Skip to content Skip to footer

Kau Yang di Surga

Cerbung no. 250

// Yulizal Yunus

Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku. Hujan baru saja reda, tapi gerimisnya masih terasa di mata ini. Entah air hujan, entah air luka yang tak juga usai.

Aku duduk di potongan batang nyiur yang telah lama lapuk di bibir pantai depan Mushalla Riyadatul Jannah , menghadap Teluk Bayur. Pelabuhan pernah bernama Emma Haven itu tampak sibuk seperti biasa, kapal-kapal besar bersandar, sementara perahu kecil berayun pelan di antara riak air. Semua terlihat hidup. Hanya aku yang terasa mati perlahan. Terbayang renungmu dan sehirup nafasmu di ranjang putih itu, sesaat menjelang kau pergi.

Jiwaku seperti berteriak dalam sedu sedan. Air mata gemiring, panas di pelupuk mata, lalu jatuh perlahan ke pelipis. Haru dan ingus bercampur tanpa malu, meski berusaha menyurukkan tangis diam-diam.

“Hei… kasih surgaku…” bisikku lirih.
Bagaimana aku menunggumu di Pantai Nirwana ini… tanpa hadirmu di sisi kami?

Dulu kita berdiri di sini bersama. Bersama keluarga besar—ayah, ibu, anak, cucu. Tawa kita menyatu dengan debur ombak dan musik berbagai nada. Kini, semua itu tinggal gema, tak kuasa diam-diam meredakan tangis lirihku.

Kupandang satu per satu bayangan yang seperti hidup kembali di hadapanku. Silih berganti bayanganmu dan keluarga kita.

Itu… ibu kita, Yuniar. Sudah renta, tapi tetap tegar memandang laut seakan mencari sesuatu yang hilang.
Di sampingnya, Bunda Eel dan dr. Iwang—kebanggaan yang selalu kau sebut dengan mata berbinar.
Reni, Avan, dan Ara… calon dokter yang selalu kau doakan diam-diam di sepertiga malam.

Lalu Om Nop—ah, dia masih seperti dulu, lucu mengumpulkan anak cucu. Praktis seperti ketua yang muda dalam kelurga. Masih suka bercanda, pura-pura rebutan uang merah dari dompet siapa duluan keluarnya. Kau selalu tertawa paling keras saat itu.

Dan lihat… Ibrahim kecil. Cucumu yang lucu itu. Ia berlari kecil, mencium tanganmu, lalu minta diantar ke TK setiap pagi.
Kini… siapa yang ia cium setiap pagi?

Debur ombak kecil di Teluk Bayur seperti detak jantung yang tak stabil. Di kejauhan, kawasan Mandeh membentang. Di sanalah, bangkai kapal Belanda—MV Boelongan—tertidur sejak 1942, karam dibom Jepang. Diam, sunyi, terkubur laut… seperti perasaanku hari ini.

“Lihatlah itu…” gumamku lagi, meski tak ada yang menjawab.

Faiz—anakmu. Kau selalu khawatir tentangnya. Tentang shalatnya, tentang masa depannya. Katamu, ia sudah mahasiswa, tapi belum benar-benar dewasa.
Kini… siapa yang akan mengingatkannya seperti caramu?

Ika, mantumu. Khalif dan Khulfa… cucu-cucu yang selalu kau peluk erat.
Dan mereka… masih di sana. Bersampan, berperahu karet. Dayung mereka tak serentak—tanda belum piawai. Kau dulu selalu tertawa melihat itu.

“Kita ajari mereka nanti…” katamu dulu.

Tapi “nanti” itu tak pernah datang.

Dulu kita duduk bersama di Pantai Nirwana, menikmati musik, tawa, dan angin laut yang ramah. Kini aku duduk sendiri di antara keluarga dengan air mata yang terasa mendidih.

Kupandang jauh ke arah Sungai Beremas. Masih sama. Kera-kera itu kini setia dan bertambah dengan yang berpindah dari Bukit Kera pulau kecil di mulut Teluk Bayur ini. Tapi mereka tetap tahu diri—menunggu belas kasih orang-orang, meski berharap sebiji kacang.
Seperti aku… menunggu sesuatu yang tak akan kembali.

“Nantikanlah aku di Teluk Bayur…” teriakku dalam hati.

Namun tak ada dan tak mungkin ada sahutan.

Dulu kita sama-sama memandang laut ini dengan senyum.
Kini aku menelannya dengan lidah pahit.

Kau tiada.

Dan dunia terasa terlalu luas untuk kutempuh sendiri.

Tapi… aku tahu satu hal.
Kau tenang di sana.
Di dalam rahmat Allah.
Di taman yang tak lagi mengenal air mata.

Dan mungkin…
kau sudah panen raya ladang amalmu dulu di dunia, ladang bahagia yang dulu kita tanam bersama.

Sementara aku…
masih di sini.
Menanam rindu… yang tak akan pernah berbuah pertemuan lagi selain berharap di taman surgawi nanti pada ilahi.

(Bersambung ke Bagian ke 251: Suara yang Tak Kembali… dengan akhir yang akan mengiris lebih dalam.)

Leave a comment