Subuh di Masjid As-Sakinah 14 April 2026
// Yulizal Yunus
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ مُلْكِهِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ التَّابُوتُ فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَبَقِيَّةٌ مِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ (248)
Dan Nabi mereka mengatakan kepada mereka, “Sesungguhnya tanda ia akan menjadi raja ialah kembalinya Tabut kepada kalian, di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan kalian dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun, Tabut itu dibawa oleh Malaikat. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kalian, jika kalian orang yang beriman.
Pada masanya, kaum Bani Israil hidup dalam kegelisahan. Di bawah tekanan Raja Jalut – raksasa yang kejam dan zalim, tak segan-segan mengusir bahkan membunuh orang seperti nyamuk saja. Mereka terusir dari kampungnya. Tak ada raja memimpin mereka memerangi Jalut. Mereka meminta kepada Nabi Syamuel seorang raja memimpin mereka untuk berperang melawan Jalut. Jauh menyedihkan lagi sebelumnya mereka kehilangan sesuatu yang sangat berharga—bukan sekadar benda, tapi simbol kehadiran Ilahi di tengah mereka: Tabut, peti suci – peti perjanjian, peninggalan Nabi Musa dan Nabi Harun.
Tabut itu telah lama dirampas musuh kaum musyrik. Sejak itu, hati mereka terasa kosong. Mereka ragu, bimbang. Namun setelah mereka diberi Raja “Thalut”, mempertanyakannya pula, bagaimana mungkin ia memimpin, sedangkan ia seorang yang miskin.
Ketika itu, Nabi mereka— Syamuel—berdiri di hadapan mereka. Dengan tenang, ia berkata:
“Ini Thalut! Raja yang kalian minta. Istimewa, dipilihkan langsung oleh Allah SWT. Ia tokoh punya iman yang kuat, ilmu yang tinggi dan postur tubuh perkasa – takah dan tageh. Tanda bahwa Thalut benar-benar raja untuk kalian yang dipilih Allah itu adalah dikembalinya Tabut itu kepada kalian…”
Sejenak, suasana hening. Mereka terheran-heran dan mikir, bagaimana mungkin Thalut memimpin kami sedangkan ia miskin, justru di kalangan kami lebih banyak yang mungkin jadi pemimpin dan kaya lagi – toke? Naum lebih heran lagi mereka bertanya di dalam hati, bagaimana mungkin Tabut ini sesuatu yang telah hilang bertahun-tahun – bahkan ribuan tahun, bisa – boleh Kembali lagi?
Thalut sebagai raja pilihan Allah, ia tokoh dengan imannya kuat dan ilmunya tinggi – basthatan fi ‘ilmi, postur tubuhnya perkasa – basthatan fi l-jismi. Ia takah dan tageh. Prof. HAMKA dalam Tafsirnya Al-Azhar menggarisbawahi Ibnu Taimiyah dalam buku as-Siyasah as-Syar’iyah, menyebut: “tubuhnya sehat dan tampan. Karenanya mengutip Sebagian besar ulama-ulama fiqh berpendapat bahwa seorang yang badannya cacat jangan dijadikan raja (pemimpin) kecuali cacat saat telah memimpin.
Syekh Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya Al-Maraghi, menyebut Thalut ialah raja kaum Bani Israil. Kembalinya Tabut (peti suci) yang dibawa Malaikat adalah tanda kebenaran pengangkatan Thalut sebagai raja Bani Israil itu.
- Firman Allah SWT, fī hi sakīnatun min rabbikum (فِيهِ سَكِينَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ) … di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhan kalian. (Al-Baqarah: 248)
Nabi Syamuel melanjutkan, bahwa di dalam Tabut itu ada sesuatu yang luar biasa!
“Sakinah dari Tuhan kalian.” Bukan sekadar benda, tapi rasa damai yang menenangkan jiwa.
Bayangkan sebuah peti, tapi ketika ia hadir, hati yang gelisah menjadi tenang. Ketakutan berubah menjadi keyakinan. Sakinah adalah rahmat (kasih sayang), ketenangan dan keagungan dari Yang Maha Agung. Intinya: sakinah itu adalah tanda bahwa Allah hadir bersama kita (mereka kaum Bani Israil).
