Oleh: Yulizal Yunus Dt.Rajo Bagindo (Pengajar di IAIN-IB dan Mantan Pengurus DMI Sumbar)
Dimuat Harian Haluan,Jumat, 04 May 2012 https://wawasanislam.wordpress.com/2012/05/07/masjid-sebagai-basis-akidah-dan-ideologi/
Eksistensi masjid dipandang sebagai basis akidah, dibenarkan karena tempat bersujud/beribadat kepada Allah SWT. Tetapi masjid juga dipandang sebagai basis ideologi, dibetulkan pula, karena efektif difungsikan masyarakat menjadi pusat kebudayaan. Namun secara fenomenalogis, terdapat perilaku, menjadikan masjid basis radikalis, bagaimana pula kedudukannya itu? Sepertinya ada jawaban dalam sambutan Wakil Presiden Boediono saat membuka Muktamar VI Dewan Masjid Indonesia (DMI) dihadiri 1000 peserta DMI se-Indonesia, di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 27 April 2012 lalu.
Wapres, mematri fungsi masjid dari pespektif akidah disebutnya sebagai basis spiritual umat Islam, terkandung maksud sebagai pusat ibadah. Dari perspektif ideologi, disebutnya masjid sebagai institusi sentral dalam peradaban Islam dan wahana untuk memfasilitasi berbagai pemberdayaan dan penguatan kapasitas umat. Justru yang menarik dan menjadi icon pemberitaan nasional adalah harapannya masjid harus dijaga agar tidak jatuh ke tangan radikalis yang menyebarkan permusuhan.
Kalimat “masjid jangan jatuh ke tangan radikalis”, mengingatkan bangsa kepada beberapa peristiwa, di antaranya peristiwa naas yang terjadi di sebuah masjid kawasan Cirebon, Jawa Barat. Masjid yang berada di areal Markas Kepolisian Resor Cirebon itu, secara ideal berada di bawah pengawasan ketat dan aman, justru di situ meledak bom, saat “Allahu Akbar” bergema memulai rakaat pertama ibadat shalat Jumat, 15 April 2011 lalu. Banyak jemaah terluka, bahkan Kapolres Cirebon sendiri turut menjadi korban. Ini satu fenomena radikalis yang teroris dilansir media massa secara luas yang membuat pembaca berucap “masya Allah”.
Dalam perspektif akidah yang santun di dalam memfungsikan masjid, dimungkinkan fenomenanya seperti ungkapan Ketua Umum Pengurus Pusat DMI Goodwill Zubir, masjid harus berfungsi sebagaimana mestinya, sesuai ajaran agama. Namun sebaliknya di pihak aliran keras tadi, apakah fenomena peledakan ini, termasuk akidah dan ideology juga? Banyak komentar, itu satu bentuk paham, yang prilakunya radikal dan tindakannya memperlihatkan fenomena terorisme.
Masjid sebagai basis akidah dan ideologi masyarakat banyak ditentukan paham keagamaan yang dianut. Paham itu substansinya adalah pemikiran mendasar yang dipegang. Justru ideologi merupakan pemikiran paling mendasar. Pemikiran itu ada di dalam hubungan dengan kehidupan, manusia dan alam, dan tidak dibangun dari pemikiran pemilik paham lain, selain dalam basis kelompok sendiri. Dalam aspek lain disebut juga ideologi itu dengan akidah rasional (‘aqidah ‘aqliyah). Sedangkan aqidah juga pemikiran mendasar, lahir dari sebuah proses berpikir, namun di dalam Islam, aqidah memberikan pemahaman bahwa di balik semuanya ini (kehidupan , manusia dan alam) ada wujud Allah swt. Allah tempat kembali semua urusan sebagai tindakan tawakkal (penyerahan total) sesudah ada upaya manusia.
