Dengan setangkai doa, kami antar Engkau Ery ke Peristirahatan terakhir. Buah Ladangmu -Dance Company, dengan rahmat Allah, Kau panen rayalah di sana. Amin!
// Yulizal Yunus
Matahari baru saja tergelincir di langit Kota Padang. Waktu menunjukkan pukul tiga belas dua puluh WIB, Rabu, sebelas Februari dua puluh dua enam. Zuhur mengetuk pelan setelah kumandang azan, dan di saat itulah kabar itu datang seperti petir di siang hari: Ery Mefri tuwuffiya – diwafatkan, disempurnakan. Innalillahi wainna ilaihi raji’un.
Lahir di Saningbakar, Solok—tanah yang harum dengan kuliner ikan bakar khas danau Singkarak dan engakau Ery pintar membuatnya ditambah lezatnya sambo lado Angga dan keluarga yang piawai. Semua itu menjadi kenangan saat engkau menutup mata di Padang, kota yang menjadi saksi betapa engkau menjadikan seni bukan sekadar tontonan, melainkan jalan hidup, tanaman ekonomi, bekal pulang.
Ketika kami melayat engkau Ery terbujur damai. Kubuka selendang menutup wajahmu, seolah wajah engkau tidur pulas dan tenteram. Setangkai doa kami persembahkan, semoga Allah memberi engkau maghfirah dan rahmah serta redhaNya.
Engkau tuwuffiya – wafat artinya disempurnakan rahmat Allah. Semoga begitu. Di dunia engkau telah berladang di Nan Jombang. Ladang kesalehan sosial seni. Semoga berbuah amal yang lebat. Dengan rahmat Allah “al-Syakur” (sumber energi membuat hambanya bersyukur).
Kata syukur itu, seperti dalam kalimat Arab “syakara syajar – syakarat syajarah”, artinya tanaman itu berbuah lebat tanda bersyukur atau berterima kasih kepada tuannya yang menanam dan memerliharanya. Kiranya ladangmu Nan Jombang berbuah lebat kesalehan sosial, tentulah rasa bersyukur engkau berbuah pula.
Saatnya engkau Ery, di keharibaan Rabbmu Allah Yang Maha “al-Syakur” memperkenankan engkau “panen raya hasil ladang amalmu di ladangmu Nan Jombang serta kesalehan sosial dan kesalehan amal lainnya dunia fana ini. Doa kami mengantarkanmu ke peristirahatan terakhirmu di sisi Rabbmu. Amin!
Ku salami Angga dan keluarga. Saat masih wajahnya menyimpan duka yang berusaha tabah.
“Angga!, tanggung jawab sudah terpundak melanjutkan Ladang Nan Jombang,” sepontan ku berucap di sela sesiup isak.
Angga mengangguk, lirih tapi menyakinkan. “Siap pak, insya Allah… Bismillah.”
Kalimat itu pendek, tetapi di dalamnya ada warisan yang tidak ringan: keberlanjutan seni dan ekonomi keluarga besar Ery Mefri. Sebuah ladang yang bukan hanya menumbuhkan tari, tetapi juga menumbuhkan manusia.
Lalu saya salami Anak Rio dan Ririn, sementara masih ada yang ditunggu Gebi dari Riau dan juga disebut ada dari Maninjau. Mata saya mencari ibunya Ical, dusanak rang Kampai Kambang, juga Nomi yang keduanya senantiasa sigap memfasilitasi tamu-tamu di Ladang. Tak sempat ku jumpai Lia adiknya Ery, juga anak cucu yang lain mungkin mereka sedang menyeka air mata. Kepada Rio dan Ririn, ku menitip pesan yang klise namun tulus, “Sabar ya nak ya… beliau tenang menuju Rabbnya.”
