Rapat teknis pelaksanaan Baralek Gadang Istana Silindung Bulan di Anjungan Emas. Hadir Daulat Yang DiPertuan Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung Darul Qarar Sultan Dr. Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah, Puti Reno Prof. Dr. Raudha Thaib Yang DiPertuan Gadih Istana Silinduang Bulan Pagaruyung dan Mandeh Sako Suku Malayu Koto Tuo Batangkape Banda X Dr. Helgawati, MM. Pagaruyung, 31 Maret 2026.
// Yulizal Yunus
Di halaman Istana Silinduang Bulan Pagaruyung, selasa 31 Maret 2026 angin pagi seolah membawa kabar yang telah lama dinanti. Keluarga besar istana di anjungan emas rapat teknis alek gadang manjalang induak tidak sekadar mempersiapkan sebuah acara, tetapi menyusun kembali simpul-simpul batin yang telah lama merindu: pertemuan antara induak dan anak, antara asal usul dan anak yang kembali.
Hari-hari menjelang 12 April 2026 terasa berbeda. Di setiap sudut istana, tampak kesungguhan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga emosional. Kain-kain adat dirapikan, perlengkapan prosesi disusun dengan cermat, dan langkah-langkah acara dimatangkan dengan penuh kehati-hatian. Namun di balik semua itu, tersimpan getar yang sama: harapan agar alek gadang ini menjadi pengikat kembali tali yang mungkin pernah merenggang oleh waktu dan jarak.
Kaum Suku Malayu Koto Tuo Batang Kapeh Banda Sapuluah, sebagai bagian dari kerabat besar Pagaruyung, datang bukan sekadar sebagai tamu. Mereka datang sebagai anak yang pulang, membawa rindu kepada induak yang selama ini hanya tersimpan dalam ingatan dan cerita syukur ads yang tau tasabuik di dalam ranji limbago Pagaruyung.
Dalam persiapan itu, terdengar seruan adat. Datuk Sati maimbau kepada Datuk Cumano, menandakan bahwa segala unsur kaum telah dipanggil, bahwa ini bukan acara biasa, melainkan panggilan adat yang mengikat seluruh ranji dan limbago.
Ketika hari yang dinanti tiba, acara pun dimulai dengan penuh khidmat. Dalam balairung fungsi istana silinduang bulan, yang sarat makna, Daulat Yang Dipertuan Rajo Alam Minangkabau Pagaruyung, Sultan Muhammad Farid Thaib Tuanku Abdul Fatah, bertitah dengan wibawa:
“Anak kito dari suku malayu koto tuo, manjalang induak dalam alek gadang 12 April ini. Tigo hal nan kito junjung: manarimo dusanak malayu koto tuo, mangkonsolidasikan karabat Pagaruyung, serta mangukuhkan dewan undang.”
Titah itu bukan sekadar pesan, melainkan arah yang menegaskan makna pertemuan ini. Bahwa manjalang induak adalah ruang penerimaan, penguatan, dan peneguhan adat.
Di sisi lain, Puti Reno Prof. Dr. Raudha Thaib, Yang Dipertuan Gadih Istana Silinduang Bulan, menyampaikan rasa yang lebih dalam—rasa seorang induak yang menanti anak-anaknya pulang:
“Acara pokok dalam prosesi adalah mambantai kerbau. Arakan di halaman akan disambut silek galombang, lalu ditaguah di janjang untuk naik ke istana. Makanlah dahulu—makan daging kabau, jangan dikalahkan oleh samba nan banyak. Dagiang itu saksi. Ambo dahulu samo makan dagiangnya nan balapa, kuah nan bakacau.”
Ungkapan itu bukan sekadar nasihat jamuan, melainkan simbol kebersamaan. Daging yang dimakan bersama menjadi saksi hubungan yang tidak terputus, menjadi penanda bahwa kebersamaan adalah inti dari adat itu sendiri.
Beliau melanjutkan dengan suara yang sarat haru:
“Manjalang induak, raso induak ingin batamu jo anak. Dan anak punyo raso rindu ka induak. Mandeh ingin batamu anak, semuanya.”
Kalimat itu menggambarkan inti dari seluruh perhelatan ini: pertemuan batin antara yang melahirkan dan yang dilahirkan dalam garis tali rahim dalam adat Minangkabau.
Lebih jauh, harapan pun disampaikan:
“Induak ingin mengunjungi anak kami di Banda Sapuluah, di wilayah Kabupaten Pesisir Selatan kini. Momentum manjalang induak ini, anak kami diharapkan hadir semua.”
Ajakan ini menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara pusat adat di Pagaruyung dan anak nagari di rantau asalnya. Momentum ini juga diharapkan menjadi ruang untuk konsolidasi kerabat Pagaruyung yang terhimpun dalam ranji limbago—memastikan bahwa garis adat tetap hidup, tersusun, dan diakui bersama.
Manjalang induak bukan sekadar upacara. Ia adalah peristiwa kultural yang menghidupkan kembali identitas, mempertemukan rasa, dan meneguhkan hubungan dalam bingkai tali rahim dalam sistem kekerabatan adat Minangkabau. Di Istana Silinduang Bulan, hari itu, bukan hanya langkah kaki yang bergerak dalam prosesi—tetapi juga hati yang kembali pulang.**
Subuh di Masjid As-Sakinah 14 April 2026 // Yulizal Yunus وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ…
//Yulizal Yunus Langit siang itu terasa lebih teduh dari biasanya. Entah karena cahaya yang jatuh…
// Yulizal Yunus Yayasan SAKO Anak Negeri menggelar rapat strategis tahunan pada Selasa, 7 April…
Cerbung no. 252 // Yulizal Yunus Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan,…
Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang // Yulizal Yunus Pagi itu mentari seperti enggan…
Cerbung no. 250 // Yulizal Yunus Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku.…