Beragam ikhtilaf (beda pendapat) penafsir memaknai “sakinah” itu. Ibnu Katsir lebih rinci menyebut. Abdur Razzaq meriwayatkan berpangkal dari Qatadah, bahwa sakinah adalah ketenangan. Ar-Rabi’, menyebut seperti juga sumber Ibnu Abbas, menyebut sakinah berarti rahmat (kasih sayang Allah). Dalam Riwayat lain menyebut sakinah sebagai piala (gelas besar) terbuat dari emas. Diberikan Allah Swt langsung kepada Nabi Musa a.s. Dulu dipakai untuk mencuci membersihkan hati para nabi. Dari riwayat Ass-Saddi bersumber Ibnu Abbas, difungsikan juga tempat menaruh lembaran-lembaran (kitab Taurat).
Pada riwatkan Sufyan As-Sauri bersumber dari Ali, bahwa sakinah itu mempunyai wajah seperti wajah manusia. Disebut juga merupakan angin yang menebar bau wangi dan kencang tiupannya. Dari Riwayat Ibnu Jarir juga bersumber Ali, menyebut Sakinah itu adalah angin kencang yang mempunyai dua kepala. Riwayat Mujahid menyebut sakinah mempunyai sepasang sayap dan ekor. Riwayat Muhammad ibnu Ishaq bersumber Wahb ibnu Munabbih, menyebut sakinah adalah kepala kucing yang telah mati. Jika mengeluarkan suara di dalam Tabut, mereka yakin bahwa kemenangan (menumpas kezaliman) akan mereka peroleh. Riwayat Abdur Razzaq dari sumber Wahb ibnu Munabbih mengatakan sakinah itu roh dari (ciptaan) Allah. Apabila mereka (kaum Bani Israil) berselisih pendapat dalam sesuatu hal, maka roh tersebut berkata kepada mereka, apa yang kalian inginkan?
Sakinah bukan hanya rasa tenang biasa. Ia adalah ketenangan yang lahir karena kedekatan dengan Allah. Mencapai ketenangan dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering mencarinya melalui materi – kekayaan, jabatan atau pengakuan sosial – gengsi! Namun ayat ini mengajarkan bahwa ketenangan sejati, justru hadir ketika ada hubungan dengan nilai-nilai ilahi. Tabut menjadi simbol bahwa ketika sesuatu terhubung dengan Allah, maka ia membawa Sakinah – ketenangan.
- Firman Allah SWT, … wa baqiyatun mimma taraka alu musa wa alu harun (وَبَقِيَّةٌمِمَّا تَرَكَ آلُ مُوسَى وَآلُ هَارُونَ) – …dan sisa peninggalan keluarga Musa dan keluarga Harun (Al-Baqarah: 248)
Tabut itu juga berisi artefak, baqiyah – peninggalan keluarga Nabi Musa dan Nabi Harun—seperti tongkat Nabi Musa as, lembaran Lauh (Taurat). Ibnu Jarir dari sumber Ibnu Abbas dikutip Ibnu Katsir juga menyebut begitu. M.Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah menyabut Lauh adalam papan yang berisikan tulisan sepuluh ayat mulia – the Ten Commandmens. Abu Saleh menambahkan ada juga tongkat Nabi Harun serta manna (seperti biji ketumbar dan rasanya manis). Atiyyah ibnu Sa’id menambahkan ada baju – jubbah Musa dan Harun. Dalam Riwayat lain menambahkan dalam Tabut itu ada sepasang terompah (sendal) juga ada sorban Harun as. Perinsipnya pakaian leluhur mereka kaum Bani Israil.
Secara lahiriah, Tabut itu bukan sekadar benda. Bukan pula sekadar benda bersejarah—tapi pengingat perjuangan, mukjizat dan janji Allah. Namun secara maknawi, ia adalah penyimpan memori spiritual. Ia mengingatkan Bani Israil pada masanya, ketika mereka dekat dengan Allah SWT, beriman kepada Nabi-Nya ketika Nabi Syamuel.
Jika kita tarik ke dalam konteks budaya Minangkabau, Tabut menginspirasi “pangana” bahwa dalam adat Minangkabau dikenal Peti Alung Bunian. Peti pusaka kaum, tempat menyimpan identitas dan kehormatan kaum dan suku Minangkabau. Tabut juga menjadi simbol jati diri kaum Bani Israil dulu – sebelum turun al-Furqan (Al-Qur’an). Keduanya bukan hanya benda, tapi jiwa kolektif sebuah kaum, suku – umat.
