Cerbung no. 252
// Yulizal Yunus
Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan, kadang air mata menetes juga ke layar hendset. Surat dengan setangkai doa bukan untuk siapa-siapa di bumi. Hanya untukmu… yang kini jauh di langit sana.
Dikirim ke surga. Padamu—kasih surgaku. Ku tak tahu, entah sampai atau tidak, tapi bukankah…
Novel
Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang
// Yulizal Yunus
Pagi itu mentari seperti enggan memperlihatkan wajahnya. Langit pucat, jalan tol lengang. Rest area ini… masih sama. Tapi tidak dengan hatiku—ia jauh lebih sepi dari jalan mana pun yang pernah kulalui.
Di sini dulu kita bercerita. Tentang hal-hal kecil yang terasa besar. Tentang masa depan…
Cerbung no. 250
// Yulizal Yunus
Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku. Hujan baru saja reda, tapi gerimisnya masih terasa di mata ini. Entah air hujan, entah air luka yang tak juga usai.
Aku duduk di potongan batang nyiur yang telah lama lapuk di bibir pantai depan Mushalla Riyadatul Jannah , menghadap…