Radikal
Secara sederhana, sikap radikalis di masjid, secara sederahana sering merona, saat pembicaraan dan pemahaman agama lepas dari praktek kendali iman yang santun dan damai. Baru mulai berbicara nada keras, dari awal sudah memasang kuda-kuda, siapkan peluru kendali untuk membidik dan menembak jitu kiri kanan. Jamaah akhirnya sakit kepala. Apalagi dalam khotbah, tak dapat bertanya. Tepaksa diam tapi di dada berkata-kata. Kalau berlebihan sakit kepala, adakalanya sembahyang Jumatnya diulang dengan salat Zuhor, lantaran kutbah panjang, komentar lepas dan nada keras, tak nyaman sebagai bagian dari ibadat salat Jumat.
Sesungguhnya yang dapat menyulut paham radikal, secara tersembunyi (ada yang menyebut syirik khafi), semuanya harus diselesaikan manusia. Ada pendapat, sikap itu secara sadar tidak meyakini wujud Allah di balik semuanya itu, dan tidak meyakini Allah sebagai tempat kembali semua urusan, setelah habis upaya. Karena itu dapat dicatat faktor penyulut paham radikalisme agama setidaknya: Pertama, faktor paham keagamaan. Ada aspek pemikiran dalam paham ini, “senantiasa berpikir agama saja, umat Islam akan mundur”. “Kalau ingin maju, unggul dan punya daya saing, keluar dari ikatan agama”. Paham ini akan melahirkan paham sekularisme, memisahkan agama dari seluruh aspek kehidupan. Sebaliknya ada paham, kalau ingin maju harus serba agama, siapa yang longgar memegang agama apalagi melanggar dibabat saja. Pemikiran ini melahirkan sikap fundamentalisme. Kedua paham ini (sekularisme dan fundamentalisme) bila subur dalam masyarakat dapat memunculkan sikap keras dan budaya fasad (kontra produktif).
Kedua faktor pendidikan. Biasanya akibat dari pendidikan tidak dapat melahirkan karakter yang santun. Pendidikan agama dan pengetahuan kenegaraan (Pancasila dan UUD-45) atau sekarang 4 pilar kehidupan berbangsa, belum membentuk karakter. Ketiga faktor politik kotor. Fenomena politik sekarang, apakah pilcaleg, pilpres, pilkada atau pertarungan partai politik di pemerintahan, bukan membela yang benar, tetapi membela beruang. Hukum berpihak kepada yang bermodal, demokrasi corak kekuatan-kekuatan asing. Isu HAM dan lingkungan dan politik pembodohan rakyat berjadi-jadi. Fenomena ini membuat masyarakat skeptik. Semakin terjepit, akan melahirkan sikap radikal.
Keempat faktor ekonomi. Sisi kecenderungan praktek leiberalisme ekonomi, modal dan investasi berputar pada kelompok kaya. Owner basis ekonomi itu pun tidak pula pemiliknya anak bangsa, tetapi kekuatan asing yang bekolaborasi dengan oknum orang di politik dan pemerintah. Rakyat kehilangan kesempatan, hak sharing modal dan keuntungan berbagi, baik dalam bentuk uang maupun lahan (Minang: tanah ulayat). Kelima faktor sosial. Masyarakat di mana pun pasti ada konflik. Konflik terjadi karena ada tabrakan kepentingan pribadi atau kelompok sosial di satu pintu. Mungkin juga karena pendistribusian hak tidak seimbang dengan kewajiban sosial.
Keenam faktor psikologis. Timbul gejala kejiwaan pribadi atau kelompok, sederhanya saja karena gagal mendapat kepentingan. Orang atau kelompok orang yang gagal dalam hidup dan kehidupannya, lalu sempat ditarik dan mendapat tunggangan kuda tarik politik berhaluan keras, akan mudah terhasut.
Keenam faktor yang menyebabkan lahirnya paham radikalis yang berpotensi melahirkan teror tak kecuali di masjid, semestinya mendapat perhatian dalam pemberdayaan masyarakat. Masjid dapat difungsikan sebagai basis “penjernihan akidah” (di samping pusat ibadah) dan “penyehatan mental ideologi” (di samping pusat kebudayaan dan peradaban). Upaya ini, melahirkan kehidupan berbangsa dan beragama memperlihatkan suasana santuan dan damai.