Maknanya, Tabut ini memiliki fungsi dan nilai – esensi subtantif bagi kaum Bani Israil. Menginspirasi “pangana orang Minangkabau” dalam mengingat fungsi Peti Alung Bunian yang sakral dalam kaum adat Minangkabau. Dikenal dengan nama Peti Alung Bunian – tempat menyimpan “sako pusako salingka kaum”. Setiap kaumdan suku di Minangkabau memiliki Peti Alung Bunian, yang oleh ninik mamak dalam musyawarah kaum diberi kewenangan kepada Mandeh Sako – ibu berfungsi Bundo Kanduang dalam Kaum, untuk menyimpan dan menjaga kesakralannya di Rumah Gadang Kaum dan suku itu. Isi Peti Alung Bunia ini diketahui benar oleh kaum dan pangulunya – datuk atau rajo, di sinilah, di peti inilah tempat penyimpan dan dikeluarkan gelar sako oleh lumbago pengulu serta gelar sang sako oleh kaum rajo dan pakaian pengulu kaum dan rajo mereka. Peti Alung Bunian ini menandai eksistensi – keberadaan kaum adat di Minangkabau. Dalam menjaganya tidak semua orang bisa sembarangan membukanya, karena ia mengandung nilai sakral dan historis bagi kaumnya.
Artinya Peti Alung Bunian dalam tradisi adat Minangkabau, bukan sekadar tempat penyimpanan benda pusaka. Justru memiliki fungsi penjaga “sako pusako”,simbol identitas kaum, penanda keberlanjutan “adat salingka nagari” dan “sako pusako salingka kaum” bahkan senjatan ketenangan dan martabat bagi kaum “Masyarakat Hukum Adat”.
Dapat dipahami bahwa Tabut secara lebih dekat, menginspirasi pangana orang Minangkabau mewariskan dan memfungsikan Peti Alung Bunian untuk menjaga identitas kaum dan suku di Minangkabau. Tabut pun menjaga identitas spiritual kaum Bani Israil yang beriman. Karenanya Tabut bukan hanya simbol budaya, tetapi juga wadah sakinah—ketenangan yang langsung berasal dari Allah Yang Maha Pemberi Ketenangan.
Di sinilah letak pelajaran penting: manusia membutuhkan simbol untuk menjaga ingatan kolektifnya. Tanpa simbol, sejarah mudah dilupakan. Tanpa ingatan, iman pun bisa melemah.
- Firman Allah, tahmiluhu l-malaikah (تَحْمِلُهُ الْمَلائِكَةُ) –…. (Tabut itu) diantar Malaikat. (Al-Baqarah: 248)
Tabut yang kembali dengan cara tak terduga pikiran awam. Bagian peristiwa, sesuatu yang luar biasa – Tabut itu! Kembali. Bukan diantarkan manusia. Bukan direbut dalam perang. Tapi diantar oleh Malaikat Allah SWT. Melayang di antara langit dan bumi. Riwayat Ibnu Juraij bersumber Ibnu Abbas menyebut justru Malaikat datang memikul Tabut itu di antara langit dan bumi dan diturunkan di hadapan Thalut. Disaksikan banyak orang, hingga tak ada lagi keraguan untuk tidak beriman kepada Allah dan NabiNya serta Raja Thalut. Bayangkan momen itu—sebuah peti suci turun dari langit, perlahan, disaksikan seluruh kaum. Hati yang ragu mendadak bergetar. Yang ingkar mulai percaya – beriman.
As-Saddi di lain kisah menyebut Tabut itu pagi-pagi telah berada di tempat Thalut. Lalu orang banyak beriman kepada Nabi Syam’un (Syamuel) dan taat kepada raja Thalut. Cara lain, riwayat Abdur Razzaq bersumber salah seorang guru As-Sauri bahwa para Malaikat mengantarkan Tabut itu dengan sebuah kereta yang ditarik oleh seekor lembu betina. Perawi lain menyebut ditarik dengan dua ekor lembu betina.
Kisah lain sumber Tafsir Ibnu Katsir, menyebutkan bahwa Tabut itu sudah berada begitu saja di Azduh – sebuah kampung di Palestina. Kisah lain menyebut pula, Tabut itu sudah berada di Ariha – kota dataran rendah dan terendah di dunia, 250 meter di bawah permukaan laut, yakni Jericho di Tepi Barat Palestina dekat Sungai Yordania. Kota ini dikenal sebagai kota kuno dan kota kurma – city of palms yang subur. Secara historis merupakan Jericho adalah kota Kan’an yang pernah direbut kaum Bani Israil di bawah pimpinan Yosua yang keluar dari gurun.