Di tengah duka itu, ratap kehidupan menyelinap. Kita ini sering sibuk memperebutkan panggung, bantuan, jabatan, bahkan tepuk tangan. Tapi Ery—yang panggungnya menjangkau nasional dan internasional—justru hanya membutuhkan ruangan empat kali enam meter untuk mencipta karya seni tari pertunjukan. “Untuk mencipta, kami hanya butuh empat kali enam meter saja,” katanya suatu kali. Selebihnya? Biarlah sanggar-sanggar lain memakai gedung modern “Manti Menuik” yang ia bangun dengan susah payah.
Di negeri yang gemar seremoni, Ery membangun hal yang substansi. Di tengah orang sibuk membenturkan dan mendikotomikan seni dan ekonomi – membuat mahasiswa seni banyak drop-out, dan membuat orang menggagalkan berminantu orang seni, justru Ery memadukan keduanya. Justru mereka sebagian takut mati, malah Ery sudah lama menyiapkan tempat kembali.
Ery bahkan berwasiat: jika satu masa nanti datang saatnya Allah memanggil, makamkan aku di Ladang Nan Jombang ini. Di antara dua jalan ke galeri dan perpustakaan. Di depan kolom tempat ia duduk-duduk dulu bersama bercengrama. Seolah ia ingin Ladang Nan Jombang ini senantiasa menjadi tanda pengingat tanpa prasasti. Sarat pesan, pengingat tubuh ini dari tanah, kembali ke tanah. “Pesan tubuh pada bumi,” seperti subjek judul biografinya—sebuah tausiyah yang tidak menggurui, tapi menyentak.
GG Datuk Perpatih berbisik saat melayat, wafat bukan kemalangan, tapi rahmat – kasih sayang. Dalam sepatah kata ketika didaulat MakNeh dkk mewakili sahabat dan pelayat seniman budayawan lainnya sebelum jenazah dishalatkan di Masjid Nurul Islam, saya kembali hendak mendudukan keyakinan itu. Kita tidak mati, tapi tuwuffiya artinya diwafatkan – wafat itu artinya disempurnakan rahmat – kasih sayang Allah. Betapa membanggakan diwafatkan, malah yang datang menjemput itu, bukankah Yang Maha Sempurna, Allah SWT?
Upacara melepas Ery sebelum dishalatkan di Masjid Nurul Islam selanjutnya ke makam. Foto- Abdullah Khusairi
Tak harus takut mati diwafatkan, meninggalkan dunia yang indah. Memang diciptakan Rabb “dunia tempat tinggal yang Indah – fi l-ardhi mustaqarrun” dan “banyak hiburan yang melenakan – mata’un “, tapi ada batasnya, itu tidak diberi tahu, kapan semua keindahan dunia itu. Diberi tahu oleh ulama dan mufassir, hidup di dunia ini hanya “satu setengah jam” waktu akhirat. Karenanya siapa yang memungkiri kematian?. Lari darinya, ia sendiri yang menemui, setiap bernyawa wafat, jembatan emas titian batu, setinggi terbang bangau kembali ke kubangannya, sejauh merantau ke kampung juga, dulu mati (belum ada) lalu dihidupkan (dilahirkan), kemudian dimatikan, lalu kembali kepada Rabb.
Karenanya yang patut ditakuti bukan kematian, ibarat perantau pulang, tidak membawa “guna”, demikian pula ada membawa “guna” buah ladang amalan sedikit, takut kita tidak diterima, apalagi tak punya amalan sama sekali. Nanti di kampung, akan ditanya “maa qaddamat wa akhkharat”—apa yang dikerjakan dan apa yang dilalaikan— tidak seimbang atau mana yang lebih.
Engkau Ery, punya kebiasaan berbisik – merenung – berkontemplasi Kamis malam. Siapa tahu engka berkata-kata dengan Rabbmu. Saya terkesima mematut-matut tentang tiga kata yang kau kembangkan: seimbang, berimbang, keseimbangan. Janganlah berhenti pada seimbang, seperti katamu. Buatlah berimbang, lanjutmu. Di situlah adil menemukan rumahnya, saya pikir begitu.
