu\u2026 yang kini jauh di langit sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Dikirim ke surga. Padamu\u2014kasih surgaku. Ku tak tahu, entah sampai atau tidak, tapi bukankah doa dan rindu selalu punya jalannya sendiri?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDengarlah\u2026\u201d doa rintihan lirih dalam surat ini, pelan. Juga kabar orang-orang terkasihmu. Apa kata adik-adik tersayang kita di sini\u2026. Membuat kita bangga dan senang pada mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Liza dari Semenanjung saatmu terbaring menelpon dalam kata terputus karena isak tangisnya. Ketika ia mendapat kabar engkau sudah tiada.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa katanya, abang, Liza&nbsp; belum kuasa menyeberangi laut dan melintas udara menyeruak awan haru biru ini. Hanya boleh berdoa arwah kakak Wati Husnul Khatimah. Rohnya dalam Rahmat Allah tergolong para salihah. Ia terisak.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Adikku cantik, hapuslah air matamu mari sama kita iringi kakak dengan doa&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun bang,&nbsp; bersyukur juga Liza dengan kakak beradik baru saja bertemu dan sempat menjemput kakak saat berobat ke Petaling Jaya Kuala Lumpur. Dan adikmu ini merasa saking terkenangnya bertukar rasa masakan dari air tangan Liza serta emak dan maknyoh.&nbsp; Kita makan bersama, ketawa cikikan,&nbsp; meskipun kakak sering menyembunyikan air matanya mungkin ingat sakitnya,&nbsp; namun tak mengurangi wujud memori indah waktu bersama di rumah Aya Roshaya di Perak. Aya adik kita sang polis menyebut kakak tersayang. Si kecilnya betapa kakak menyayanginya. Betapa ia senang membawa kita ke kampung tuk Sidi di geluk.<\/p>\n\n\n\n<p>Liza pun terkenang senang dulu membawa kakak minta diantar ke rumah bang Latif di Seremban. Bang Latif membawa kakak ke Tower Kembar,&nbsp; melihat keluarga negeri sembilan, kabarnya esok malam makan sate adik bang latif di jalan Tuanku Jaafar di Serimenati, esoknya juga membawa kakak ke kampung cerdas kat kantor PM Anwar.<\/p>\n\n\n\n<p>Adik kita pula Sopia bertutur dengan suara yang basah oleh rasa duka namun meredakan tangis ini. Katanya, bang, duka, sedih, hiba, sayu\u2026 itu juga anugerah Allah untuk manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku lama terdiam di kalimat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Anugerah\u2026?<br>Betapa berat memahami kata itu saat air mata meleleh dan hati sedang serak dan retak.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun ia benar. Adik tersayang kita filosofinya dalam juga. Merelakan\u2026 mengembalikan yang dipinjamkan\u2026 adalah aturan yang harus ditaati, katanya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menyapaku menghibur.<br>\u201cAbg Datuk dikurniakan tinta emas yang berharga\u2026 curahkanlah di sini. Kami sentiasa ada\u2026 berkongsi duka\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku membaca itu berulang kali.<br>Tanganku gemetar. Air mata seakan tak bisa kuhapus, bercampur haru dan bangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata\u2026 aku tidak sendiri dalam luka ini.<br>Adik kita Samsiah pun bersuara, meski serak karena haru.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengingatkan masa lalu\u2014<br>saat suaminya terbaring sekarat di rumah sakit Kuala Lumpur.<br>Aku ingat itu. Waktu itu kita bersama-sama iyadah &#8211; menjenguknya dan berdoa di ICU.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini\u2026 ia menguatkanku,<br>padahal ia pernah berada di titik nadir sunyi yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Maknanya, adik kita Salmiah juga\u2026<br>baru kehilangan suami, tempat ia bergantung.<\/p>\n\n\n\n<p>Duka\u2026 rupanya tak memilih siapa.