Surat Kabar Harian Singgalang, 10-19 September 2009, Hikmah Ramadhan (10 Artikel Bersambung)
// Yulizal Yunus
Pada bulan Ramadhan dan menjelang lebaran cukup banyak godaan kesabaran dan ujian keimanan. Memasuki dan berada di bulan Ramdhan saja ada derita dan juga ada ke bahagiaan. Derita, terkesan pada keluhan, sembako melonjak naik, juga keluhan listrik sering mati. Kebahagiaan terkesan, datang kesempatan berbuka dan rayuan memperbaharui penampilan dengan memburu serba murah dan diskon untuk lebaran.
Derita sembako naik, sebenarnya tidak seluruhnya berakar pada prilaku pasar, pedagang pengecer, distributor dan importir, tetapi juga tanpa disadari, berakar pada diri pembeli. Sudah menjadi tradisi kurang baik, begitu Ramadhan masuk pasar rami. Katanya membeli kebutuhan Ramadhan. Tanpa disadari ada kesan berlebihan. Puasa disuruh menahan, yang terkesan di pasar justru ingin berpuas-puas. Coba tanya kaum ibu, mana yang lebih besar belanja di bulan Ramdhan atau di bulan di luar Ramadhan. Kalau besar belanja di bulan Ramadhan, bagaimana dengan perintah menahan sebagai esensi/ inti suruhan puasa. Hal yang paradoksal ini terjadi. Kondisi objektif masyarakat rami berbelanja di Ramadhan apa lagi menjelang lebaran, menyahuti rayuan serba baru dan memperbaharui penampilan, lalu memburu serba murah dan diskon untuk lebaran.
Kadang lupa ”tawashau bi l-sabri” (tausiyat bersabar) dan menahan diri, yang menyebak “al-insan lafi khusrin (manusia terjebak dalam rugi)” seperti nafas peringatan QS. Al-Ashri. Sabar dimaksud, tabah atau tidak terlalu tergoda rayuan apa dan siapa pun termasuk penampilan serba baru menghadapi lebaran. Tergoda rayuan serba baru menghadapi lebaran, bisa menjebak gayung bersambut bagi aneka cara promosi pusat perbelanjaan dengan rayuan iklan “100% murah dan penuh diskon untuk lebaran”. Kurang waspada masyarakat pembeli satu sisi puas, satu sisi tak disadari menguras kantong, kemudian sesudah lebaran “gawik gapai” alias pusing, karena mulai kepepet.
Kalau masih situasi normal bolehlah. Kalau situasi tak menentu, harga tak pasti. Rami-rami ke pasar, seperti tradisi kurang baik dalam pemenuhan kebutuhan Ramadhan dan Lebaran. Kebutuhan lebih meningkat dibanding bulan di luar Ramadhan. Rami-rami ke pasar, permintaan besar dan pasti beresiko. Dari perspektif akidah dan syari’ah dalam pelaksanaan puasa, tradisi berambisi membeli-beli, animo memperbaharui penampilan, berpuas-puas dimungkinkan akan merusak puasa yang intinya perintahnya “menahan”. Dari perspektif ekonomi pasar rami-rami ke pasar dan permintaan tinggi dipastikan memicu harga naik. Masuklah hukum permintaan: “permintaan tinggi dan persediaan sedikit/ terbatas, harga naik”. Kodisi seperti ini suka atau tidak suka pasti terjadi.
Hanya saja yang tidak disukai adalah “jama’a maala (sikap menumpuk). Importir, distributor, pedagang enceran menyimpan barang, sehingga memicu barang naik/ mahal, karena langka di pasar. Termasuk pembeli yang berduit membeli banyak dan menyimpan, sehingga ada yang tidak kebahagian. Baik dalam praktek jual beli mau pun dalam perinsip dagang syari’ah pasti tidak disukai. Praktek seperti itu termasuk cara ekonomi konvensional, hanya sekolompok orang saja yang diuntungkan dan tidak ada perinsip menyejahterakan orang banyak seperti esensinya ekonomi syari’ah. Karenanya menahan diri inti puasa, tahan terhadap rayuan apa dan siapa saja untuk berpuas-puas apakan untuk perbaikan penampilan atau perbaikan penyediaan makanan lebaran.***
Subuh di Masjid As-Sakinah 14 April 2026 // Yulizal Yunus وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ…
//Yulizal Yunus Langit siang itu terasa lebih teduh dari biasanya. Entah karena cahaya yang jatuh…
// Yulizal Yunus Yayasan SAKO Anak Negeri menggelar rapat strategis tahunan pada Selasa, 7 April…
Cerbung no. 252 // Yulizal Yunus Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan,…
Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang // Yulizal Yunus Pagi itu mentari seperti enggan…
Cerbung no. 250 // Yulizal Yunus Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku.…