// Yulizal Yunus
Pagi itu mentari seperti enggan memperlihatkan wajahnya. Langit pucat, jalan tol lengang. Rest area ini… masih sama. Tapi tidak dengan hatiku—ia jauh lebih sepi dari jalan mana pun yang pernah kulalui.
Di sini dulu kita bercerita. Tentang hal-hal kecil yang terasa besar. Tentang masa depan yang kita susun pelan-pelan, seolah waktu akan selalu memberi ruang.
Aku duduk di bangku yang sama. Mengusap permukaannya, seakan sisa hangatmu masih tertinggal.
Malam sebelumnya aku bermimpi.
Aku berdiri di suatu tempat yang asing tapi terasa akrab. Kabut tipis menyelimuti, dan di kejauhan… dua gunung berdiri berdampingan berselendang kabut.
“Gunung Marapi… mana Singgalang?” tanyaku dalam mimpi itu.
Kau di sampingku. Diam. Lalu menjawab pelan,
“Entahlah… aku harus pergi.”
Aku menoleh cepat. “Pergi? Ke mana?”
Tapi kau… menghilang. Begitu saja. Tanpa jejak.
Aku menangis. Dalam mimpi itu, tangisku terasa nyata. Kehilangan yang begitu dalam sampai dadaku sesak.
Bayangan kita yang berdampingan—orang-orang menyebutnya seperti Marapi dan Singgalang. Selalu bersama. Selalu saling menguatkan.
Aku terisak.
Namun… tiba-tiba nuraniku membantah.
Tak pantas merasa kehilangan.
Tak boleh ada kata kehilangan.
Bukankah… kita ini hanya dipinjami?
Jika yang punya memanggil kembali… apakah pantas kita menyebutnya kehilangan?
Aku terdiam dalam mimpi itu.
Lalu entah bagaimana, bayangan berubah. Aku melihat seorang tukang parkir. Ia berdiri santai, menerima mobil-mobil mewah yang datang silih berganti. Ia menjaga, merapikan… lalu saat pemiliknya kembali dan membawa pergi mobil itu, ia malah tersenyum.
Bukan menangis.
Bukan merasa kehilangan.
Karena ia tahu—itu bukan miliknya.
Ayam berkokok.
Fajar menyingsing.
Aku tersentak bangun.
Dan kau… juga tersentak di sampingku.
Kita saling pandang, lalu tanpa kata berjalan keluar. Di hadapan kita—dua gunung itu. Marapi dan Singgalang. Berdiri berdampingan, kokoh, seolah menjadi saksi sesuatu yang belum sempat kita pahami.
Aku menggosok mata. Sedikit uring-uringan.
“Mimpi… ada-ada saja,” kataku, mencoba menepis perasaan aneh yang tertinggal.
Kau tersenyum kecil. Senyum yang kini… paling kurindukan.
“Wail…!”
Esok harinya, semua berubah.
Kita duduk di ruang dokter. Sunyi, dingin, dan terlalu terang. Seorang dokter spesialis—dokter nuklir onkologi. Kata-katanya pelan, tapi menghantam keras.
“Harus operasi.”
Aku terenyuh. Dunia seperti berhenti sesaat.
Kau… terlihat risau. Tapi hanya sebentar. Semangatmu menutupinya. Kau bahkan menggenggam tanganku lebih erat.
“Kita jalani,” katamu.
Ya Allah… Engkaulah yang tahu takwil mimpi.
Hari-hari berlalu. Rumah sakit menjadi dunia kecil kita. Bau obat, suara alat medis, doa-doa lirih di malam hari.
Dan kini… aku kembali melintas di jalan ini.
Rest area itu. Gunung itu. Marapi dan Singgalang masih berdiri seperti dulu.
Nyata.
Tapi juga seperti mimpi.
Kadang aku tak mampu membedakan keduanya. Mana yang pernah benar-benar terjadi, mana yang hanya bayangan yang terlalu ingin kupercaya.
Kita ini sering tak pandai membaca tanda. Walaupun Nabi SAW menyuruh, bacala!
Padahal… Engkau sudah memberi isyarat.
Aku menatap kedua gunung itu lama.
Air mata kembali jatuh, tapi kali ini lebih tenang. Lebih menerima.
Hanya satu yang bisa kusisipkan di setiap hela napas hidupku kini—
seuntai, setangkai doa.
“Kasihi kami… ya Rabb…”
Karena kini aku mengerti—
aku bukan kehilanganmu.
Aku… hanya sedang belajar merelakan titipan yang paling kucintai… kembali kepada Pemilik-Nya.
(Bersambung ke Bagian 251: Hari Operasi—Saat Doa dan Takdir Bertemu, dengan akhir yang akan benar-benar mengoyak hati.)
Subuh di Masjid As-Sakinah 14 April 2026 // Yulizal Yunus وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ…
//Yulizal Yunus Langit siang itu terasa lebih teduh dari biasanya. Entah karena cahaya yang jatuh…
// Yulizal Yunus Yayasan SAKO Anak Negeri menggelar rapat strategis tahunan pada Selasa, 7 April…
Cerbung no. 252 // Yulizal Yunus Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan,…
Cerbung no. 250 // Yulizal Yunus Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku.…
Tagline: Pusako ASEAN // Yulizal Yunus Selebrasi 50 tahun Museum Adityawarman bukan sekadar peringatan usia…