<br>Ia datang, mengetuk, lalu ditinggal\u2026<br>tanpa permisi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKini Abg Datuk\u2026\u201d tulislah tentang Kak Wati, sebagai pengingat,&nbsp; kita semua juga pada saatnya akan dipulangkan ke pangkuan Rabb kita\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dipulangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata itu kembali menyentuh lembut relung hatiku.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan diambil.<br>Bukan dirampas.<br>Tapi\u2026 dipulangkan, saat dijemput.<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga\u2026 kita semua kelak berkumpul di sisiNya,&nbsp; surga Jannatul \u2018Adnin,<br>kataku lanjut menulis surat ini, sambil menahan sesak yang kembali naik ke dada.<\/p>\n\n\n\n<p>Sopiah kembali menulis.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berkisah kisah sedihnya. Sudah hampir 14 tahun ia menanggung rindu\u2026 atas kepulangan anak tercintanya\u2014Shauque Sufi.<\/p>\n\n\n\n<p>Empat belas tahun\u2026<br>dan ia masih berdiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menunduk lama.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika ia bisa\u2026<br>mengapa aku merasa tak sanggup?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYang hidup\u2026 tambahkan amalan.<br>Yang pergi\u2026 tidak kembali. Itu pasti.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kalimat itu sederhana.<br>Namun menghujam dalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Salmiah berkata lagi,<br>\u201cHidup ini sebentar saja\u2026<br>Kehilangan teman hidup tahun 2023 mengajarku\u2014sepi itu indah\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sepi\u2026 indah?<\/p>\n\n\n\n<p>Aku memandang kosong ke luar jendela.<br>Mencoba memahami makna itu. Dalam berisik gerimis di luar dan di hatiku yang lirih.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin\u2026 sepi adalah ruang<br>di mana kita belajar berbicara dan berkata -kata hanya dengan Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu suara Suardi\u2014adik kita\u2014<br>seperti menahan tangis yang sama denganku.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berkata,<br>kesedihan ini terlalu dalam.<br>Tak tertahankan.<br>Dan hanya bisa tertuang dalam tulisan meskipun tak seluruhnya. Sisanya air mata yang mengalir yang tak kuasa disembunyikan<\/p>\n\n\n\n<p>Ia benar.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau duka ini bisa dibagi,<br>mereka akan memikulnya bersamaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi\u2026 kehendak takdir Allah\u2026<br>tak bisa ditawar. Justru ia pemiliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka khawatir aku tenggelam.<br>Kehilangan arah.<br>Kehilangan diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal\u2026 bukankah aku hanya sedih ditinggalpergimu?<\/p>\n\n\n\n<p>Atau\u2026 justru aku sedang menemukan sesuatu yang lebih dalam?<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengingatkanku\u2014<br>apa yang sering kuajarkan dulu:<\/p>\n\n\n\n<p>Tak ada satu pun yang sia-sia dari Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini\u2026 kata-kata itu kembali kepadaku.<br>Seperti cermin yang memaksa aku menatap diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menutup surat ini perlahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Air mata jatuh \u2014<br>tapi tidak lagi meledak.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih sunyi.<br>Lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAyah Datuk, abang mereka tidak meratap\u2026\u201d bisikku.<br>\u201cHanya menulis\u2026 sejujurnya apa yang kurasakan\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Karena hanya itu yang tersisa.<\/p>\n\n\n\n<p>Menulis\u2026 agar rindu punya tempat.<br>Menulis\u2026 agar luka tidak membusuk dalam diam.