Orang-orang musyrik ketika itu mengambil Tabut itu dan mereka meletakkannya di bawah berhala besar yang mereka sembah. Namun esok harinya Tabut itu telah berada di atas kepala berhala besar itu. Mereka heran, lalu mereka menurunkannya dan meletakkannya kembali di bawah berhala besar itu. Esok harinya terjadi seperti itu pula, dari kaki naik ke kepala. Kemudian mereka menurunkannya dan memaku Tabut itu di bawah berhala besar yang mereka sembah itu. Sialnya bagi mereka, terjadi peristiwa di luar dugaan, tiang-tiang penyangga berhala besar mereka itu runtuh dan ambruk jatuh dari tempatnya. Akhirnya terlintas di benak mereka bahwa peristiwa itu terjadi, pasti karena perintah Allah dan tidak pernah mereka alami sebelumnya.
Dari berbagai peristiwa naas tadi, lalu kaum musyrik mengeluarkan Tabut itu dari negeri mereka. Meletakkannya di salah satu kampung. Sial bagi mereka di kampung itu, penduduknya diserang dan terkena wabah penyakit pada leher mereka. Kemudian salah seorang wanita tawanan dari kalangan kaum Bani Israil seperti disebut Ibnu Katsir, menganjurkan kepada mereka agar mengembalikan Tabut itu kepada kaum Bani Israil agar mereka terhindar dari penyakit yang mendera mereka itu.
Kemudian orang musyrik tadi mengeluarkan Tabut itu dan diangkut dengan sebuah kereta yang ditarik oleh dua ekor lembu betina. Saat kedua lembu itu berjalan membawa Tabut, tiada seorang pun yang mau mendekat, karena mereka beranggapan, siapa yang mendekat pasti mati. Saat kedua ekor lembu betina itu telah berada di dekat negeri kaum Bani Israil, tiba-tiba kendali kedua ekor lembu itu putus dan lembut itu lari. Lalu datanglah kaum Bani Israil mengambil Tabut itu. Dari kisah lain disebut, Tabut itu ditenerima dua orang pemuda dari kalangan Bani Israil. Dalam Riwayat lain pula, Tabut itu diambil dan diterima Nabi Daud a.s. Kemudian ketika Nabi Daud mendekati kedua lembu yang membawa Tabut itu, ia merasa gembira dan berterima kasih – bersyukur dengan kembalinya Tabut itu.
Kembalinya Tabut bukan hasil usaha manusia semata. Ia kembali dengan cara yang melampaui logika manusia. Ini menjadi pelajaran bahwa tidak semua masalah harus diselesaikan dengan kekuatan manusia, justru sebagian membutuhkan keimanan dan penyerahan diri. Pesan lebih penting lagi, ada banyak – hal-hal dalam hidup, yang hanya bisa diselesaikan oleh campur tangan Allah.
- Firman Allah Swt., inna fi dzalika laayata lakum (إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لَكُمْ) – … sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda bagi kalian. (Al-Baqarah: 248)
Maksudnya, adalah tanda (kenabian) yang membenarkan diriku (Syamuel sebagai nabi) terhadap apa yang aku sampaikan kepada kalian (bani Israil) sekaligus tanda membenarkan pengukuhan Thalut sebagai Raja langsung dipilih oleh Allah seperti apa yang aku perintahkan kepada kalian bani Israil agar taat kepada Thalut itu sebagai raja.
Kalimat ayat ini sangat reflektif. Tanda sudah ada, bukti sudah nyata, tetapi tidak semua orang mampu melihatnya sebagai petunjuk. Hanya orang yang beriman yang dapat menangkap maknanya.
Dalam kehidupan sekarang, banyak “Tabut-Tabut kecil” yang Allah hadirkan. Semua sebagai momen yang menyadarkan. Sebagai peristiwa yang mengubah arah hidup. Sebagai ketenangan yang datang di saat sulit. Namun, tanpa iman, semua itu bisa dianggap kebetulan semata.
- Firmal Allah SWT, …. Jika kamu ialah orang beriman (إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ) Al-Baqarah: 248. Jika kalian Bani Israil beriman kepada Allah dan hari kemudian hari pembalasan.
Ayat ini mengajarkan bahwa kepemimpinan yang benar membutuhkan legitimasi Ilahi. Bahwa simbol memiliki peran penting dalam menjaga iman dan identitas. Bahwa ketenangan sejati berasal dari Allah, bukan dari dunia. Bahwa tanda-tanda – ayat Allah hanya terbaca oleh hati yang beriman.
Seperti Peti Alung Bunian yang dijaga dengan penuh hormat karena menyimpan jati diri kaum orang Minangkabau. Demikian pula kaum Bani Israil seharusnya menjaga “Tabut” dalam dirinya—yaitu iman, nilai dan hubungan dengan Allah sebagai sumber ketenangan hidup.
Akhirnya kita mendapat pengajaran, yang membuat sesuatu itu sakral bukan bendanya, tetapi makna dan hubungan ilahinya.**