Skip to content Skip to footer

Selebrasi 50 Tahun 1977-2027 Museum Adityawarman

Tagline: Pusako ASEAN

// Yulizal Yunus

Selebrasi 50 tahun Museum Adityawarman bukan sekadar peringatan usia institusi, melainkan momentum kultural untuk menegaskan kembali posisi museum sebagai penjaga memori kolektif Minangkabau sekaligus jembatan peradaban di tingkat regional. Dengan mengusung tagline “Pusako ASEAN”, perayaan ini mengandung gagasan besar: bahwa warisan (pusako) Minangkabau tidak hanya milik lokal, tetapi memiliki resonansi dan relevansi di ruang budaya Asia Tenggara.

Bahkan sebenarnya Pusako Dunia.  Karena disebut dalam Tambo Adat Minang itu, bahwa adat itu pakaian ysng sudah dipakai di dunia Arab, Persi dan Ajam (Bangsa-bangsa di dunia). Pakaiaian itu digunakan tidak saja norma busana, tetapi juga nilai universal dipakai untuk berkata,  bertanya,  menjawab, melihat,  berkurena lainnya agar jangan sumbang dua belas. Artinya nilai adat Minang itu nilai bangsa-bangsa di dunia sudah dipakai jauh sebelum lahirnya nama Minangkabau.  Karenanya boleh disebut nilai etika dan adat Minang itu the Minangkabau Ethics for the world.

Kata bu Oya, mengusulkan tagline Pusako Asean ini, kita mulai duku dari jenjang ASEAN, nanti mungkin Pusako Dunia. Kadisbud Syamsul Bahri – Pak Pung dan Kepala Museum Tuti Alawiyah setuju. Sebuah kesepakatan dalam rapat yang dipandu Kabid Acil di Dinas Kebudayaan Provinsi Sunatera Barat, 2 April 2026.

Dalam perspektif Minangkabau, pusako bukan sekadar benda warisan, melainkan sistem nilai yang hidup dalam struktur sosial nagari. Sebagaimana diingatkan oleh pemikiran adat, kekuatan Minangkabau terletak pada “sako pusako salingka nagari”—kesatuan antara warisan gelar, garis keturunan, dan harta pusaka yang membentuk identitas kolektif. Ketika pusako tergerus, maka kaum dan suku melemah; ketika suku melemah, adat salingka nagari pun ikut hilang. Pada titik itulah, eksistensi Minangkabau dipertaruhkan. Karena itu, menjadikan museum sebagai pusat artikulasi pusako adalah langkah strategis dan visioner.

Tagline Pusako ASEAN

Tagline “Pusako ASEAN” juga menghadirkan perluasan makna. Kata pusako mengakar kuat dalam kosmologi Minangkabau, sementara ASEAN mencerminkan ruang geopolitik modern yang menghubungkan bangsa-bangsa serumpun. Di sinilah Museum Adityawarman diposisikan sebagai simpul: mengangkat pusako lokal ke panggung regional dsn selanjut internadional, sekaligus memperkuat diplomasi budaya berbasis identitas.

Secara programatik, selebrasi ini dirancang melalui tiga poros utama: pameran, seminar internasional, dan produksi ilmu pengetahuan dalam buku 50 tahun Museum Adityawarman.

Pameran bersama museum provinsi se-Indonesia dengan tema alat musik tradisional yang disebut Prof Promono sulit memberi identitas karena secara jujur musik Minang dikalahkan musik suku bangsa lain seperti Jawa dan Bali, namun menjadi momentim penting untuk menjemput kepopuleran alat musik lama Minangkabau yang dulu pernah populer dipakai di ASEAN. Sekaligus menjadi medium menunjukkan keragaman serta kesalingterhubungan budaya Nusantara. Alat musik bukan hanya artefak estetis, tetapi juga representasi sistem sosial, ritus, dan ekspresi kolektif. Dalam konteks ASEAN, ini membuka ruang dialog lintas budaya berbasis bunyi, ritme dan tradisi.

Kegiatan inti lainnya adalah Seminar Internasional: “Weaving Friendship and Diplomatic Relations: Sumatera Barat – Amsterdam”. Seminar ini tidak hanya membahas diplomasi budaya, tetapi juga secara spesifik mengangkat tema penting:
“Membedah Genealogi Raja Adityawarman”.

Tali Rahim dan Tali Nasab

Topik ini menjadi krusial karena sejarah Adityawarman berada di persimpangan antara data epigrafis (prasasti) dan tradisi lisan (tambo). Perdebatan mengenai asal-usulnya—apakah Adwayawarman putra garis turunan ibu Minangkabau bersuku ibu sekaligus memiliki garis langsung dari garis Kertanegara di Majapahit —menunjukkan kompleksitas historiografi Nusantara. Lebih dari itu, figur Adityawarman menghadirkan dialektika menarik antara dua sistem kekerabatan: ia dibesarkan dalam lingkungan patrilineal Majapahit, namun tak dimungkiri dalam sistem adat Minang, tidak perlu diumumkan dia bersuku atau orang mana, tanya saja, siapa ibunya, kalau ibunya orang Minang, pastilah ia orang Minang dan bersuku ibunya di Saruaso. Orang luar garis ibu ini disebutnya matrilineal Minangkabau, melalui garis ibunya, Dara Jingga. Istilah ini kurang pas dalam akar budaya adat Minang, karena garis ibu disebut tali rahim (ibu) sekaligus tali nasab (ayah), untuk menghindari aib anak malu tak berbako keluarga ayah. Adityawarman di tali rahim ibu Minangkabau adalah kamanakan dan atau mamak di paruik ibunya, sekaligus anak di harus ayah.