<\/p>\n\n\n\n<p>Kasih surgaku\u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Jika surat ini sampai padamu,<br>ketahuilah\u2014<\/p>\n\n\n\n<p>aku masih di sini.<br>Masih belajar\u2026<br>mengikhlaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan melupakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak\u2026 aku insya Allah tak akan pernah melupakanmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku hanya\u2026<br>sedang belajar berdiri<br>dengan satu sayap yang patah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan suatu hari nanti,<br>jika saatnya tiba \u2014 aku akan menyusulmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Insya Allah, bukan dengan tangis,<br>tapi dengan tenang.<\/p>\n\n\n\n<p>Membawa cerita panjang tentang kenangan panjang dan rindu<br>yang tak pernah selesai di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Di akhir surat itu, aku menulis pelan:<br>dalam isak tangis ini al-fatihah untukmu\u2026<br>dan untuk semua yang telah pulang lebih dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu aku lipat\u2026<br>meski tak ada alamat pasti.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena aku tahu\u2014<br>surga tidak membutuhkan perangko dan WA group seperti kita punya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia hanya butuh doa\u2026<br>yang dikirim dari hati lirih yang benar-benar harap\u2026. namun tetap percaya. Hanya Allah Yang Maha Tahu.**<\/p>\n\n\n\n<p>(Bersambung ke Bagian 252, Hari Terakhir\u2014Saat Perpisahan Tak Lagi Bisa Ditunda. Ending akan menjadi titik paling pilu dari kisah ini.)<\/p>\n\n\n\n<p>Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan, kadang air mata menetes juga ke layar hendset. Surat dengan setangkai doa bukan untuk siapa-siapa di bumi. Hanya untukmu\u2026 yang kini jauh di langit sana.<\/p>\n\n\n\n<p>Dikirim ke surga. Padamu\u2014kasih surgaku. Ku tak tahu, entah sampai atau tidak, tapi bukankah doa dan rindu selalu punya jalannya sendiri?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDengarlah\u2026\u201d doa rintihan lirih dalam surat ini, pelan. Juga kabar orang-orang terkasihmu. Apa kata adik-adik tersayang kita di sini\u2026. Membuat kita bangga dan senang pada mereka.<\/p>\n\n\n\n<p>Liza dari Semenanjung saatmu terbaring menelpon dalam kata terputus karena isak tangisnya. Ketika ia mendapat kabar engkau sudah tiada.<\/p>\n\n\n\n<p>Apa katanya, abang, Liza&nbsp; belum kuasa menyeberangi laut dan melintas udara menyeruak awan haru biru ini. Hanya boleh berdoa arwah kakak Wati Husnul Khatimah. Rohnya dalam Rahmat Allah tergolong para salihah. Ia terisak.<\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Adikku cantik, hapuslah air matamu mari sama kita iringi kakak dengan doa&#8221;.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun bang,&nbsp; bersyukur juga Liza dengan kakak beradik baru saja bertemu dan sempat menjemput kakak saat berobat ke Petaling Jaya Kuala Lumpur. Dan adikmu ini merasa saking terkenangnya bertukar rasa masakan dari air tangan Liza serta emak dan maknyoh.&nbsp; Kita makan bersama, ketawa cikikan,&nbsp; meskipun kakak sering menyembunyikan air matanya mungkin ingat sakitnya,&nbsp; namun tak mengurangi wujud memori indah waktu bersama di rumah Aya Roshaya di Perak. Aya adik kita sang polis menyebut kakak tersayang. Si kecilnya betapa kakak menyayanginya. Betapa ia senang membawa kita ke kampung tuk Sidi di geluk.<\/p>\n\n\n\n<p>Liza pun terkenang senang dulu membawa kakak minta diantar ke rumah bang Latif di Seremban. Bang Latif membawa kakak ke Tower Kembar,&nbsp; melihat keluarga negeri sembilan, kabarnya esok malam makan sate adik bang latif di jalan Tuanku Jaafar di Serimenati, esoknya juga membawa kakak ke kampung cerdas kat kantor PM Anwar.<\/p>\n\n\n\n<p>Adik kita pula Sopia bertutur dengan suara yang basah oleh rasa duka namun meredakan tangis ini. Katanya, bang, duka, sedih, hiba, sayu\u2026 itu juga anugerah Allah untuk manusia.