Geo-Muhammadiyah di Pesisir Selatan (1)

Retrieval Jejak Tokoh

/Yulizal Yunus

Muhammadiyah di Pesisir Selatan, Sumatera Barat, bagaimana awal berdiri, siapa-siapa tokoh pelopor sampai ke pase kemajuan luar biasa sekarang di nagari-nagari? Ini, bagian mimpi dan obsesi hendak menulis Geo-Muhammadiyah di Pesisir Selatan. Mimpi dan obesesi bagian memori persisten, storage dan siap retrieval.

Mimpi itu bukan sekedar muncul di alam bawah sadar dalam fase tidur REM (Rapid Eye Movement) yang bubar saat bungun tidur. Justru mimpi ini sudah menjadi obsesi persisten (yang muncul terus menerus) dan memaksa gerakan seiiring obsesi sempurna (yang mendorong pikir dan kerja melaksanakan yang menjadi buah mimpi). Lebih jauh mimpi dan obsesi masuk menjadi memori ecoding (terkode) dan storage (tersimpan ke otak menguatkan koneksi simpatik antar neuron) dan memori retrieval (information retrieval system/ sistem temu balik informasi/ siap akses informasi yang tersimpan) saat dibutuhkan.  

Tak dapat dimungkiri, memori tadi secara integral kembali menjemput mimpi dan obesesi, Secara integral memori retrieval saya hendak menulis Geo-Muhammadiyah Pesisir Selatan kembali tertayang, ketika Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sumatera Barat Buya H. Dr. Bakhtiar membawa saya turun ke Lakitan.

Terun ke Lakitan menghadiri event Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspimda) Muhammadiyah Kabupaten Pesisir Selatan. Juga dihadiri tokoh Muhammadiyah asal Pesisir Selatan di antaranya: Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan, Apris Yaman, Dr. Murisal, Prof. Ristapawa Indra, di samping tokoh-tokoh Muhammadiyah Sumatera Barat lainnya itu. Event Muspim ini diselenggarakan dan dibuka Sabtu 10 Juni 2023 di Madrasah Tsanawiyah Muhammadiyah (MTsM) Lakitan Pesisir Selatan (Pessel). Sentra Muhammadiyah ini adalah kampungnya salah seorang pendiri utama Muhammadiyah di Selatan Sumatera Barat ialah ulama besar Samik Ibrahim (Yulizal Yunus, www.pikir.id 10 Juni 2023).

Artinya, event Muspimda Muhammadiyah Pesisir Selatan tadi menjadi momentum retrieval ((information retrieval system – sistem temu balik informasi) mengenai Muhammadiyah di Pesisir Selatan. Momori itu kembali muncul, dimulai dari jejak sejarah Muhammadiyah di Nagari Taluk, kampung saya dibesarkan. Ada tiga fenomena Muhammadiyah di Pesisir Selatan yang menjadi memori retrieval saya.

Pertama, teringat fenomena masa kesil, bagaimana mapping jejak “trio keluarga ayah saya” disebut di nagari sebagai “kaum muda” (ulama modernis) dengan identitas Muhammadiyah, berhadapan (koflik) dengan “kaum tua” (ulama tradisional) dengan identitas orang tarekat: Satari dan Naqsyabandi. Trio itu ialah (1) Pakih Budin (nama lengkapnya Syihabuddin, saudara ibu dari ayah saya: Pakiah Yunus) seorang ahli “Kitab Kuniang” (Arab Gundul), (2) Pakiah Yunus (nama lengkapnya Muhammad Yunus bin Taraan bin Imam Tia) juga ahli Kitab Kuniang dan (3) saudara sepupu ayah saya M. Alir seorang cadiak pandai di nagari. Mereka dengan beberapa orang lainnya pejuang Muhammadiyah, gigih sosialisasi pemurnian akidah, mengembangkan dakwah, pendidikan dan amal sosial Muhammadiyah di Nagari itu. Perjuangannya tanpa label Muhammadiya, amat berpengaruh. Saking hebat pengaruh pergulatannya mengembangkan paham keagamaan Muhammadiyah di Nagari itu, sampai-sampai seangkatan mereka dicap “golongan yang tidak manigo hari pasca kematian”. Artinya orang Nagari Taluk menyebut kelompok trio Muhammadiyah ini, “keluarganya wafat disebut mati anjing saja”, yakni tidak ada helat “meniga hari” dan atau kenduri berbilang hari lainnya, mulai dari kenduri pasca kematian tiga hari (meniga hari), “mendua puluh satu hari”, “me-empat puluh hari”, “menyeratus hari” dan atau kendurian “balapeh-lapeh” (melepas, mengakhiri helat kematian).

