Muhammadiyah di Basis Tiga Kultur
/ Yulizal Yunus
PERBAS (Persatuan Bandar Sepuluh) yang dipimpin Buya Samik Ibarahim, tentulah tidak secara insiden rate menyediakan wahana sosialisasi Muhammadiyah pada perantau Pesisir Selatan di seluruh daerah yang dihuni perantaunya. Namun yang jelas sebagai organisasi panguyuban (perantau Pesisir Selatan) yang dipimpinnya, PERBAS efektif menjadi basis tambahan sosialisasi Muhammadiyah, di samping sarana sosialisasi motivasi memupuk kecintaan kepada kampung halaman (hubblwatan) anak Pesisir Selatan.
Sekaligus PERBAS memotivasi anak negeri di rantau untuk mencitai budaya daerahnya yang kaya nilai, di samping keindahan alam dan pantai sepanjang 294 km itu. Justru Pesisir Selatan tak dapat disangkal, dikenal mempunyai peninggalan kekayaan budaya tangible (benda) dan intangible (tak benda).
Terakhir ditemukan 231 naskah klasik dan manuskrip di wilayah Koto XI Tarusan di ruah kaum Sultan Kerajaan/ Kesultanan Tarusan abad ke-17. Dari fenomena penemuan wacana teks klasik dan manuskrip di wilayah kultur ini, mengukuhkan Pesisir Selatan tidak saja mempunyai kekayaaan budaya, tetapi dari perspek itu disebut oleh penemu manuskrip itu Prof. Dr. Pramono (Guru Besar Unand) bahwa “tingkat intelektualitas dan tradisi akademis menulis”, di atas rata-rata Kabupaten dan Kota di Sumatra Barat.
Peninggalan sejarah Pesisir Selatan itu termasuk mahakarya manuskrip yang ditemukan Promono, setelah penemuan naskah dan manusikrip di Inderapura, di Lunang, di Batangkapas lainnya. Tak dapat disangkal bahwa dalam perspektif analisi wacana (text, talk, act dan artefak), Pesisir Selatan memiliki kekayaan budaya benda (tangible) dan tak benda (intangible) yang gemilang. Sudah cukup banyak dicatat dan diregistrasi secara resmi di tingakat Nasional sebagai warisan budaya benda dan tak benda Nasional di daerah. Secara faktual kekayaan budaya masyarakat Pesisir Selatan, menunjukkan masih kuat memegang adat dan agama. Kekayaan ini pantas dilindungi, di mana perlindungannya sudah diteritkan regulasi Perdakab “Pemajuan Kebudayaan“.
Dari perspektif pemerintahan adat dulu, Pesisir Selatan mempunyai nagari-nagari. Nagari-nagari itu terdiri dari bentuk: Nagari Berpangulu dan Nagari Beraja/ Kerajaan/ Kesultanan. Khusus Nagari Beraja dan atau Kerajaan dipimpin raja/ sultan, setidaknya ada 25 jejak sejarah. Dua puluh lima Nagari Beraja/ Kerajaan itu berperan di pentas sejarah perjuangan Nasional (Yulizal Yunus, “Kerajaan-Kerajaan di Pesisir Selatan, Jejak Sejarah Perjuangan Nasional”, 2017:vi). Di tengah dinamika gerakan pengembangan dan pemajuan adat budaya Minangkabau di wilayah Pesisir Selatan ini, organisasi Muhammadiyah hadir pula, sejak lama, berperan sebagai penggerak pembaruan cara berfikir di samping gerakan penguatan paham Islam dan membawa pengaruh besar terhadap pemurnian akidah, gerakan dakwah serta gerakan amal meliputi pendidikan, kesehatan, ekonomi masyarakat nagari.
Gerakan pemajuan adat – budaya di Pesisir Selatan, menyebar secara integral, pada 3 wilayah kultur (budaya) Pesisir Selatan dengan ciri spesifik integralistik. Tiga wilayah kultur Pesisir Selatan ini berada pada 37 Nagari Induk (Nagari Sebagai Desa Adat). Di setiap nagari itu ada jejak sejarah “Geo-Muhammadiyah” di samping sejarah paham keagamaan lainnya aliran tarekat, NU dan Tarbiyah di setiap wilayah kultur itu.
