Skip to content Skip to footer

Min al-‘Aidin wa l-Faizin (10)

Surat Kabar Harian Singgalang, 10-19 September 2009, Hikmah Ramadhan (10 Artikel Beersambung)

// Yulizal Yunus

Ungkapan do’a yang sudah menjadi tradisi di Indonesia memasuki lebaran dari satu teman ke temannya yang lain adalah “min al-‘aidin wa l-Fai’izin, kullu ‘amin wa antum bikhairin” (semoga kita semua termasuk orang yang kembali bersih ke fitrah dan termasuk orang yang sukses, setiap tahun berada dalam kebaikan). Sedang yang disuruh adalah “taqabbalallah minna wa minkum, taqabbal ya kariim” (semoga Allah menerima semua amal ibadah dan kesalehan kami dan anda semua, terimalah ya Kariim). Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar  wa lillahi l-hamd.

 Besok 20 Sept 2009/ 1 Syawal 1430, sebagian besar umat Islam merayakan ‘id al-fithri. Sejak malam setelah ghurub, bekumandang takbir, tahmid, tahlil dan tasbih. Sampai pagi menjelang dan sesudah shalat ‘id. Mereka min al-‘aidin (orang yang kembabli ke fitrah), prosesnya adalah ‘id, artinya kembali (berulangan lebaran dan atau kembali ke fitrah tiap tahun dengan memberikan suasana gembira dan menyenangkan). Fitri (fitrah) artinya awal kejadian manusia yang suci (disertai naluri beragama tauhid). ‘Id al-fitri, artinya hari raya fitri sebagai event tahunan umat Islam kembali berulang dirayakan setiap tahun dengan memberikan aroma kegembiraan, terutama yang merasa masuk kelompok al-fa’izin (yang sukses/ beruntung).

Kata al-fa’izin (orang beruntung/ sukses), ada 2 padanan kata dalam Al-Qur’an. Pertama kata al-muflihun, Kedua kata al-ghalibin. Lawannya kata al-khasirin (orang yang rugi/ tak beruntung). Masing-masing kata itu mempunyai perbedaan dalam proses mendapatkan sukses/ keberuntungan manusia.

Kata al-muflihin (yang menang) ditunjukan dalam banyak ayat Al-Qur’an, pada perinsipnya keberuntungan yang diraih manusia disebabkan menghindari perangai keparat (kafir) dan imannya berfungsi dalam membentuk kepedulian terhadap kesejahteraan umat, ditunjukan dengan suka memberi sebagai bagian dari infaq. Di antara ayat, (1) qad aflaha l-mu’minun (orang beriman menang) dalam QS 23:1. Beriman tak tergoda iming-iming setan dan tergantung hanya kepada Allah swt, pasti sukses (QS 8:48,5:50), (2) orang yang tawakkal (berserah diri pada Allah) beruntung (QS 2:189). Sebaliknya (3) al-zhalimun (orang yang suka menganiaya) tidak beruntung/ rugi (QS.12:23), (4) al-kazzab (pendusta) tidak menang/ rugi dalam QS 10:69. Di antara pendusta dalam QS 107, ialah orang yang mendustai agama, dengan type enggan memberi makan orang miskin , (5) al-mujrimun (selalu berbuat dosa) tak akan beruntung/ rugi dalam QS 10:17. Kegiatan yang memberi jaminan suskses (6) suka bekerja keras dan dalam bekerja selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap kegiatan, akan sukses (QS 62:10). Kinerja suksesnya, tsuqilat mawazinuh (besar kebaikan yang dibuatnya) dalam QS 7:8. Impact kinerja al-muflihin (7) peduli kepada kesejahteraan orang beriman dan orang banyak, akan sukses (QS 30:38), (8) suka memberi sebagai bagian dari infaq (membelanjakan harta) termasuk peduli kesejahteraan orang, akan sukses (QS 2:5, 23:117, 58:22), (9) memberi disertai iman kuat, akan sukses (QS 64:16), (10) berjuang di jalan Allah dengan harta, akan sukses (9:88) dll.

Kata al-ghalibun (yang menang) ditunjukan dalam banyak ayat Al-Qur’an, pada perinsipnya kemenangan yang diraih hasil pertarungan dan tak terkena rayuan apa dan dari siapa pun, termasuk rayuan pesona gemerlapan duniawi yang muncul dalam serba wah dan rayuan setan pada kesempatan tertentu. Di antara ayat (1) hanya yakin kepada Allah swt saja dan tak menandingi kekuatan lain dengan kekuatan apa dan siapapun (QS 5:23, 47:7, 20:68), (2) tak tergantung/ takut sihir apa dan penyihir mana pun (QS 26:40), (3) laa yuflih al-sahir (tak akan beruntung si penyihir) kapanpun dan di manapun, karena penyihir kekuatan magicnya bergantung syarat dan harap materi, tidak harap pada Allah swt (QS 20:69).

Kata Al-fa’izin (yang sukses) seperti dipakaikan untuk yang berlebaran dan puasannya sukses, ditunjukan dalam Al-Qur’an, bahwa kemenangan yang diraih itu buah dari iman kuat, mampu puasa (menahan) dengan baik dan sabar (QS 23:111). Mampu menahan diri dari jebakan “pelacuran intelektual” dan makan “masak mentah” dalam prakteknya suka mengganti yang benar (al-huda) dengan kejahatan (al-dhalalah), fenomena ini ibarat dagang, tidak beruntung (QS 2:16).

Mereka yang al-fa’izin, lebih mempunyai hak bergembira di lebaran. Mereka sukses kembali ke fithrahnya dan bersih dari dzanbih (dosa yang berampun), karena sabar menahan (puasa) dari segala godaan materi dan non materi selama puasa Ramadhan. Mereka di dunia merasa lega karena kemampuan menahan dan di akhirat (QS 59:20) Allah menjanjikan jannah (sorga) bagi al-fa’izin (yang sukses menahan segala rayuan duniawi) itu. Min al-‘Aidin wa l-fa’izin, selamat lebaran 1 Syawal 1430 dan maaf lahir batin.***

Leave a comment