
Di Rumah Duka Ery Mefri. Foto Yeyen Kiram
Hari Senin siang, 15 Februari 2026, sejumlah seniman budayawan mewakili Forum Seniman Sumatera Barat, melangkah menuju dua rumah duka dengan satu niat: membawa sitawa sidingin. Zamsami atas nama forum memberi pengantar, mengingatkan bahwa kehadiran bukan sekadar formalitas takziyah, tetapi ikhtiar menyejukkan hati yang ditimpa kehilangan. Dalam tradisi Minangkabau, sitawa sidingin bukan hanya simbol penawar duka, melainkan juga tanda kebersamaan, empati, dan penguatan batin.
Acara diisi dengan sedekah kaji. Sedekah tak sama dengan infak. Sedekah ada dimensi menyantuni orang berduka. “Kaji” bukan semata membaca kaji, tetapi juga membincang dan berbincang, menggali makna di balik peristiwa. Nara sumbernya budayawan akademisi, Yulizal Yunus, didaulat Dr. Hermwan dan Yeyen Kiram. Ia mengurai duka menjadi pelajaran, dan kehilangan menjadi cahaya pemahaman. Setidaknya ada tiga hal yang disampaikan: tentang dua orang yang wafat, makna wafat itu sendiri, dan pembelajaran bagi yang hidup.

Di Rumah Duka Ery Mefri. Ada Angga, Ical, Nomi, Gebi dan keluarga lainnya. Foto Yeyen Kiram
Dua Sahabat Seniman yang Wafat
Almarhumah Wirda, ibunda dari koreografer tari Joni Andra (Impressa Dance Company), wafat pada 9 Februari 2026 di usia 84 tahun. Seorang guru yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Setelah purna bakti beliau melanjutkan pengabdian sebagai motivator keluarga dan pembimbing masyarakat di Komplek Jondul Rawang, Padang. Di lingkungannya yang banyak dihuni para mualaf, Ibu Wirda menjadi penuntun yang sabar, menghadirkan keteduhan dalam dakwah yang membumi. Itulah bagian dari kesalehan sosial dan amalnya, sampai akhir hayat didera sakit paru.

Di Rumah Duka Joni Andra. Foto Yeyen Kiram
Anak ketiga ibu Wirda yang sangat disayangi Joni Andra kerap ibunda meminta dimandikan. Joni Andra, seniman tari dan koreografer mendedikasikan dirinya sebagai seniman tari. Kesalehan sosial sang anak di bidang seni seakan menjadi persembahan abadi untuk ibunya—untuk masyarakat, bangsa, dan negara.
Dua hari berselang, 11 Februari 2026, wafat pula Maestro Koreografer Ery Mefri, owner Ladang Tari Nan Jombang – Dance Company. Usianya 68 tahun. Hidupnya adalah seni, dan seni adalah hidupnya. Dari penciptaan tari dan latihan pada Gedung Manti Menuik di Ladang Tari Nan Jombang, karyanya melintasi panggung nusantara dan dunia. Ia bukan sekadar membawa tari ke dunia internasional, tetapi juga membawa Minangkabau ke panggung global. Itu pula kesalehan sosialnya—mengangkat marwah budaya bangsa dan suku Minang melalui keindahan gerak, gerik dan garak.
Tentang Makna Wafat
Yulizal Yunus menegaskan, kematian bukan kemalangan, melainkan rahmat—kasih sayang Allah. “Wafat” bermakna disempurnakan kasih sayang di sisi-Nya. Karena itu, mereka yang telah wafat disebut almarhum (untuk laki-laki) dan almarhumah (untuk perempuan), yang berarti “yang disayangi Allah.” Ungkapan ini tidak sama dengan istilah sehari-hari seperti “mandiang-ako” yang bermakna boleh dilupakan, sejak dimakamkan. Sedangkan almarhum(mah) untuk selamanya, masa hidupnya akan lebih panjang dari usia kalendernya. Tidak semua orang serta-merta layak disebut almarhum atau almarhumah; ada jejak kesalehan, ada ladang amal yang menjadi saksi.

Di Rumah Joni Andra (kaca mata di dada). Foto Yeyen Kiram
Ibu Wirda dengan pengabdiannya sebagai guru dan pembina mualaf, serta Ery Mefri dengan dedikasinya pada seni dan budaya, telah menanam benih kebaikan di ladang yang berbuah kesalehan sosial masing-masing. Dengan rahmat Allah keduanya disempurnakan kasih sayang Allah, dan diperkenankan panen raya hasil kesalehan sosialnya, diridhai, dan ditempatkan di surgaNya.
Pembelajaran bagi yang Hidup
Kehidupan dunia yang fana ini menuntut social movement yang tak boleh berhenti dalam daily life. Apa pun profesi dan panggilan kita, jika ditekuni dengan niat yang lurus, ia akan berbuah kesalehan sosial. Seni, misalnya, bila digeluti dengan kesungguhan, dapat menjelma sebagai jalan pengabdian dan ladang amal.
“Seni itu indah,” ujar Yulizal Yunus. Ulama di Minangkabau, bahkan ulama dunia, memahami itu. Tidak ada ulama besar yang mengabaikan seni—terutama sastra. Hampir seluruh ulama Minangkabau menulis syair, wujud seni suara dalam aspek sastra. Bagi mereka, seni adalah jalan menuju Yang Maha Indah, sebab Allah Maha Indah dan menyukai keindahan.
Namun seni yang agung bukan sekadar tontonan. Ia setidaknya memuat tiga nilai: pengajaran yang indah (mau’izhah hasanah), hikmah (kearifan), dan irsyadah (tuntunan ke jalan yang benar dan lurus). Seni, dalam pandangan ulama, tidak saja tontonan tetapi menuntun orang menuju Tuhan Yang Maha Indah.
Kiranya dua tokoh yang meninggalkan kita ini menginspirasi untuk terus meningkatkan kesalehan amal. Dunia yang fana ini adalah ladang yang dipenuhi tanaman berbuah lebat, sebagai tanda syukur tanaman terahadap tuannya yang menanam dan merawat. Apa yang kita tanam hari ini akan kita tuai kelak. Ibu Wirda menanam dalam pendidikan dan pembinaan umat. Ery Mefri menanam dalam seni dan kebudayaan. Keduanya telah menunjukkan bahwa hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi dan bersyukur kepada Yang Maha Syakur (sumber inspirasi orang bersyukur).

Yeyen Kiram bersama Keluarga Ery Mefri
Pada Dua rumah duka itu pun menjadi dua rumah cahaya yang menginspirasi. Dari keduanya, kita belajar bahwa wafat bukan akhir dan bukan “malang”, melainkan penyempurnaan kasih sayang. Dan bagi yang masih hidup, tugasnya jelas: terus bergerak, berkarya, dan berbuat indah—agar kelak kita pun disempurnakan dalam kasih sayang-Nya Yang Maha Indah, Allah SWT. Amin!.