Ketiga wilayah kultur Pesisir Selatan tadi, terangkum dalam wilayah 37 Nagari Induk. Sejak tahun 1920-han, ke-37 nagari itu sudah menjadi basis Muhammadiyah di Pesisir Selatan. Terakhir dalam pengembangan wilayah pelayanan pemerintahan terdepan NKRI, 37 “Nagari sebagai Desa Adat” di Pesisir Selatan itu, dimekarkan menjadi 182 “Nagari sebagai Desa”. Sungguh pun demikian, ke-182 “nagari sebagai desa” itu tetap menjadi satu kesatuan wilayah Masyarakat Hukum Adat yakni 37 nagari induk itu. Sekaligus basis wilayah pergerakan Muhammadiyah di bagian selatan Sumatera Barat ini. Ke 37 Nagari Induk itu terbagi ke dalam 3 wilayah kultur itu, yakni:
- Wilayah Kultur Bayang – Tarusan (Batarusan Bayang, meliputi wilayah budaya Tarusan dan budaya Bayang dan terus ke IV Jurai). Dalam kultur Bayang – Tarusan ini dalam geo-Muhammadiyah melahirkan tokoh di antaranya: dari Bayang, Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan, Daril Ilyas, Angku Haji Munaf Malin Kayo (pernah Ketua Muhammadiyah sekaligus Ketua MUI Pesisir Selatan), Ahmad Kosasih, Goodwill Zubir dan Muslim Tawakal lainnya. Dalam kultur Bayang – Tarusan ini terdapat 21 Nagari Induk, yakni:
- Nagari Siguntur (Koto XI Tarusan, Nagari Beraja),
- Nagari Taratak Sungai Lundang (Koto XI Tarusan, Nagari Beraja) mempunyai kisah legendaris Sultan Kalangkabut berkaitan Cerita Kota Padang, Kisah Ibu Ber-susu Empat, Kisah Puti-puti dan Raja Indrapura lainnya.
- Nagari Barung-barung Balantai (Koto XI Tarusan, Nagari Beraja) punya Tradisi Ulama Tradisional “Bakatik” (Khutbah Adat-Syara di Pasar yang rami).
- Nagari Duku (Koto XI Tarusan, Nagari Beraja) basis kaum Sultan Kerajaan Tarusan di bawah payung Dt. Bagindo Sutan Basa.
- Nagari Batuhampar (Koto XI Tarusan, Nagari Beraja), punya kisah batu patah,
- Nagari Nanggalo (Koto XI Tarusan, Nagari Beraja) punya sejarah tokoh M. Zen (alumni Stovia) tokoh yang namanya dipakai jadi nomenklatur Rumah Sakit di Painan, sejarah ulama pejuang Sultan Thaha di Jambi makamnya terdapat di mihrab Masjid Raya, Kisah Mandeh nomenklatur Mandeh Resort, Kisah Nanggombang mengalahkan raja Sipatoka (Raja Portugis), Kisah Puti Andam Dewi dan Kisah Puti Sari Makah lainnya,
- Nagari Sungai Pinang (Koto XI Tarusan, Nagari Beraja),
- Nagari Ampang Pulai (Koto XI Tarusan, Nagari Beraja), punya sejarah Kerajaan Sungai Nyalo yang pernah dipimpin Raja Perempuan cucu Adityawarman Puti Salarai Pinang Masak, Kisah Burung Garuda Kepala Tujuah, Kisah Mandeh Rubiah dan Puti Bungsu, Kisah Batu Kalang rangkaian kisah Syekh Ibrahimsyah sehiliran Batang Tarusan (disebut juga Batang Barus, karena hulunya Sungai Barus di Solok) yang kemudian Syekh mendirikan Kerajaan Barus di Sumatera Utara.
- Nagari Kapua (Koto XI Tarusan , Nagari Beraja),
- Nagari Pasar Baru Bayang,
- Nagari Gurun Panjang, Bayang melahirkan tokoh Muhammadiyah di antaranaya Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan dan Dasril Ilyas lainnya.