Dan engkau Ery, kami iri, engkau mempraktikkannya. Engkau punya keluarga besar—dan tak sumbing seperti diajarkan Islam, dengan kata kunci adil. Kau tubuhkan di Ladang Tari Nan Jombang dan tumbuh— dan adil, tak memakan yang lain. Engkau berbagi. Fakta, ketika bantuan datang—dan engkau berkata, “Biarlah rekan seniman lain menerima bantuan daerah itu untuk sanggar mereka.”
Di negeri yang sering iri, engkau tidak menganggap seniman lain sebagai rival. Saat Festival Nan Jombang edisi Desember 2025, engkau mengundang Sanggar Barabah. Betapa engkau memuji pendiri dan pemimpinnya selalu menyalakan api kreativitas B. Andoeska—Mak Etek— engkau tanpa takut tersaingi. Engkau tahu, api kreativitasmu tidak akan padam karena juga menyalakan obor orang lain.
Sejak lama saya mengamati keluarga besar engkau Ery. Pastinya ketika Pusat Kebudayaan Minangkabau (PKM)—yang engkau juga pendirinya di samping seniman budayawan lainnya. Kita Irman Gusman sebagai Ketua Umum Badan Pembina karena beliau itu peduli budaya, saya kalian daulat pula sebagai sekretaris umum, Shofwan Karim sebagai ketua umum— dan engkau Ery pengawasnya. Engkau bawa PKM berkantor di Ladang Nan Jombang. Di sana mangkal Hasril Chaniago/ Ketua PKM, Eko Yance/ Seketaris PKM, Rahmi dan Kamil/ Bendahara dan wakil. Banyak budayawan lainnya ada beliau Prof Musliar Kasim engkau daulat sebagai Presiden Kongres Kebudayaan di PKM, ada Prof Nursyirwan Effendi engkau daulat sebagai Organizing Committee Kongres Kebudayaan di PKM dan sejumlah pakar pendukung, termasuk Syarifuddin Arifin, Dr. Hermawan, dan Abdullah Khusairi yang kemudian engkau didaulat dalam msuyawarah menjadi Ketua Umum yang sebenarnya ia segan, adalah untuk menghormatimu dan para senior lainnya. Di sini engkau dan seniman lainnya merancang mimpi.
Dari ruang-ruang mimpi itu lahir gerakan mendirikan Dinas Kebudayaan Sumatera Barat tahun 2016. Ingatkah engkau, kita pernah mengadakan konferensi pers mendadak di Gedung DPRD, he he katanya mempresur anggota dewan yang ragu berdirinya Dinas Kabudayaan dengan alasan “akan sama saja” punya Dinas Kebudayaan atau tidak”. Terjadi debat kita, insya Allah beda dengan adanya Dinas Kebudayaan dalam memajukan kebudayaan. Sudahlah, engkau Ery ada di sana—tenang, tapi tegas. Mandiri, tapi tak menjual harga diri, merdeka di alam merdeka. Kau justru sudah mengembangkan perjuangan itu di Ladangmu ini sejak lama.
Kadisbud Sumbar yang baru Syamsul Bahri menggantikan Kadisbud lama Jefrinal Arifin yang purna bakti. Ketika duduk bersamanya saat bertukar pandangan, dan saat itu kami dikabar kau sudah tiada. Memastikan, tiba-tiba Angga pun menelpon, mengabarkan. Apa isi pandangan? Pandangan pak Kadisbud akrab dipanggil pak Pung itu, bagian dari obsesinya, “budaya termasuk seni tak boleh lepas dari ekonomi”, dengan memberi contoh “Bali”, mengembangkan desa bali hidup dengan ekonominya yang berbasis budayanya.
