Categories: Novel

Surat ke Surga

Cerbung no. 252


// Yulizal Yunus

Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan, kadang air mata menetes juga ke layar hendset. Surat dengan setangkai doa bukan untuk siapa-siapa di bumi. Hanya untukmu… yang kini jauh di langit sana.

Dikirim ke surga. Padamu—kasih surgaku. Ku tak tahu, entah sampai atau tidak, tapi bukankah doa dan rindu selalu punya jalannya sendiri?

“Dengarlah…” doa rintihan lirih dalam surat ini, pelan. Juga kabar orang-orang terkasihmu. Apa kata adik-adik tersayang kita di sini…. Membuat kita bangga dan senang pada mereka.

Liza dari Semenanjung saatmu terbaring menelpon dalam kata terputus karena isak tangisnya. Ketika ia mendapat kabar engkau sudah tiada.

Apa katanya, abang, Liza  belum kuasa menyeberangi laut dan melintas udara menyeruak awan haru biru ini. Hanya boleh berdoa arwah kakak Wati Husnul Khatimah. Rohnya dalam Rahmat Allah tergolong para salihah. Ia terisak.

“Adikku cantik, hapuslah air matamu mari sama kita iringi kakak dengan doa”.

Namun bang,  bersyukur juga Liza dengan kakak beradik baru saja bertemu dan sempat menjemput kakak saat berobat ke Petaling Jaya Kuala Lumpur. Dan adikmu ini merasa saking terkenangnya bertukar rasa masakan dari air tangan Liza serta emak dan maknyoh.  Kita makan bersama, ketawa cikikan,  meskipun kakak sering menyembunyikan air matanya mungkin ingat sakitnya,  namun tak mengurangi wujud memori indah waktu bersama di rumah Aya Roshaya di Perak. Aya adik kita sang polis menyebut kakak tersayang. Si kecilnya betapa kakak menyayanginya. Betapa ia senang membawa kita ke kampung tuk Sidi di geluk.

Liza pun terkenang senang dulu membawa kakak minta diantar ke rumah bang Latif di Seremban. Bang Latif membawa kakak ke Tower Kembar,  melihat keluarga negeri sembilan, kabarnya esok malam makan sate adik bang latif di jalan Tuanku Jaafar di Serimenati, esoknya juga membawa kakak ke kampung cerdas kat kantor PM Anwar.

Adik kita pula Sopia bertutur dengan suara yang basah oleh rasa duka namun meredakan tangis ini. Katanya, bang, duka, sedih, hiba, sayu… itu juga anugerah Allah untuk manusia.

Aku lama terdiam di kalimat itu.

Anugerah…?
Betapa berat memahami kata itu saat air mata meleleh dan hati sedang serak dan retak.

Namun ia benar. Adik tersayang kita filosofinya dalam juga. Merelakan… mengembalikan yang dipinjamkan… adalah aturan yang harus ditaati, katanya lagi.

Ia menyapaku menghibur.
“Abg Datuk dikurniakan tinta emas yang berharga… curahkanlah di sini. Kami sentiasa ada… berkongsi duka”

Aku membaca itu berulang kali.
Tanganku gemetar. Air mata seakan tak bisa kuhapus, bercampur haru dan bangga.

Ternyata… aku tidak sendiri dalam luka ini.
Adik kita Samsiah pun bersuara, meski serak karena haru.

Ia mengingatkan masa lalu—
saat suaminya terbaring sekarat di rumah sakit Kuala Lumpur.
Aku ingat itu. Waktu itu kita bersama-sama iyadah – menjenguknya dan berdoa di ICU.

Kini… ia menguatkanku,
padahal ia pernah berada di titik nadir sunyi yang sama.

Maknanya, adik kita Salmiah juga…
baru kehilangan suami, tempat ia bergantung.

Duka… rupanya tak memilih siapa.
Ia datang, mengetuk, lalu ditinggal…
tanpa permisi.

“Kini Abg Datuk…” tulislah tentang Kak Wati, sebagai pengingat,  kita semua juga pada saatnya akan dipulangkan ke pangkuan Rabb kita…”

Dipulangkan.

Kata itu kembali menyentuh lembut relung hatiku.

Bukan diambil.
Bukan dirampas.
Tapi… dipulangkan, saat dijemput.

