Surat Kabar Harian Singgalang, 10-19 September 2009, Hikmah Ramadhan (10 Artikel Bersambung)
// Yulizal Yunus
Dalam hiruk pikuk orang mampu berbelanja mempersiapkan lebara, jeritan kaum dhu’afa terutama fakir dan miskin sayup terdengar. Jeritannya, “…ntak gendong ke mana-mana / susah tu / kasihan tu…. ”. Siapa yang menyahuti?. Di perapatan jalan jeritan anak jalanan yang dikomandoi “boss ‘reman”. Di gerbang-gerbang masjid sa’at jum’atan. Peminta-minta bukan lagi sekedar suara berhiba-hiba, bahkan setengah menjerit. “Kasih sedekah pak”. Bahkan ada yang lebih simpatik dilihat sepintas, seorang ibu muda di gerbang kantor, menggendong balita, mencegat si Bapak pulang kantor. “Pak, lai ado pitih Rp5000 pak, kasih saya pak/ saya tertinggal pak paja tadi pak/ pitih ndak ado ongkos oto pulang”. Meyakinkan caranya. Sang Bapak baru keluar ngantor, kasihan. Langsung tanpa banyak tanya, memberi, malah lebih. Ternyata, sialnya ditemukan lagi kasus serupa mungkin orang yang sama di kantor teman pula. “Sang Bapak tertipu rupanya, peminta-minta cara modern, targetnya sang Bapak-Bapak/ Boss”.
Mereka yang peminta, dipastikan miskin. Mereka tak berdaya. Sikap mau meminta-minta tanpa pertimbangan harga diri, indikasi ketidak berdaya. Mereka tidak saja miskin harta, tapi juga miskin sikap mental dan harga diri. Tega menjatuhkan martabat manusia. Namun ada banyak si miskin yang punya harga diri tidak mau meminta-minta walau dalam situasi kemiskinan bagaimana pun.
Si miskin tanpa menghiraukan marabat dan harga diri dengan melacurkan diri meminta-mita, umat melihatnya serba susah. Selalu memberi peminta-minta itu, bisa terpeleset justru mendorong mereka candu meminta-minta. Suka jalan pintas dengan cara meminta-minta. Tidak mau lagi bekerja. Tak percaya kerja keras akan menghidupinya. Hidup penuh ketergantungan dan tidak akan bisa lagi mandiri. Bahkan di ibu kota yang memberi peminta-minta beresiko pelanggaran hukum. Susah benar melihat yang miskin peminta-minta. Kalau tidak diberi, terasa pilu melihat susah tergurat di wajahnya.
Si miskin yang tidak mau meminta-minta, celakanya tidak banyak diketahui tingkat ke-dhu’afa-kannya. Bentuknya kaya juga. Tetap yakin dengan usaha keras, meski pun sering tidak beruntung. Penghasilan tidak berimbang dengan tenaga yang dikeluarkan. Lihat pegawai golongan satu, penghasilan kecil, pembantu rumah tangga, tuntutan keluarga besar. Bahkan ada di kalangan guru dan muballigh. Ironis, ia mendorong jema’ah berzakat, ia sendiri tak mampu berzakat. Jangankan berzakat makan saja tidak cukup. Bahkan penghasilan tidak mencukupi. Kalau tergantung dengan pemberian jamaah saja, ada yang berpengahasilan di bawah upah minimum. Bayangkan, kalau anak banyak pula. Si miskin dengan anak banyak, topang tindihlah kesusahan yang ditanggung. Karena itu Nabi saw, bedo’a: “minta dijauhi banyak anak sedikit rezki”.
Si miskin yang kebutuhannya besar, apalagi fakir, kondisi pisik tidak bisa bekerja keras mecari rezki memenuhi kebutuhan. Juga gharim (terjebak hutang), dipastikan setiap saat menjerit. Karena hidup selalu dalam akrobatik. Dalam kondisi seperti inilah, zakat fitrah amat penting. Zakat dikumpulkan amil (pekerja pengumpul zakat) dan didistribusi kepada yang berhak asnaf yang delapan, termasuk si miskin, fakir dan gharim. Tujuan zakat fitrah yang wajib bagi semua orang mulai dari bayi baru lahir – sampai orang tua renta adalah untuk “thu’mah lim masakin” (kebutuhan makan orang miskin) pada hari raya. Artinya fungsi zakat fitrah “paantokan tangih” (meredakan tangis) di hari raya. Karenanya, yang mampu, tidak ada alasan untuk tidak berzakat fitrah. Siapa yang tidak berzakat fitrah, diingatkan Nabi saw “jangan mendekat ke tempat shalat kami”. Ayolah berzakat fitrah meredakan tangis dan sahuti jeritan si miskin. ***