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku lama terdiam di kalimat itu.<\/p>\n\n\n\n<p>Anugerah\u2026?<br>Betapa berat memahami kata itu saat air mata meleleh dan hati sedang serak dan retak.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun ia benar. Adik tersayang kita filosofinya dalam juga. Merelakan\u2026 mengembalikan yang dipinjamkan\u2026 adalah aturan yang harus ditaati, katanya lagi.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia menyapaku menghibur.<br>\u201cAbg Datuk dikurniakan tinta emas yang berharga\u2026 curahkanlah di sini. Kami sentiasa ada\u2026 berkongsi duka\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Aku membaca itu berulang kali.<br>Tanganku gemetar. Air mata seakan tak bisa kuhapus, bercampur haru dan bangga.<\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata\u2026 aku tidak sendiri dalam luka ini.<br>Adik kita Samsiah pun bersuara, meski serak karena haru.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengingatkan masa lalu\u2014<br>saat suaminya terbaring sekarat di rumah sakit Kuala Lumpur.<br>Aku ingat itu. Waktu itu kita bersama-sama iyadah &#8211; menjenguknya dan berdoa di ICU.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini\u2026 ia menguatkanku,<br>padahal ia pernah berada di titik nadir sunyi yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p>Maknanya, adik kita Salmiah juga\u2026<br>baru kehilangan suami, tempat ia bergantung.<\/p>\n\n\n\n<p>Duka\u2026 rupanya tak memilih siapa.<br>Ia datang, mengetuk, lalu ditinggal\u2026<br>tanpa permisi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cKini Abg Datuk\u2026\u201d tulislah tentang Kak Wati, sebagai pengingat,&nbsp; kita semua juga pada saatnya akan dipulangkan ke pangkuan Rabb kita\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Dipulangkan.<\/p>\n\n\n\n<p>Kata itu kembali menyentuh lembut relung hatiku.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan diambil.<br>Bukan dirampas.<br>Tapi\u2026 dipulangkan, saat dijemput.<\/p>\n\n\n\n<p>Semoga\u2026 kita semua kelak berkumpul di sisiNya,&nbsp; surga Jannatul \u2018Adnin,<br>kataku lanjut menulis surat ini, sambil menahan sesak yang kembali naik ke dada.<\/p>\n\n\n\n<p>Sopiah kembali menulis.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berkisah kisah sedihnya. Sudah hampir 14 tahun ia menanggung rindu\u2026 atas kepulangan anak tercintanya\u2014Shauque Sufi.<\/p>\n\n\n\n<p>Empat belas tahun\u2026<br>dan ia masih berdiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menunduk lama.<\/p>\n\n\n\n<p>Jika ia bisa\u2026<br>mengapa aku merasa tak sanggup?<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cYang hidup\u2026 tambahkan amalan.<br>Yang pergi\u2026 tidak kembali. Itu pasti.\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Kalimat itu sederhana.<br>Namun menghujam dalam.<\/p>\n\n\n\n<p>Salmiah berkata lagi,<br>\u201cHidup ini sebentar saja\u2026<br>Kehilangan teman hidup tahun 2023 mengajarku\u2014sepi itu indah\u2026\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Sepi\u2026 indah?<\/p>\n\n\n\n<p>Aku memandang kosong ke luar jendela.<br>Mencoba memahami makna itu. Dalam berisik gerimis di luar dan di hatiku yang lirih.<\/p>\n\n\n\n<p>Mungkin\u2026 sepi adalah ruang<br>di mana kita belajar berbicara dan berkata -kata hanya dengan Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu suara Suardi\u2014adik kita\u2014<br>seperti menahan tangis yang sama denganku.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia berkata,<br>kesedihan ini terlalu dalam.<br>Tak tertahankan.<br>Dan hanya bisa tertuang dalam tulisan meskipun tak seluruhnya. Sisanya air mata yang mengalir yang tak kuasa disembunyikan<\/p>\n\n\n\n<p>Ia benar.