Semoga… kita semua kelak berkumpul di sisiNya,  surga Jannatul ‘Adnin,
kataku lanjut menulis surat ini, sambil menahan sesak yang kembali naik ke dada.

Sopiah kembali menulis.

Ia berkisah kisah sedihnya. Sudah hampir 14 tahun ia menanggung rindu… atas kepulangan anak tercintanya—Shauque Sufi.

Empat belas tahun…
dan ia masih berdiri.

Aku menunduk lama.

Jika ia bisa…
mengapa aku merasa tak sanggup?

“Yang hidup… tambahkan amalan.
Yang pergi… tidak kembali. Itu pasti.”

Kalimat itu sederhana.
Namun menghujam dalam.

Salmiah berkata lagi,
“Hidup ini sebentar saja…
Kehilangan teman hidup tahun 2023 mengajarku—sepi itu indah…”

Sepi… indah?

Aku memandang kosong ke luar jendela.
Mencoba memahami makna itu. Dalam berisik gerimis di luar dan di hatiku yang lirih.

Mungkin… sepi adalah ruang
di mana kita belajar berbicara dan berkata -kata hanya dengan Allah.

Lalu suara Suardi—adik kita—
seperti menahan tangis yang sama denganku.

Ia berkata,
kesedihan ini terlalu dalam.
Tak tertahankan.
Dan hanya bisa tertuang dalam tulisan meskipun tak seluruhnya. Sisanya air mata yang mengalir yang tak kuasa disembunyikan

Ia benar.

Kalau duka ini bisa dibagi,
mereka akan memikulnya bersamaku.

Tapi… kehendak takdir Allah…
tak bisa ditawar. Justru ia pemiliknya.

Mereka khawatir aku tenggelam.
Kehilangan arah.
Kehilangan diri.

Padahal… bukankah aku hanya sedih ditinggalpergimu?

Atau… justru aku sedang menemukan sesuatu yang lebih dalam?

Ia mengingatkanku—
apa yang sering kuajarkan dulu:

Tak ada satu pun yang sia-sia dari Allah.

Kini… kata-kata itu kembali kepadaku.
Seperti cermin yang memaksa aku menatap diri sendiri.

Aku menutup surat ini perlahan.

Air mata jatuh —
tapi tidak lagi meledak.

Lebih sunyi.
Lebih dalam.

“Ayah Datuk, abang mereka tidak meratap…” bisikku.
“Hanya menulis… sejujurnya apa yang kurasakan”

Karena hanya itu yang tersisa.

Menulis… agar rindu punya tempat.
Menulis… agar luka tidak membusuk dalam diam.

Kasih surgaku…

Jika surat ini sampai padamu,
ketahuilah—

aku masih di sini.
Masih belajar…
mengikhlaskan.

Bukan melupakan.

Tidak… aku insya Allah tak akan pernah melupakanmu.

Aku hanya…
sedang belajar berdiri
dengan satu sayap yang patah.

Dan suatu hari nanti,
jika saatnya tiba — aku akan menyusulmu.

Insya Allah, bukan dengan tangis,
tapi dengan tenang.

Membawa cerita panjang tentang kenangan panjang dan rindu
yang tak pernah selesai di dunia.

Di akhir surat itu, aku menulis pelan:
dalam isak tangis ini al-fatihah untukmu…
dan untuk semua yang telah pulang lebih dulu.

Lalu aku lipat…
meski tak ada alamat pasti.

Karena aku tahu—
surga tidak membutuhkan perangko dan WA group seperti kita punya.

Ia hanya butuh doa…
yang dikirim dari hati lirih yang benar-benar harap…. namun tetap percaya. Hanya Allah Yang Maha Tahu.**

(Bersambung ke Bagian 252, Hari Terakhir—Saat Perpisahan Tak Lagi Bisa Ditunda. Ending akan menjadi titik paling pilu dari kisah ini.)

Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan, kadang air mata menetes juga ke layar hendset. Surat dengan setangkai doa bukan untuk siapa-siapa di bumi. Hanya untukmu… yang kini jauh di langit sana.

Dikirim ke surga. Padamu—kasih surgaku. Ku tak tahu, entah sampai atau tidak, tapi bukankah doa dan rindu selalu punya jalannya sendiri?