Pembahasan ini tidak hanya bersifat historis, tetapi juga konseptual. Ia membuka ruang untuk memahami bagaimana identitas, kekuasaan, dan legitimasi dibangun melalui negosiasi budaya. Narasumber dari berbagai latar—akademisi seperti Prof. Dr. Gusti Asnan, pakar sejarah pantai, lembaga riset nasional, hingga perwakilan dari Negeri Sembilan dan Brunei Darussalam—akan memperkaya perspektif lintas kawasan Melayu.

Selain itu, konsep “traveling perkawinan” menjadi pintu masuk di samping diplomasi budaya untuk membaca mobilitas budaya dan jaringan genealogis di dunia Melayu. Relasi kekerabatan tidak berhenti pada garis darah dan garis rahim ibu tetapi juga membentuk jaringan diplomasi tradisional yang menghubungkan wilayah-wilayah di Asia Tenggara.

Traveling Perkawinan Bentuk Kerabat Baru

Traveling perkawinan Minangkabau dan Majapahit membentuk kekerabatan sapiah balahan, menjadikan majapahit sapiah balahan dalam paruik ibu dara jingga melahirkan adityawarman. Hubungan kerabat ini membatalkan sejarah kolonial bahwa ekspedisi pamalayu sebagai serangan menjahit ke Minangkabau. Karena tak masuk akal, Majapahit menyerang kerabat.

Yang terekam ketika itu dalam fakta sosial, di akhir Singosari awal Majapahit minta batuan Dharmasraya -Minangkabau untuk menangkal ancaman Tiongkok. Menarik pandangan Prof Nursyirwan seorang antropolog UNAND dari perspektif antropologis bahwa tak ada jejak militer untuk membuktikan Ekspedisi Pamalayu sebagai serangan Majapahit, sekaligus membatalkan sejarah kolonial.

Di luar kegiatan akademik, selebrasi 50 tahun Museum Adityawarman ini diperkuat dengan berbagai program partisipatif: lomba cerdas cermat museum, lomba musik tradisional, lomba pemandu museum, festival fotografi, hingga program “Sepekan di Museum” yang menghadirkan film, animasi, dan bioskop budaya serta rekaman bencana. Kegiatan ini menegaskan bahwa museum bukan ruang statis, melainkan ruang hidup yang berinteraksi dengan publik, khususnya generasi muda.

Dimensi ekonomi budaya juga dihadirkan melalui Bazar UMKM, yang mencerminkan semangat rantau dalam tradisi Minangkabau. Rantau bukan sekadar perpindahan geografis, tetapi simbol entrepreneurship dan daya hidup ekonomi. Ini berbeda dengan diaspora; rantau tetap terikat dengan nagari sebagai pusat identitas.

Rantau dan Diaspora

Dalam kerangka ini, museum menjadi titik temu antara luak (inti) dan rantau (ekspansi)—antara akar dan jejaring. Tambo menyebut luak dan rantau (nagari di luar) tak terpisah, merupakan pusako koto piliang. Sedangkan diaspora, pergi ke negeri orang untuk perubahan nasib. Di kampung hidup menderita belum berguna lalu pergi ke negeri orang untuk merubah nasib dan mencari days guna. seperti petiti: karatau madang di hulu/ berbuah bebunga belum/ merantau bujang dahulu/ di rumah berguna belum. Artinya merantau untuk kembali balas dendam dulu pacar diambil orang di kampung kata maestro tukang biola/ rabab Pasisia Pirin Asmara.

Dalam konteks ini perlu dikaji ulang buku Merantau Mokhtar Naim dan buku Alam Takambang Jadi Guru AA Navis, jangan-jangan yang dikaji diaspora bukan rantau (Nagari luar luak) yang merupakan simbol entrepreneurship Minang.

Buku 50 Tahun

Sebagai penguat narasi besar, akan diterbitkan Buku 50 Tahun Museum Adityawarman. Buku ini idealnya terbit bertepatan atau menjelang seminar internasional, sehingga dapat menjadi referensi utama sekaligus legacy intelektual. Isinya tidak hanya dokumentasi sejarah, tetapi juga refleksi kritis, capaian, dan arah masa depan museum.

Pada akhirnya, selebrasi ini menegaskan transformasi Museum Adityawarman sebagai pusat diplomasi budaya berbasis nagari. Dari nagari ke ASEAN, dari pusako ke peradaban global. Inilah makna terdalam dari “Museum Adityawarman Pusako ASEAN”: menjaga warisan, merawat identitas, dan menenun persahabatan lintas bangsa.

Leave a comment