Santun dan Damai
Islam itu substansinya damai. Prioritas Nabi Saw, diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia (dalam esensi adat: sopan- santun, berbudi baik dan berbaso indah) adalah untuk kedamaian umat dan rahmatan lil’alamin. Masjid didirikan pertama dalam hijrahnya Nabi SAW, sebagai basis akidah dan pusat peradaban (bagian dari ideologi). Karenanya kembali kepada sambutan Wapres dalam Muktamar VI DMI tadi, semakin menarik. Ia juga mengharap: “kita berkepentingan mesjid terpelihara, dan dalam pemakmurannya (ta’mir al-masjid) terus dijaga jangan jatuh kepada penyebar gagasan yang tidak Islami seperti radikalisme, fanatisme dan sectarian yang sesukanya menghembuskan permusuhan dalam intern paham keagamaan dan antar paham umat yang punya kepercayaan berbeda, juga sering memicu kegiatan provokatif yang bisa berujung pada tindak radikal dan berbuat teror serta fasad.
Islam mengajarakan kerukunan dan sangat toleran. Sebaliknya dari masjid di Indonesia hampir mencapai satu juta teramasuk mushalla, masyarakat Islam ditantang memperlihatkan Islam dengan karakter damai serta penuh rahmat Allah berasis di masjid. Karena dulu dalam kejayaan peradaban misalnya di Minangkabau, surau (masjid–mushalla) efektif menjadi simbol budi luhur, diprakarsai ninik mamak dan ulama serta dikontrol cadiak pandai.
Namun Indonesia yang sangat majemuk: banyak agama, suku dan etnik bahkan banyak paham Islam sendiri, menafsirkan Islam dengan karakter damai itu pun berbeda seperti berbedanya memandang sikap radikal dan moderat termasuk pemaknaan jihad tanpa memanggul senjata dan atau langsung mengusung dan membidik senjata. Dalam mengungkap pandangan itu, melahirkan komentar-komentar/pendapat berbeda. Di antaranya, lahir pandangan seperti dari paham penegak khilafat, memandang anjuran seperti tadi sebagai fenomena sikap Islam phobia. Dapat dituduh keras pula menyingkirkan yang dipandang keras. Mereka khawatir pemimpin tidak memahami dalam tanda dua petik “berjihad”, dan diposisikan sebagai radikal dan terrorism, yang menurut paham ini tak harus dialamatkan kepada kelompoknya. Justru sebaliknya memahami “jihad” mulai dari gerakan sederhana, misalnya dalam ta’mir masjid, di sampang dulu sebagai basis perjuangan menumpas penjajah, juga dimulai dari merendahkan suara dan pengeras suara dalam mengumandangkan ceramah, khotbah, dzikir, bacaan Alquran anak TPA, doa dan sebagainya, agar tetangga yang non muslim dan atau muslim dengan paham agama yang berbeda tenteram pula di rumahnya.
Itu satu di antara karakter Islam santun dan damai. Suara seperti ini dalam Muktamar DMI pun Wapres menuai protes dari organisasi Islam, DPR, organisasi pemuda dan sebagainya (Haluan, 28 April 2012). Ini sebenarnya juga berakar dari ideologi dan akidah yang santun dan damai dikumandangkan dari masjid. Tentu saja semua harapan dan gerakan ini di garda terdepan adalah Dewan Masjid Indonesia. Semoga Allah bersama kita.***
Subuh di Masjid As-Sakinah 14 April 2026 // Yulizal Yunus وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ…
//Yulizal Yunus Langit siang itu terasa lebih teduh dari biasanya. Entah karena cahaya yang jatuh…
// Yulizal Yunus Yayasan SAKO Anak Negeri menggelar rapat strategis tahunan pada Selasa, 7 April…
Cerbung no. 252 // Yulizal Yunus Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan,…
Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang // Yulizal Yunus Pagi itu mentari seperti enggan…
Cerbung no. 250 // Yulizal Yunus Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku.…