“Dengarlah…” doa rintihan lirih dalam surat ini, pelan. Juga kabar orang-orang terkasihmu. Apa kata adik-adik tersayang kita di sini…. Membuat kita bangga dan senang pada mereka.

Liza dari Semenanjung saatmu terbaring menelpon dalam kata terputus karena isak tangisnya. Ketika ia mendapat kabar engkau sudah tiada.

Apa katanya, abang, Liza  belum kuasa menyeberangi laut dan melintas udara menyeruak awan haru biru ini. Hanya boleh berdoa arwah kakak Wati Husnul Khatimah. Rohnya dalam Rahmat Allah tergolong para salihah. Ia terisak.

“Adikku cantik, hapuslah air matamu mari sama kita iringi kakak dengan doa”.

Namun bang,  bersyukur juga Liza dengan kakak beradik baru saja bertemu dan sempat menjemput kakak saat berobat ke Petaling Jaya Kuala Lumpur. Dan adikmu ini merasa saking terkenangnya bertukar rasa masakan dari air tangan Liza serta emak dan maknyoh.  Kita makan bersama, ketawa cikikan,  meskipun kakak sering menyembunyikan air matanya mungkin ingat sakitnya,  namun tak mengurangi wujud memori indah waktu bersama di rumah Aya Roshaya di Perak. Aya adik kita sang polis menyebut kakak tersayang. Si kecilnya betapa kakak menyayanginya. Betapa ia senang membawa kita ke kampung tuk Sidi di geluk.

Liza pun terkenang senang dulu membawa kakak minta diantar ke rumah bang Latif di Seremban. Bang Latif membawa kakak ke Tower Kembar,  melihat keluarga negeri sembilan, kabarnya esok malam makan sate adik bang latif di jalan Tuanku Jaafar di Serimenati, esoknya juga membawa kakak ke kampung cerdas kat kantor PM Anwar.

Adik kita pula Sopia bertutur dengan suara yang basah oleh rasa duka namun meredakan tangis ini. Katanya, bang, duka, sedih, hiba, sayu… itu juga anugerah Allah untuk manusia.

Aku lama terdiam di kalimat itu.

Anugerah…?
Betapa berat memahami kata itu saat air mata meleleh dan hati sedang serak dan retak.

Namun ia benar. Adik tersayang kita filosofinya dalam juga. Merelakan… mengembalikan yang dipinjamkan… adalah aturan yang harus ditaati, katanya lagi.

Ia menyapaku menghibur.
“Abg Datuk dikurniakan tinta emas yang berharga… curahkanlah di sini. Kami sentiasa ada… berkongsi duka”

Aku membaca itu berulang kali.
Tanganku gemetar. Air mata seakan tak bisa kuhapus, bercampur haru dan bangga.

Ternyata… aku tidak sendiri dalam luka ini.
Adik kita Samsiah pun bersuara, meski serak karena haru.

Ia mengingatkan masa lalu—
saat suaminya terbaring sekarat di rumah sakit Kuala Lumpur.
Aku ingat itu. Waktu itu kita bersama-sama iyadah – menjenguknya dan berdoa di ICU.

Kini… ia menguatkanku,
padahal ia pernah berada di titik nadir sunyi yang sama.

Maknanya, adik kita Salmiah juga…
baru kehilangan suami, tempat ia bergantung.

Duka… rupanya tak memilih siapa.
Ia datang, mengetuk, lalu ditinggal…
tanpa permisi.

“Kini Abg Datuk…” tulislah tentang Kak Wati, sebagai pengingat,  kita semua juga pada saatnya akan dipulangkan ke pangkuan Rabb kita…”

Dipulangkan.

Kata itu kembali menyentuh lembut relung hatiku.

Bukan diambil.
Bukan dirampas.
Tapi… dipulangkan, saat dijemput.

Semoga… kita semua kelak berkumpul di sisiNya,  surga Jannatul ‘Adnin,
kataku lanjut menulis surat ini, sambil menahan sesak yang kembali naik ke dada.

Sopiah kembali menulis.

Ia berkisah kisah sedihnya. Sudah hampir 14 tahun ia menanggung rindu… atas kepulangan anak tercintanya—Shauque Sufi.

Empat belas tahun…
dan ia masih berdiri.

Aku menunduk lama.

Jika ia bisa…
mengapa aku merasa tak sanggup?

“Yang hidup… tambahkan amalan.
Yang pergi… tidak kembali. Itu pasti.”