- Nagari Talaok, Bayang, punya sejarah Ulama Syekh Lubuk Aur,
- Nagari Koto Barapak Bayang, sentra ulama tarekat di Kampung Kapujan (sekarang nagari mekaran) berubah total menjadi Muhammadiyah. Di Nagari ini dikenal juga tokoh agama Angku Bonjo dan sebelumnya banyak ulama tarekat.
- Nagari Puluik-Puluik Bayang, punya sejarah Kerajaan Puluik-puluik, Sejarah Perang Bayan 100 tahun berbasis Surau Syekh Buyung Muda Puluik-Puluik (teman Syekh Burhanuddin belajar ke Aceh berguru dengan Syekh Abdul Rauf Singkel) dan sejarah ulama lainnya yang lebih menarik berkaitan cerita Jembatan Aka sebagai destinasi wisata alam.
- Nagari Koto Ranah Bayang,
- Nagari Muaro Air, Bayang,
- Nagari Pancuang Taba Bayang, punya sejarah Syekh Muhammad Dalail bin Syekh Muhammad Fatawi pemimpin ulama tua moderat dalam Rapat 1000 ulama 19 Juli 1919 di Padang, juga penulis besar diakui Belanda bukunya best seller (kepustakaan pejuang abad ke-20): “Taraghub ila Rahmatillah”, yang makam ulama ini terdapat di arah mihrab Masjid Ganting Padang.
- Nagari Painan (IV Jurai), cerita monografik, punya sejarah perjanjian Painan (Painan Contract) rentetan Sandiwara Batang Kapas, sejarah Pulau Cingkuk Pelabuhan Emas, sejarah surau tua Painan berkaitan Syeikh Burhanuddin Painan abad ke-16 sebelaum Syekh Burhanuddin Ulakan.
- Nagari Salido (IV Jurai), punya sejarah Sanlaida (Pintu Gerbang), sejarah Kerajaan Lumbung Ameh (Emas), kisah Naga Induk Emas berkaitan Tambang Emas Salido Kecil lainnya, sejarah tokoh Munaf Malin Kayo pernah Ketua PDM Pesisir Selatan, juga sebelumnya Pendiri PGAN 6 Tahun Salido yang kemudian berubah menjadi MAN Salido.
- Nagari Tambang (IV Jurai), punya cerita tentang Tambang lainnya
- Nagari Lumpo (IV Jurai),
- Wilayah Kultur Banda X (Bandasepuluh yang pernah mempunyai organisasi perantau PERBAS itu) terdapat 11 Nagari dalam wilayah 10 raja banda (bandar/ Kota Pelabuhan/ Pantai). Pengaruh paham keagamaan semula tarekat bergeser ke sentra paham Muhammdiyah. Di antara tokoh Muhammadiyah yang lahir dalam kultur ini cukup banyak, di antaranya dari Batangkapas Buya Adnas Rauf di Pasar Kuok, H.Abdurrahman (pernah pengurus PWM), H. Zamzainir, S.H (pernah Ketua PDM Pesisir Selatan), Asrul, Trio Muhammadiyah (Nagari Taluk) Pakiah Syahbuddin – Pakiah Yunus dan M.Alir, Basyaruddin (Nagari Taratak), Syafrial Dt. Bandaro Itam (Nagari Kambang), pendiri Muhammadiyah Samik Ibarahim, Afrizal (Nagari Lakitan), Ristapawa Indra, Murisal dan Lukman (Nagari Palangai) lainnya. Sepuluh bandar dalam kultur Banda-X itu, terdapat 11 Nagari Beraja, disebut Rusli Amran dalam bukunya “Sumatera Barat hingga Plakat Panjang (1980:129) adalah:
- Nagari Batangkapas Koto Salapan (mekar 2 Nagari Induk: Nagari IV Koto Hilir dan Nagari IV Koto Mudik) memiliki sejarah ulama tokoh Muhammadiyah Arwan Kasri muballigh kondang dan pernah menjadi Ketua DPRD Provinsi Sumatera Barat (asal Kampung Tuik), H. Zamzainir, S.H (pernah Ketua PDM Pesisir Selatan) asal IV Koto Mudik. Adril Dt Bandaro Kuniang (pernah Sekdakab Pesisir Selatan dan Solok Selatan, salah seorang pendiri Masjid Taqwa Muhammadiyah di Jl. Baru IV Koto Hilir bersama adiknya Asrul dkk.).