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau duka ini bisa dibagi,<br>mereka akan memikulnya bersamaku.<\/p>\n\n\n\n<p>Tapi\u2026 kehendak takdir Allah\u2026<br>tak bisa ditawar. Justru ia pemiliknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka khawatir aku tenggelam.<br>Kehilangan arah.<br>Kehilangan diri.<\/p>\n\n\n\n<p>Padahal\u2026 bukankah aku hanya sedih ditinggalpergimu?<\/p>\n\n\n\n<p>Atau\u2026 justru aku sedang menemukan sesuatu yang lebih dalam?<\/p>\n\n\n\n<p>Ia mengingatkanku\u2014<br>apa yang sering kuajarkan dulu:<\/p>\n\n\n\n<p>Tak ada satu pun yang sia-sia dari Allah.<\/p>\n\n\n\n<p>Kini\u2026 kata-kata itu kembali kepadaku.<br>Seperti cermin yang memaksa aku menatap diri sendiri.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku menutup surat ini perlahan.<\/p>\n\n\n\n<p>Air mata jatuh \u2014<br>tapi tidak lagi meledak.<\/p>\n\n\n\n<p>Lebih sunyi.<br>Lebih dalam.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cAyah Datuk, abang mereka tidak meratap\u2026\u201d bisikku.<br>\u201cHanya menulis\u2026 sejujurnya apa yang kurasakan\u201d<\/p>\n\n\n\n<p>Karena hanya itu yang tersisa.<\/p>\n\n\n\n<p>Menulis\u2026 agar rindu punya tempat.<br>Menulis\u2026 agar luka tidak membusuk dalam diam.<\/p>\n\n\n\n<p>Kasih surgaku\u2026<\/p>\n\n\n\n<p>Jika surat ini sampai padamu,<br>ketahuilah\u2014<\/p>\n\n\n\n<p>aku masih di sini.<br>Masih belajar\u2026<br>mengikhlaskan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bukan melupakan.<\/p>\n\n\n\n<p>Tidak\u2026 aku insya Allah tak akan pernah melupakanmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Aku hanya\u2026<br>sedang belajar berdiri<br>dengan satu sayap yang patah.<\/p>\n\n\n\n<p>Dan suatu hari nanti,<br>jika saatnya tiba \u2014 aku akan menyusulmu.<\/p>\n\n\n\n<p>Insya Allah, bukan dengan tangis,<br>tapi dengan tenang.<\/p>\n\n\n\n<p>Membawa cerita panjang tentang kenangan panjang dan rindu<br>yang tak pernah selesai di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Di akhir surat itu, aku menulis pelan:<br>dalam isak tangis ini al-fatihah untukmu\u2026<br>dan untuk semua yang telah pulang lebih dulu.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu aku lipat\u2026<br>meski tak ada alamat pasti.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena aku tahu\u2014<br>surga tidak membutuhkan perangko dan WA group seperti kita punya.<\/p>\n\n\n\n<p>Ia hanya butuh doa\u2026<br>yang dikirim dari hati lirih yang benar-benar harap\u2026. namun tetap percaya. Hanya Allah Yang Maha Tahu.**<\/p>\n\n\n\n<p>(Bersambung ke Bagian 253, Hari Terakhir\u2014Saat Perpisahan Tak Lagi Bisa Ditunda. Ending akan menjadi titik paling pilu dari kisah ini.)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cerbung no. 252 \/\/ Yulizal Yunus Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan, kadang air mata menetes juga ke layar hendset. Surat dengan setangkai doa bukan untuk siapa-siapa di bumi. Hanya untukmu\u2026 yang kini jauh di langit sana. Dikirim ke surga. Padamu\u2014kasih surgaku. Ku tak tahu, entah sampai atau tidak, tapi bukankah doa&hellip;<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[14],"tags":[],"class_list":["post-276","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-novel"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/276","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=276"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/276\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":280,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/276\/revisions\/280"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=276"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=276"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/yulizalyunus.com\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=276"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}