Skip to content Skip to footer

Bangga Susi Fitria Dewi Guru Besar

//Yulizal Yunus

Langit siang itu terasa lebih teduh dari biasanya. Entah karena cahaya yang jatuh lebih lembut di Auditorium UNP 7 April 2026 , atau karena hati yang sedang dipenuhi rasa syukur yang tak terucapkan. Dalam diam, saya mengakui—ini bukan sekadar bangga biasa. Ini bangga yang lahir dari perjalanan panjang persahabatan, ilmu, dan silaturrahmi yang dijaga dengan ikhlas.

Nama itu kembali terlintas dengan bangga: Susi Fitria Dewi.
Ananda yang memanggil saya “ayahanda”.
Anak dari sahabat dekat saya, seorang tokoh yang saya hormati: Saifullah – Prof. Dr.

Saya mengenalnya bukan hanya sebagai seorang profesor, tetapi sebagai orang tua hebat. Seorang ayah yang berhasil menanamkan nilai ilmu dan akhlak dalam keluarganya. Semua anaknya menempuh peringkat akademik tertinggi, meraih gelar doktor, bahkan sebagian menjadi guru besar. Itu bukan kebetulan. Itu hasil didikan, keteladanan, dan doa yang putus.

Dan hari ini, salah satu buah dari pohon besar itu berdiri tegak: Prof. Susi Pitria Dewi S.Sos. M.Si. Ph.D.

Saya pertama kali mengenalnya lebih dekat bukan di tanah Minang, tetapi di negeri jiran—di Universiti Kebangsaan Malaysia. Saat itu, saya tengah menunaikan tanggung jawab sebagai dekan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya IAIN (sekarang UIN) Imam Bonjol, melanjutkan estafet kepemimpinan dari sahabat saya, Prof. Saifullah.

Kerja sama dengan Fakulti Pengajian Islam (FPI) Universita Kebangasaan Malaysia (UKM) di Bangi  sana bukan perkara mudah. Bahkan nyaris ditolak. Tapi saya yakin, ini bukan sekadar administrasi akademik—ini jalan ilmu yang harus diperjuangkan.

Saya bolak-balik ke Bangi. Berdiskusi dengan Zakaria Stapa dan para profesor lainnya. Bahkan, dalam keakraban itu, saya sempat “dipaksa” ikut lomba makan di hotel mewah. Saya menyerah. Saya akui kalah. Tapi dari situ saya belajar—ilmu bukan hanya di ruang kuliah, tapi juga pengetahuan luas dalam tawa dan persahabatan.

Di sanalah saya melihat Susi. Masih muda, kuliah di Pasca, tapi ada cahaya di matanya. Saya berkata dalam hati: Ananda ini akan jadi akademisi besar suatu hari nanti.

Dan ternyata, firasat itu bukan sekadar perasaan.

Waktu berjalan. Ia menempuh Ph.D di kampus yang sama. Lalu kembali ke tanah air, mengabdi di Universitas Negeri Padang. Tidak hanya mengajar—ia membangun pemikiran. Ia memimpin, ia meneliti, ia menghidupkan diskusi.

Susi sering mengundang saya ke forum-forumnya. Membicarakan konflik dan resolusi dalam perspektif Minangkabau. Setiap kali ia berbicara, saya lebih suka mendengar.

Ada kejernihan dalam cara ia berpikir. Ada kedalaman dalam cara ia melihat konflik. Bahwa konflik bukan untuk dimatikan, tetapi dikelola menjadi kebijaksanaan.

Sebaliknya, saya juga mengundangnya ke ruang-ruang pemikiran di lembaga di SAKO Anak Negeri. Kami berbincang tentang adat, tentang sako pusako, tentang tanah ulayat yang tak boleh diputus oleh zaman.

Kami pernah berdiskusi panjang: tanah ulayat bukan sekadar tanah. Ia adalah amanah Cadangan rohnya wakaf dari ninik turun ke mamak dari mamak turun ke kemanakan, lintas generasi—untuk yang sudah lahir, dan yang belum lahir.

Ia mengangguk. Saya tahu, ia mengerti.

Hingga suatu hari, pesan itu datang.

“Assalamualaikum ayahanda… undangan pengukuhan guru besar Susi…”

Saya terdiam sejenak. Lalu tersenyum. Kagum.

Inilah momen itu.

Ia bahkan meminta saya membaca orasi ilmiahnya. Kalau ada saran dan arahan tambahan. Judulnya dalam, menggugah:

Dari Manusia Konflik Menuju Manusia Bijaksana.

Saya membacanya perlahan. Di sana ia menyebut pemikiran Auguste Comte, Émile Durkheim, hingga Karl Marx. Ia juga mengaitkan dengan Leviathan dan ayat-ayat Al-Qur’an. Tidak hendak melihat konflik dengan kaca mata luar dalam perspektif Minang yang dijaga sebagai energi “manusia konflik menjadi manusia bijaksana” , tetapi sebagai perspektif banding memposisikan Minang itu, safety valve konfliknya cukup dengan duduk bersama. Bermusyawarah.

Tapi yang membuat saya terharu bukan hanya ilmunya.

Melainkan kode adabnya.

Ia bertanya dengan santun:
“Apakah ada saran ayahanda?”

Saya jawab sederhana, tapi dari hati:

Bahwa dalam adat Minangkabau, konflik tidak untuk mencari siapa benar siapa salah—tetapi untuk mencapai perdamaian adat.
Bahwa dialog harus dijaga: tidak menyela, tidak manyolang, tidak bicara sebelum mendengar.
Bahwa akal budi adalah inti dari musyawarah.

Ia menerima itu dengan hormat.

Dan saya… semakin salut dan bangga.

Hari pengukuhan itu bukan hanya milik Susi. Ia berdiri bersama tujuh guru besar lainnya. Delapan cahaya ilmu yang dinyalakan sekaligus oleh rektor: Krismadinata.

Dalam sambutannya, ia berkata:
guru besar bukan sekadar gelar, tetapi cahaya yang menerangi.

Saya mengangguk sendiri.

Karena saya melihatnya nyata—pada Susi.

Pada anak dari sahabat saya.

Pada ananda yang memanggil saya ayahanda.

Di ujung hari, saya menengadah.

Dalam hati saya berbisik:

Ya Allah… beginilah Engkau memperlihatkan rahmat-Mu.
Melalui ilmu.
Melalui anak-anak yang tumbuh dengan kompetensi akhlak mahmudah.
Melalui silaturrahmi yang tidak pernah putus.

Dan saya sadar—
bangga ini bukan milik saya sepenuhnya.

Ini adalah rasa syukur.

Yang Engkau titipkan…
agar saya tidak lupa,
bahwa kemuliaan ilmu selalu berakar pada iman. Selamat Prof Susi dan suami Prof Febri Yulika Rektor ISI, Ananda memiliki kemuliaan Cahaya ilmu dan akar keimanan itu. Dan, Selamat kawanku Prof Saifullah orang tau hebat. Orang tua dan anak dalam sebuah keluar yang menginspirasi lintas generasi.

Leave a comment