Skip to content Skip to footer

Geo-Muhammadiyah di Pesisir Selatan (3)

Penggerak Pertama Buya Samik Ibrahim

/ Yulizal Yunus

Muhammadiyah berkembang di Sumatera Barat bagian selatan, dimungkinkan tahun 1928. Perintis dan penggeraknya banyak tokoh, yang mengemuka 10 tahun pertama, paling menonjol Buya Samik Ibrahim. Justru boleh dikatakan pemimpin pertama ialah Buya Samik Ibrahim (Lakitan). Selanjutnya dipimpin sebagai Ketua PDM: Buya Ma’rifat Umar (Kambang), Munaf Malin Kayo (Salido), Adnas Rauf (Pasar Kuok), Pakiah Budin (Taluk) lainnya. Dimungkinkan juga dari Inderapura sampai ke Bengkulu ialah Hassandin kakeknya Megawati Soekarno Putri.

Penyebaran Muhammadiyah ke Pesisir Selatan dimungkinkan melalui sanad keilmuan ulama modernis dan amal usaha Muhammadiyah serta melalui para pedagang dan perantau lainnya. Justru merekalah yang lebih dahulu mengenal gagasan pembaruan Islam di kota-kota besar di Indonesia, terutama dari berbasis lahirnya Muhammadiyah di Yogyakarata. Organisasi Muhammadiyah didirikan ulama murid Syekh Ahmad Chatib Al-Minangkabawi, yakni K.H. Ahmad Dahlan di Kampung Kauman Yogyakarta, 18 November 1912 (bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1330 H).

Cara-cara penyeberan Muhammadiyah, menggunakan media dakwah mimbar melalui masjid sekaligus mendidirkan masjid sendiri, mushalla, tabligh akbar. Juga dengan cara mendirikan pendidikan formal dan non formal di samping pengajian dan amaliyah rutin lainnya di surau-surau suku dan rumah-rumah yang sudah menerima paham Muhammadiyah. Dakwah dan pengajian Muhammadiyah sampai ke nagari-nagari Pesisir Selatan tidak saja melalui dakwah dan amal ibadah di masjid-masjid itu, tetapi juga melalui sekolah-sekolah yang didirikan khusus.

Perjalanan penyebarannnya tidak selalu berjalan mulus, sering pula berhadapan dengan dakwah para ulama tradisional yang berbasis tarekat satari, tarekat naqsyabandi, tareka saman dan tarekat sazili lainnya. Selain paham juga berhadapan dengan lingkungan strategis pengaruh global, tantangan modernisasi, urbanisasi, serta pergeseran prilaku menganut nilai adat ber-sandi syara’ oleh generasi muda. Namun, semangat Muhammadiyah tetap relevan dalam mendorong pendidikan berkualitas, memperkuat ukhuwah, serta menjadi motor penggerak pembangunan berbasis masyarakat.

Artinya Muhammadiyah menguat, didukung faktor kemampuan penggeraknya yang dinamis. Mereka mampu hidup berdampingan antar berbagai unsur tokoh agama dan tokoh masyarakat adat ber-sandi syaa’ dan mendialogkannya dalam khazanah tradisi lokal Minangkabau.

Muhammadiyah mendirikan sekolah-sekolah dasar, madrasah, hingga SMP dan SMA di beberapa nagari. Lembaga pendidikan ini menjadi alternatif selain surau tradisional suku/ ninik mamak. Lembaga sekolah Muhammadiyah menawarkan kurikulum modern yang menggabungkan ilmu agama dan ilmu umum.

Bahkan di beberapa nagari, esksistensi Muhammadiyah tidak saja menunjukkan keberadaannya dengan mendirikan kelembagaan secara struktural tetapi malah lebih banyak ditunjukan dengan cara dan pengamalan paham dalam beribadah. Kelembagaan secara struktural seperti Ranting Muhammadiyah, Aisyiyah dan organisasi pemuda Muhammadiyah lainnya, tidak memperlihatkan papan nama, namun pengalamannya terasa pada hampir 90 % di masjid-masjid yang ada.

Artinya gerakan Muhammadiyah di Pesisir Selatan, keberadaannya tidak selalu memperlihatkan simbol administratif dan papan nama elembagaan, namun lebih banyak dan besar gerakan dalam amal usaha, ibadah Muhammadiyah. Baik dalam amal ibadah di masjid-masjid yang tidak bernama masjid Muhammadiyah, juga dalam amal usaha Muhammadiyah dalam bidang ekonomi produktif, pendidikan dan kesehatan serta balai pengobatan lainnya secara sederhana.

Organisasi dan amal Muhammadiyah mudah diterima dan menyebar di nagari-nagari Pesisir Selatan. Fenomena itu dimungkinkan karena semangat modernisnya, baik dalam aspek pemurnian akidah, dakwah dan ibadat serta amal usahanya bidang ekonomi perdagangan, bidang pendidikan kesehatan lainnya yang sangat populis.

Artinya, keberadaan Muhammadiyah tidak lepas dari dinamika penggeraknya yang hubungan sosial serta interaksinya luas, menjangkau pemuka adat Minangkabau baik pemangku adat maupun para ulama setempat. Di beberapa nagari, satu sisi Muhammadiyah dianggap sebagai pembaru yang menantang praktik-praktik prilaku masyarakat adat yang bercampur dengan unsur budaya lama. Namun seiring waktu berjalan, masyarakat menemukan titik temu, falsafah “Adat basandi syara’, syara’ basandi Kitabullah” menjadi jembatan antara adat ber-sandi syara’ dan pemurnian akidah Islam yang diperjuangkan Muhammadiyah.

Simpul kata, Muhammadiyah di Pesisir Selatan bukan sekedar organisasi mengemban misi pendidikan diperkuat paham modernis dalam pemikiran Islam, tetapi juga menjelma menjadi kekuatan sosial dan amal usaha pendidikan yang membentuk dan memberi kontribusi, dalam upaya memperbaiki wajah nagari berbasis ABS-SBK. Dengan semangat tajdid (pembaruan) dan pemunian akidah, Muhammadiyah telah menjadi bagian dari denyut nadi kehidupan masyarakat Pesisir Selatan dan mewarnai perjalanan sejarah Islam. Seiiring dengan perjalanan pelaksanaan adat di nagari-nagari Minangkabau di rantau bagian Selatan Sumatera Barat ini yakni “Pesisir Selatan”.**

Leave a comment