- Nagari Taluk, punya trio tokoh Muahmmadiyah: (1) Pakiah Budin, (2) Pakiah Yunus dan (3) M.Alir. Diperkuat tokoh barisan keluarga Tukang Jibun (mertua M.Alir), keluarga Jatar (Koto Panjang), keluarga Ramli (Tanjung Kandis), Ayek Tikar (Tanjung Kandis).
- Nagari Taratak, sentra Muhammadiyah terakhir digerakan Basyaruddin dkk.
- Nagari Surantih,
- Nagari Ampiang Parak,
- Nagari Kambang, melahirkan tokoh Muhammadiyah Syafrial Dt. Bandaro Itam sebelumnya Marizal Umar anak Rajo Kambang lainnya
- Nagari Lakitan, di antara tokoh Buya Samik Ibrahim (pendiri Muhammadiyah), Afrizal Ketua PWM selanjutnya. Sentra kuat Muhammadiyah ditandai berdirinya sekolah Muhammadiyah dan Masjid Muhammadiyah oleh Samik Ibrahim.
- Nagari Palangai, sentra tokoh Muhammadiyah di antaranya Ristapawa Indra, Murisal, Aziz, Lukman lainnya.
- Nagari Sungai Tunu, dan
- Nagari Pungasan.
Wilayah Banda-X ini, “kalang ulunya” Bungo Pasang (IV Jurai) dan “Tumpuannya” Air Haji.
- Wilayah kultur Indrapura meliputi wilayah budaya Air Haji yang satu sumur dua galuak dengan Kerajaan Tigo Selo versi lain: Inderapura (Kerajaan/ Rajo Ibadat), Tapan (Rajo Adat) dan Lunang (Rajo Batin/ Rajo Alam). Punya jejak sejarah raja/ sultan Kesultanan Indrapura dan ulama penulis manuskrip Al-Qur’an dan jejak sejarah Muhammadiyah yang berkembang sampai ke Bengkulu. Wilayah kultur Indrapura ini punya 5 nagari, yakni:
- Nagari Air Haji Linggo Sari Baganti, punya kisah orang rupit dan “nagari beraja”.
- Nagari Inderapura, punya sejarah nagari raja syara’ punya pelabuhan lada Samudrapura pernah berfungsi embarkasi haji waktu dahulu. Memiliki sejarah besar Kesultanan Inderapura diperkuat Penghulu Rangkayo/ Menteri Nan-20, terdiri dari: 6 di hulu, 8 di tengah dan 6 di hilir. Juga punya sejarah asal usul Fatmawati (pahlawan nasional tokoh Aisiyah di Bengkulu, ibu dari Megawati Soekarno Putri) yang ibunya dari Kesultanan Indrapura juga ayahnya Hassandin keluarga yang tiada henti menghidupi dan menggerakan amal Muhammadiyah serta membawa Muhammadiyah ke Bengkulu. Di Inderapura termasuk kuat pengaruh Muhammadiyah ditandai berdiri Masjid Muhammadiyah.
- Nagari Tapan Basa IV Balai, punya sejarah Orang Tua Machudum dan kisah Penghulu Basa IV Balai sebagai Raja. Termasuk sentra Muhammadiyah, ditandai di Pasar berdiri Masjid Muhammadiyah.
- Nagari Lunang, Lunang Silaut, punya sejarah makam raja-raja Minangkabau di antaranya makam Puti Bungsu, makam Bondo Kanduang, makam Cindua Mato, makam ulama Malak Ibrahim – dari Maroko, Mandeh Rubiyah sebagai Raja Batin di wilayah kultur ini.
- Nagari Silaut, Lunang Silaut, punya kisah Singa berkaitan Singapura, wallahu a’lam!