Kalimat itu sederhana.
Namun menghujam dalam.

Salmiah berkata lagi,
“Hidup ini sebentar saja…
Kehilangan teman hidup tahun 2023 mengajarku—sepi itu indah…”

Sepi… indah?

Aku memandang kosong ke luar jendela.
Mencoba memahami makna itu. Dalam berisik gerimis di luar dan di hatiku yang lirih.

Mungkin… sepi adalah ruang
di mana kita belajar berbicara dan berkata -kata hanya dengan Allah.

Lalu suara Suardi—adik kita—
seperti menahan tangis yang sama denganku.

Ia berkata,
kesedihan ini terlalu dalam.
Tak tertahankan.
Dan hanya bisa tertuang dalam tulisan meskipun tak seluruhnya. Sisanya air mata yang mengalir yang tak kuasa disembunyikan

Ia benar.

Kalau duka ini bisa dibagi,
mereka akan memikulnya bersamaku.

Tapi… kehendak takdir Allah…
tak bisa ditawar. Justru ia pemiliknya.

Mereka khawatir aku tenggelam.
Kehilangan arah.
Kehilangan diri.

Padahal… bukankah aku hanya sedih ditinggalpergimu?

Atau… justru aku sedang menemukan sesuatu yang lebih dalam?

Ia mengingatkanku—
apa yang sering kuajarkan dulu:

Tak ada satu pun yang sia-sia dari Allah.

Kini… kata-kata itu kembali kepadaku.
Seperti cermin yang memaksa aku menatap diri sendiri.

Aku menutup surat ini perlahan.

Air mata jatuh —
tapi tidak lagi meledak.

Lebih sunyi.
Lebih dalam.

“Ayah Datuk, abang mereka tidak meratap…” bisikku.
“Hanya menulis… sejujurnya apa yang kurasakan”

Karena hanya itu yang tersisa.

Menulis… agar rindu punya tempat.
Menulis… agar luka tidak membusuk dalam diam.

Kasih surgaku…

Jika surat ini sampai padamu,
ketahuilah—

aku masih di sini.
Masih belajar…
mengikhlaskan.

Bukan melupakan.

Tidak… aku insya Allah tak akan pernah melupakanmu.

Aku hanya…
sedang belajar berdiri
dengan satu sayap yang patah.

Dan suatu hari nanti,
jika saatnya tiba — aku akan menyusulmu.

Insya Allah, bukan dengan tangis,
tapi dengan tenang.

Membawa cerita panjang tentang kenangan panjang dan rindu
yang tak pernah selesai di dunia.

Di akhir surat itu, aku menulis pelan:
dalam isak tangis ini al-fatihah untukmu…
dan untuk semua yang telah pulang lebih dulu.

Lalu aku lipat…
meski tak ada alamat pasti.

Karena aku tahu—
surga tidak membutuhkan perangko dan WA group seperti kita punya.

Ia hanya butuh doa…
yang dikirim dari hati lirih yang benar-benar harap…. namun tetap percaya. Hanya Allah Yang Maha Tahu.**

(Bersambung ke Bagian 253, Hari Terakhir—Saat Perpisahan Tak Lagi Bisa Ditunda. Ending akan menjadi titik paling pilu dari kisah ini.)

admin

Share
Published by
admin

Recent Posts

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 248

Subuh di Masjid As-Sakinah 14 April 2026 // Yulizal Yunus وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ…

2 days ago

Bangga Susi Fitria Dewi Guru Besar

//Yulizal Yunus Langit siang itu terasa lebih teduh dari biasanya. Entah karena cahaya yang jatuh…

1 week ago

SAKO Tahun 2026 dengan Program Unggul

// Yulizal Yunus Yayasan SAKO Anak Negeri menggelar rapat strategis tahunan pada Selasa, 7 April…

1 week ago

Kasih Surga

Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang // Yulizal Yunus Pagi itu mentari seperti enggan…

2 weeks ago

Kau Yang di Surga

Cerbung no. 250 // Yulizal Yunus Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku.…

2 weeks ago

Selebrasi 50 Tahun 1977-2027 Museum Adityawarman

Tagline: Pusako ASEAN // Yulizal Yunus Selebrasi 50 tahun Museum Adityawarman bukan sekadar peringatan usia…

2 weeks ago