Kedua, saya teringat kegemilangan Muhammadiyah saat event memperingati “Hari Jadi ke-60 Tahun Muhammadiyah” di Pesisir Selatan yang diisi Seminar di Lakitan 15 September 2001. Ketika itu “tripartit” : saya (Yulizal Yunus) dari aspek budaya, Zaitul Ikhlas Saad Rajo Intan (aspek agama) dan Yuzirwan Rasyid Dt. PGP Gajah Tongga (aspek ekonomi) menjadi Tim Ahli Bupati Pesisir Selatan era Darizal Basir Bupati Pesisir Selatan dua periode (1995-2000 dan 2000-2005). Pada event itu Bupati diminta memberi sambutan. Saya oleh Bupati diminta membuatkan teks sambutan sekaligus makalah keynote-speaker’s Bupati. Fenomena itu memperkuat kembali memori retrieval (information retrieval system) saya, tentang informasi Muhammadiyah di kampung saya, di masa kecil aktif mengkuti trio keluarga ayah saya tadi dalam amal Muhammadiyah.

Ketiga, event Muspimda Muhammadiyah Pesisir Selatan tadi (10-13 Juni 2023) seakan membawa saya kepada memori lama Muhammadiyah di Pesisir Selatan (meskipun saya belum lahir) ketika digerakan oleh ulama besar Buya Samik Ibrahim dari Lakitan ke seluruh penjuru nagari di Pesisir Selatan bahkan sampai ke wilayah Provinsi Sumatera Barat (dahulu Sumatera Tengah). Saya tidak punya catatan banyak dan tidak pula banyak membaca wacana text tua tentang Muhammadiyah di Pesisir Selatan.

Betapa dulu diinformasikan tahun 1938, Buya Samik Ibarahim ketika memimpin Majelis Pengajaran Muhammadiyah dalam kawasan Sumatera Tengah (meliputi wilayah kultur Sumatera Barat dan Jambi). Catatan tua itu saya belum menemukannya, termasuk kekayaan konten “Majalah TJUATJA (Tjuraian dan Tjatetan – baca CUACA)” yang diterbitkan Buya Samik Ibrahim. Kita belum dapat membayangkan bagaimana Majalah itu menayangkan kronik Geo-Muhammadiyah di Sumatera Tengah, gerakan pemurnian akidah, dakwah, gerakan amal Muhammadiyah mulai dari pendidikan dan pengajaran, ekonomi dan kesehatan di wilayah Sumatera Tengah ketika itu.

Belum lagi betapa Buya Samiki Ibrahim menggendong Muhammadiyah dalam berbagai usaha dagangnya seperti gerakan Koperasi “KOPAN” (Koperasi Oentoek Pemajuan Anak Negeri), bahkan sampai digendong dan disosialisasikan Muhammadiyah di Pesisir Selatan dan para perantaunya ketika ulama ini memangku jabatan Ketua PERBAS (Persatuan Bandar Sepuluh) sebuah organisasi perantau Pesisir Selatan tahun 1950-han. (Bersambung ke-2)

admin

Recent Posts

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 248

Subuh di Masjid As-Sakinah 14 April 2026 // Yulizal Yunus وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ آيَةَ…

2 days ago

Bangga Susi Fitria Dewi Guru Besar

//Yulizal Yunus Langit siang itu terasa lebih teduh dari biasanya. Entah karena cahaya yang jatuh…

1 week ago

SAKO Tahun 2026 dengan Program Unggul

// Yulizal Yunus Yayasan SAKO Anak Negeri menggelar rapat strategis tahunan pada Selasa, 7 April…

1 week ago

Surat ke Surga

Cerbung no. 252 // Yulizal Yunus Di tengah majelis ku menulis surat. Dalam tangis tertahan,…

2 weeks ago

Kasih Surga

Cerbung No. 251 Ku Tanya Merapi Singgalang // Yulizal Yunus Pagi itu mentari seperti enggan…

2 weeks ago

Kau Yang di Surga

Cerbung no. 250 // Yulizal Yunus Pagi di pantai nirwana ini lembap dan temaram—setemaram hatiku.…

2 weeks ago