Pak Pung menyebut program NCH – Nagari Creatif Hub, sebuah program pemerintah provinsi Sumatera Barat, yang berfungsi sebagai pusat dan resort koloborasi fisik dan digital di tingkat kawasan nagari, dengan tujuan memberdayakan mengembangkan kreatif sekaligus ekonomi nagari dengan memanfaatkan potensi nagari itu berbasis surau – masjid.
Aku pikir engkau Ery sudah memberi contoh “ambil contoh ka nan sudah” dalam mempraktekan substansi NCH itu. Resortmu Ladang Tari Nan Jombang – Dance Company, sudah memberi contoh “tidak memisahkan seni dan ekonomi”. Siapa sangkal, engkaulah Ery – contoh, menunjukan “Seni Menghidupi dan Hidup Indah Berseni”. Justru bagimu ku lihat, seni pakaianmu dan hidupmu.
Elegi kami juga kau dulu, sepertinya seringkali negara ini, baru mengakui konsep itu rancak setelah pelakunya pergi. Kini kau sudah pergi, justru engkau diakui seperti sebelumnya kau dianugerahi sebagai maestro.
Kini Ery kau sudah tiada. Sumatera Barat kehilangan. Indonesia kehilangan. Dunia seni internasional kehilangan. Namun disadari dengan buah ladangmu Nan Jombang, kau tidak mati, hidupmu lebih panjang dari usia kalendermu. Seiring perkembangan Landang Tari nan Jombang – Dance Company, ladangmu, engkau tetap dikenang.
Tentu saja mungkin yang paling kehilangan mitra dialog seimbang adalah kami rekananmu yang masih hidup termasuk Angga dan simbol keluarga besar. Di antara kami ada — yang kadang lebih sibuk membangun citra dari pada karya, lebih sibuk menghitung anggaran dari pada keberkahan, lebih sibuk takut mati daripada menyiapkan diri. Mudah-mudahan tersadar kembali dengan mengenangmu yang tulus.
Ery! Engkau telah dijemput — Rabbmu. Engkau punya akidah, ketaatan, dan kesalehan sosialnya. Setelah ini engkau kami sebut Almarhum, artinya yang disayangi Allah. Tak semua orang layak disebut almarhum—yang disayangi Allah. Tapi sesingkat kami tahu, engkau punya energi itu.
Angga! Api kreativitas itu jangan dibiarkan padam. Ladang itu terus rawat tanamannya, seni sebagai kesalehan sosial dan sebagai tanda syukur. Teruskan bersama keluarga besar rawat tanaman di ladadang, sebagai bagian pesan almarhum. Jangan hanya seimbang—buatlah berimbang. Satukan seni, ekonomi dan keluarga. Amatnya, jagalah Ladang dan jagalah PKM yang disediakan sebagai fungsi rumah gadang tempat bertukar pandang pemajuan kebudayaan yang rahmatan lil’alam.
Karena jika Ladang Nan Jombang tetap menyala, maka Ery Mefri belum benar-benar pergi. Ia hanya berpindah panggung—dari dunia yang sementara, ke hadapan Rabb yang Maha Kekal. Dan itu, bukti hidupnya panjang lebih panjang dari usia kalendernya. Dan kita, yang sudah diberi tahu bahwa hidup di dunia fana hanya setengah jam diukur hidup di akhirat, semoga kita tidak menyia-nyiakannya. Teruslah berladang amal kesalehan sosial, dengan rahmat Allah kita meminta tolong kepadaNya. Amin! **
Subuh di Masjid As-Sakinah 14 April 2026 // Yulizal Yunus وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ…
//Yulizal Yunus Langit siang itu terasa lebih teduh dari biasanya. Entah karena cahaya yang jatuh…
// Yulizal Yunus Yayasan SAKO Anak Negeri menggelar rapat strategis tahunan pada Selasa, 7 April…
Cerbung no. 252 // Yulizal Yunus Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan,…
Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang // Yulizal Yunus Pagi itu mentari seperti enggan…
Cerbung no. 250 // Yulizal Yunus Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku.…